
Nilai ujian nasional telah diumumkan, dan hari ini adalah hari yang sangat ditunggu-tunggu oleh banyak siswa. Mereka berharap mendapatkan yang terbaik agar bisa melanjutkan ke SMA impian mereka masing-masing.
Setiap siswa yang ingin melihat hasil nilai ujian nasional nya diwajibkan untuk datang ke sekolah membawa kartu pelajar.
Anders yang saat itu memutuskan bangun siang karena ia tahu akan mendapatkan nilai yang memuaskan. Anders merasa kali ini yang harus bertindak adalah Tuhan. Ia merasa akan marah kepada Tuhan apabila tidak mendapat nilai yang diinginkan olehnya.
Ia berjuang mati-matian dalam satu bulan lamanya untuk fokus belajar dan menyiapkan semua yang dibutuhkan ketika ujian nasional berlangsung.
Memang ia tidak seperti teman-temannya yang lain yang mengikuti banyak sekali kelas tambahan atau les pribadi.
Anders lebih memilih untuk belajar mandiri di rumahnya ditemani oleh anjing Husky berwarna putih-hitam miliknya.
Ia bisa merasakan ketenangan dan fokus ketika tidak ada yang mengganggunya. Maka dari itu, ia bilang kepada mamanya untuk tidak membuka pintu kamar atau memanggilnya di saat jam belajarnya berlangsung.
Anders adalah laki-laki yang pintar dan rajin dan bisa dengan mudah untuk melakukan manajemen waktu dengan baik.
Namun, anehnya adalah ia tidak memiliki mata pelajaran favorit. Dalam benaknya, hal itu tidak penting. Tidak seperti kebanyakan orang yang akan menjadikan salah satu mata pelajaran favorit, sehingga orang itu akan memiliki minat yang tinggi dan mendapatkan nilai yang memuaskan.
__ADS_1
Anders, menyamaratakan semua mata pelajaran yang ia dapat, khususnya untuk ujian nasional ini. Ia menganggap bahwa semua mata pelajaran sama saja. Tidak ada salah satu yang memberatkan, dan tidak juga menganggap salah satu terlalu mudah.
Ia tidak ingin beratnya pelajaran membuat ia tertekan dan kehilangan fokus untuk belajar. Dan ia tidak ingin menyepelekan salah satu pelajaran sehingga ia tidak ingin belajar lagi.
Beranjaklah ia dari tempat tidurnya, tidak ada sama sekali terlihat kegelisahan di dalam wajahnya. Seyakin itu Anders dengan hasil perjuangannya selama satu bulan penuh ini.
“Anders, nanti jangan lupa sarapan sebelum ke sekolah!” teriak mamanya.
“Oke, bos.” sahut Anders sedikit berteriak.
Tanpa berpikir panjang, Anders langsung menghabiskan semua yang ada di depannya. Ia makan dengan begitu lahap. Hingga ponselnya berdering.
Suara nada panggilan masuk terdengar, ia pun dengan cepat segera menuntaskan proses makannya dan ingin bergegas mengambil ponselnya.
Ia pun langsung berlari menuju kamarnya kembali dan meraih ponselnya.
Incoming call – Drey
__ADS_1
Panggilan itu ternyata dari sahabatnya, Drey.
“Dimana sekarang?”
“Masih di rumah, baru bangun tidur. Kenapa?”
“Lo kagak mau ke sekolah hari ini buat nengok hasil ujian kemarin?” tanya Drey.
“Habis ini gue berangkat. Tunggu aja di kelas.”
“Oke.”
Setelah mendapat panggilan itu, Anders langsung mengambil handuknya dan memutuskan untuk mandi dan bersiap-siap secepat mungkin.
Tapi yang namanya seorang Anders, ketika di kamar mandi akan cukup lama.
Karena ia ketika mandi juga memikirkan banyak hal terkait masa depannya, apa yang akan dilakukan setelah masuk di SMA impiannya, hingga apa saja yang akan ia lakukan setelah lulus dari SMA itu.
__ADS_1