
Soto Banjar yang kali ini dimasak oleh keluarga Anders merupakan makanan khas Kalimantan Selatan sesuai dengan namanya.
Ciri khas dari Soto Banjar dengan soto yang lain yang ada di Indonesia adalah kuahnya yang nampak keruh karena dicampur dengan susu kental manis atau telur.
Selain itu, yang unik dari soto ini adalah adanya tambahan wortel, sedangkan di soto dari berbagai daerah lain tidak akan ada potongan wortel di dalamnya.
Untuk memasak dengan porsi sebanyak empat orang, Lisa menghabiskan biaya sekitar 70.000 rupiah untuk keperluan bahan masakannya.
Alex yang dari tadi sibuk mengiris tipis tujuh siung bawang putih, lalu melanjutkan tugasnya yaitu menggoreng bawang putih itu.
Ayam kampung yang dibawa oleh Anders sudah dipotong menjadi empat bagian oleh Lisa kemudian dicuci oleh Anders.
Sesuai dengan perintah mamanya, Anders pun selesai mencuci langsung merebus ayam itu di dalam panci hingga terasa empuk.
Lisa bertugas menghaluskan banyak sekali bumbu-bumbu yang dibutuhkan dengan air. Setelah itu, ia pun menumis bumbu halus, pekak, kayu manis, cengkih, dan kapulaga menggunakan minyak sampai harum.
Setelah aroma tercium begitu harum, Lisa pun memasukkan bumbu halus tersebut ke dalam rebusan ayam.
“Anders, aduk sampai rata. Jangan kemana-mana, bilang mama kalau udah mendidih.” perintah Lisa kepada Anders
Di tengah proses menunggu mendidih, Lisa pun menambahkan garam, gula pasir, dan kaldu bubuk secukupnya ke dalam air rebusan ayam itu.
Rasa yang pas bagi Lisa seperti dulu ketika ia pernah membeli Soto Banjar langganannya.
“Sayang, sudah bisa diangkat ya kalau udah mendidih.”
“Oke, ma.”
__ADS_1
Alex yang saat ini sedang menata mangkuk, juga berusaha menata ketupat, soun, perkedel dan telur ayam seindah mungkin. Dan tidak lupa memberi space di tengah untuk ayamnya nanti.
Lalu dimasukkannya Ayam bersamaan dengan kuah soto yang masih panas, aroma harum memenuhi dapur kala itu.
Bawang goreng yang sudah Alex kerjakan tadi, kemudian ditaburkan ke dalam mangkok itu.
Tak lupa untuk step terakhir, Lisa menambahkan perasan jeruk nipis agar terasa lebih segar.
Soto Banjar pun siap dihidangkan, mereka semua membersihkan tangannya dan berganti pakaian yang lebih bersih.
Begitu juga dengan Syifa diajak oleh mamanya untuk membersihkan diri. Anders yang sudah mandi terlebih dahulu memindahkan mangkok soto itu ke ruang makan.
Ia menunggu di sana sendirian, sesekali ia memakan kerupuk udang yang ada di meja makan.
Tidak lama hingga mamanya keluar dan kembali lagi ke ruang makan.
“Belum ma, masih lagi enak makan kerupuk.”
Syifa yang melihat kakaknya begitu lahap memakan kerupuk tiba-tiba merengek meminta kerupuk yang dipegang oleh Anders.
Ia pun memberikannya kepada adik kecilnya itu, dan mengambil kerupuk yang baru lagi.
“Syifa nanti kalo udah lulus TK, mau sekolah dimana?” tanya Anders kepada adiknya yang tidak tahu apa-apa.
Adik perempuannya itu hanya diam dan masih fokus pada kerupuk seolah-olah kerupuk adalah hal paling penting di dalam hidupnya dan tidak bisa diabaikan sama sekali.
Mamanya pun menyahut pertanyaan Anders tadi.
__ADS_1
“Di SD yang satu jalan dengan SMA kamu.”
“Okey, kenapa kok harus di sana sih Ma? Bukannya itu jauh ya dari sini, kalo buat anak SD.”
“Yang terpenting bukan jaraknya, sayang. Yang paling penting itu model pendidikannya. Walaupun jauh, mama nggak akan merasa keberatan untuk setiap hari mengantar dan jemput Syifa.”
Begitu penjelasan mamanya usai, tepat berbarengan dengan Alex tiba di ruang makan.
“Loh sudah pada di sini semua, nungguin papa ya?” tanya bercanda Alex.
“Papa lama banget. Anders udah laper dari tadi.”
“Iya maaf, ya sudah ayo makan dulu.”
Mereka berempat pun berdoa bersama dipimpin oleh Alex selaku kepala keluarga, sebelum makan juga ada sedikit pengingat dari Alex.
Setelah berdoa, dan masing-masing anggota keluarga mengambil porsinya. Kecuali Syifa yang masih tidak ingin makan. Alex memberikan sedikit petuah kepada keluarganya.
Ia mengingatkan kembali harus bisa bersyukur karena masih dengan mudah bisa makan enak seperti malam ini.
Alex juga mengingatkan bahwa harus tetap bersikap rendah hati dan dermawan kepada siapapun yang membutuhkan.
Nada bicara Alex yang tenang dan tidak mengintimidasi tidak menghilangkan sedikitpun selera makan Anders ataupun Lisa.
Malahan mereka mendengarkan dengan seksama sambil sedikit menyeruput kuah soto yang masih panas. Begitulah kebiasaan Alex.
Ia memang orang yang peduli terhadap sesama, saling mengingatkan demi kebaikan keluarganya.
__ADS_1
Karma yang ditakuti banyak orang karena berbuat buruk, hal itulah yang sangat dihindari oleh dirinya.