
Dalam perjalanannya menuju sekolah, kali ini jalan begitu ramai namun tidak diiringi kemacetan.
Ada beberapa siswa dari SMA yang sama dengan Anders, terlihat dari seragam yang dipakai.
Sesampainya di sekolah, ia memarkirkan motornya di dekat dengan dua pohon palem di sisi barat.
Sudah ramai dan begitu banyak siswa yang duduk di gazebo menunggu bel masuk berbunyi.
Ia yang baru datang, bingung harus menunggu di mana. Akhirnya ia berjalan ke arah koperasi untuk membeli minuman.
Hal yang tidak disangka-sangka pun terjadi, sesaat setelah Anders memasuki pintu koperasi. Terlihat disana seorang Alexa sedang mengantri untuk membayar di kasir.
Namun, Alexa tidak menyadari hal itu karena begitu ramainya suasana kopsis saat itu.
Anders mempercepat langkahnya untuk segera menuju ke area minuman di dalam koperasi siswa milik SMA itu.
Keberadaannya tidak ingin diketahui oleh Alexa, ia ingat perkataan yang telah dikatakan oleh mamanya agar bersikap biasa saja dan mengontrol emosinya setiap saat.
Minuman susu rasa coklat yang menjadi favoritnya pun diambil dan segera bergabung di antrian kasir untuk membayar.
Ia tidak ingin membuang waktu lagi disana dan segera mendekat ke arah aula utama untuk mengikuti MOS.
Terlihat tas berwarna ungu muda terletak menggantung di punggung Alexa keluar meninggalkan koperasi, disana ada sebuah name tag kecil, yang tidak bertuliskan nama Alexa.
__ADS_1
“Enam ribu, kak.” ucap kasir yang ada di hadapan Anders.
Anders mengeluarkan dompetnya dan disana tidak ada uang kas sama sekali.
Ia lupa untuk menarik tunai di ATM, ia baru saja memberikan uang kas nya kepada mamanya semalam.
“Permisi kak, apa bisa bayar dengan non-tunai?” tanya Anders dengan mengharap jawaban ya dari kasir itu.
“Mohon maaf, kita masih belum bisa kak. Mungkin baru bulan depan bersamaan dengan launching bank digital yang kolaborasi dengan SMA kita.”
Mendengar jawaban itu, Anders menghela napas dan berkata pada kasirnya jika ia tidak jadi membeli.
“Ya sudah kalau begitu, saya kembalikan lagi.” ucapnya.
Anders yang bahkan belum sempat melihat wajah orang itu, juga tidak bisa apa-apa. Ia masih menunggu struk pembelian dari kasir.
Sementara itu, Ridha sudah pergi menjauh tanpa meninggalkan ucapan apapun.
Akhirnya, ia berjalan keluar menuju aula utama. Ia mereka ulang, kejadian yang baru saja terjadi.
Dalam benaknya sekarang, ia menggali semua informasi yang bisa ia dapat. Tinggi tubuh perempuan, tas, dan sepatu yang bahkan hampir semua siswa mengenakan sepatu dominan hitam.
Tapi apapun yang Anders usahakan, ia yakin tidak akan sia-sia. Dan hingga ia meruntut kembali kejadian itu, ia menemukan apa kesamaan di hari kemarin.
__ADS_1
Spekulasinya mengatakan bahwa yang berani melakukan hal itu adalah orang yang dikenalnya, dan mengerucut pada satu orang. Ridha.
Sampai pada depan aula, ia menoleh ke kanan dan kiri. Mencari dua orang yang seharusnya ia temukan ketika di koperasi siswa tadi.
Ya, yang pertama adalah Alexa dengan tas ungu miliknya, dan kedua seharusnya adalah Ridha yang membayar minumannya tanpa basa-basi.
Anders menoleh ke arah lantai dua, disana juga banyak siswa baru yang menunggu bel masuk berdentang.
Entah mengapa, kali ini Anders merasakan harus menemui kedua orang tua itu. Perkenalan yang terlalu singkat dan terlalu acak membuat perasaannya tidak nyaman.
Kebingungan yang dialaminya bisa saja nantinya berdampak pada bagaimana impresi yang terjadi di hari ini.
Ia sendiri tidak ingin mengacaukan hari ini karena pikirannya sendiri.
Beberapa saat ia mencari, di lantai dua pojok dekat dengan laboratorium bahasa, ada Alexa yang sedang berdiri disana dan mengobrol dengan temannya, mungkin. Anders tidak tahu apakah orang itu teman lama atau barunya.
Anders juga sempat memikirkan kata Alexa bahwa, Alexa melihat dirinya melalui lantai dua. Mungkin saja itu tempatnya.
Terlihat dari bawah, tidak ada yang menghalangi penglihatan dari pojok sana. Semua yang ada di bawah terlihat dengan begitu jelas tanpa ada gangguan sedikitpun.
Tinggal seorang Ridha yang belum ia temukan. Jika kemarin saja Ridha sudah memasuki aula utama lebih dulu daripada dirinya, kemungkinan Ridha saat ini sangat dekat dengan pintu aula.
Anders berjalan pelan, ia mencoba untuk tidak mencolok. Dan ya, Ridha ada di depan pintu masuk aula sebelah selatan.
__ADS_1
Sudah ia temukan dua orang yang ingin ia ajak berbincang lagi, namun tidak sekarang. Anders kali ini hanya memastikan apakah keduanya sudah tiba di sekolah atau belum.