
Mereka berdua akhirnya duduk kembali di bangkunya masing-masing. Anders yang tadinya percaya diri untuk melakukan semua hal tadi, tiba-tiba merasa canggung dan awkward.
Ditambah lagi, acara informal yang biasanya di hari pertama dan kedua dimulai langsung setelah bel berbunyi, entah kenapa di hari ketiga ini tidak segera dimulai.
Apakah acara itu masih disiapkan oleh panitia MOS atau bagaimana, mereka berdua sama-sama tidak tahu-menahu.
Yang jelas, baik Anders maupun Ridha saat ini hanya duduk terdiam melihat ke depan panggung dan sesekali mengecek buku catatannya hanya untuk mencairkan suasana bagi diri mereka sendiri.
“Suka coklat?” tanya Anders.
Ridha terkejut dari yang awalnya saling diam, tiba-tiba Anders bertanya. Ia hanya mengangguk dan tidak memberi jawaban verbal.
“Which kind of choco?” tanya Anders lagi mencoba membuka obrolan.
“Everything.” jawab Ridha singkat karena masih merasa canggung.
“Aku minta maaf karena sudah melakukan hal tadi yang mungkin mengejutkanmu. Tidak. Pasti mengejutkanmu.” ucap Anders. “Seseorang yang baru kamu kenal tiba-tiba datang menyerobot antrian dan membeli sebuah snack yang sama saja sudah sangat aneh.” tambahnya.
“Bukannya aku tidak menghargaimu, namun aku kurang suka diperlakukan seperti itu.”
“Apakah karena kita baru bertemu?”
“Tidak, aku memang tidak ingin memberatkan semua orang. Selama aku bisa mencukupi bagi diriku sendiri.” jelas Ridha dengan nada menenangkan.
Anders tiba-tiba menghela nafas panjang.
“Maaf, aku tidak bermaksud seperti itu.” ucap Ridha kembali dengan nada sedikit memohon.
“Do you know that you’re unique?”
“Maksudnya?”
“Baru kali ini aku menemui seseorang sepertimu. Seseorang dengan prinsipnya yang kuat, dan tetap menjaga perasaan orang lain ketika ada yang mengganggu prinsip itu.” jelas Anders.
“Kamu belum menemui banyak orang, jika masih suka terbawa emosi dan akhirnya berlebihan dalam bersikap kepada orang lain.”
Ridha tidak mengetahui yang sekarang ia ajak berbincang adalah seseorang yang sangat menghargai orang lain, seseorang yang bisa mengontrol emosinya dengan baik.
Anders akan lebih memilih untuk meluapkan emosinya kepada benda mati yang tidak bisa merespon amarah atau sedih atau bahkan bahagianya.
__ADS_1
Menurutnya itu hal yang sangat baik yang bisa ia lakukan, karena benda mati tidak akan merasa kasihan, benci, ataupun iri dengan apa yang diluapkan oleh Anders.
Anders hanya tersenyum mendengarkan jawaban Ridha itu, ia bisa memaklumi karena Ridha baru hari ini bertemu dengannya.
“Lalu? Bagaimana jika orang itu sudah melanglang buana tetapi masih tidak bisa mengontrol emosinya?” tanya Anders untuk memancing agar Ridha terus berbicara kepadanya.
“Tidak ada yang salah dengan dirinya. Karena tidak semua orang bisa mengontrol emosinya dengan baik. Meskipun ia melanglang buana untuk bertemu banyak orang, tetapi tidak menyadari bahwa ia berlebihan. Itu semua percuma.”
“Good answer.” sahut Anders.
“Apakah kamu sedang mengujiku?”
“Hahahaha…” Anders tertawa.
“Kamu baru saja dalam satu siang sudah membuatku kesal dan canggung dalam bersamaan.”
“I’m so sorry.”
Mereka berdua pun akhirnya melanjutkan percakapan singkat hingga panitia MOS memasuki aula utama.
Panitia MOS kali ini membawa banyak sekali kertas berwarna. Ada sekitar 10 warna yang dipegang oleh salah satu panitia MOS.
Salah satu panitia MOS bernama Agistia berteriak dari depan panggung.
Perhatian semuanya! Dengarkan saya! Disini ada 10 warna yang saya pegang. Dan masing-masing warna memiliki pasangan. Pada intinya Biru-Biru, Merah-Merah, dan seterusnya. Paham?
Semua siswa berteriak dengan kompak bahwa mereka memahami apa yang dikatakan oleh Agistia.
Kertas ini hanya ada 20 lembar, dengan masing-masing 10 pasang. Dalam hitungan ke-30, semua siswa yang mendapatkan kertas di bawah kursinya diharapkan maju ke depan panggung. Dan segera berkumpul dengan warna pasangannya. Paham?
Lagi-lagi mereka kompak menjawab.
Hitungan pun dimulai, Anders yang tidak bingung seperti siswa lain untuk segera membalik kursinya. Ia malah duduk tersenyum meminum air mineral miliknya.
“Anders, flip your chair.” ucap Ridha kepada Anders.
“Nothing’s there.”
Ridha pun mengabaikan Anders, dan ia terkejut karena mendapatkan potongan kertas berwarna biru.
__ADS_1
“Aku dapat biru!” teriaknya.
Anders hanya tersenyum melihat tingkah lucunya Ridha.
“Do your best!” teriak Anders ketika Ridha berjalan menuju ke depan panggung.
Ridha menoleh dan membalas dengan gimmick bibir. “Thank you.”
Sesaat kondisi aula utama begitu ramai dan riuh karena saling mencari satu sama lain.
Sembilan warna kertas sudah mendapatkan pasangannya, yang artinya tinggal satu warna yang masih tersisa di antara siswa yang sedang duduk.
Sembilan warna sudah dapat pasangan, tinggal warna biru yang belum. Siapa lagi yang mendapatkan warna biru? teriak Agistia begitu keras.
Semua siswa langsung saling menoleh ke kiri dan kanannya, saling bertanya apakah mereka melewatkan kertas di bawah kursinya.
Ridha melirik ke arah Anders, dan Anders menyadarinya.
Hampir lima menit berlalu, tidak ada yang memegang kertas warna biru. Anders pun berdiri dan tiba-tiba maju ke depan.
“Dapat warna biru juga?” tanya Agistia kepada Anders.
Anders hanya menggelengkan kepala sambil tersenyum kepada Ridha.
“Loh, lalu?”
“Mungkin ada yang terselip atau terlepas ketika penataan kursi di dalam aula, atau mungkin juga memang terlewat. Saya yang akan menemaninya.”
Ridha pun terkejut dengan sikap Anders. Ia melotot ke arah Anders. Namun, Anders hanya membalas dengan senyuman.
Beri tepuk tangan semuanya kepada 20 orang yang sudah di depan, khususnya buat teman kita yang dengan sukarela menjadikan dirinya partner.
Ketika semua peserta permainan yang berada di depan juga ikut bertepuk tangan, tidak dengan Anders.
Anders membungkukkan badan sambil melipat tangan kanannya ke arah perut. Ia membungkukkan badan hingga tepukan tangan itu selesai.
Hal kecil namun berbeda yang dilakukan oleh Anders saja bisa menjadi perhatian semua orang, bahkan guru dan panitia yang ada di dalam aula itu.
Ridha tersenyum kepada Anders.
__ADS_1
“Dasar..” ucap Ridha dengan nada bercanda.