
Pertemuan Lisa dan Alex pertama kali terjadi ketika mereka berdua bersekolah di SMA yang sama.
Bukan sekolah unggulan nomor satu memang di kota itu, tetapi salah satu sekolah favorit yang selalu menjadi rujukan bagi para siswa yang ingin mengejar kelas akselerasi.
Di sekolah itu, kelas akselerasi selalu tersedia dalam dua kelas dengan kuota yang sama.
Namun, perbedaannya adalah fokus mata ajar yang diberikan. Kelas akselerasi IPA dan kelas akselerasi IPS.
Lisa, yang dari dulu memang ingin menjadi seorang Psikolog dan konsultan psikologi tentu saja mengambil kelas akselerasi IPA.
Sedangkan Alex, dengan kesukaannya terhadap ekonomi dan manajemen, ia memutuskan untuk masuk di kelas akselerasi IPS.
Keduanya merupakan siswa berprestasi ketika duduk di jenjang sekolah menengah.
Sang istri, Lisa banyak sekali menjuarai olimpiade sains hingga tingkat provinsi kala itu.
Berbeda dengan sang suaminya, Alex yang sering memenangkan lomba debat dan juga sastra pada masa itu.
Di masa SMA, kelas akselerasi memang lebih sedikit mendapatkan porsi untuk berpartisipasi dalam event dan acara non-formal yang diadakan oleh sekolah.
Acara seperti lomba memperingati hari guru, atau pun lomba yang diadakan secara berkala dalam waktu tahunan oleh pihak OSIS.
Memang sedari awal, kelas akselerasi difokuskan untuk mencapai targetnya yaitu lulus dalam kurun waktu dua tahun.
Tak ayal jika mereka mendapatkan pembagian yang seperti. Siswa kelas akselerasi sendiri juga mengetahui dampak positif dan konsekuensi seperti hal diatas sebelum memutuskan untuk mendaftar kelas akselerasi.
Perbedaan lain yang mencolok antara kelas Lisa dan Alex adalah pada bagaimana karakter siswa di dalamnya.
Hampir semua siswa yang ada di kelas akselerasi IPA cenderung lebih pendiam dan tidak banyak melakukan aktivitas di luar kelas. Bahkan kebanyakan dari mereka, memilih untuk membawa bekal sendiri dari rumah, daripada untuk berjalan menuju kantin.
Sedangkan kelas akselerasi Alex, dari program ajarnya memang lebih banyak untuk menjalani observasi di luar kelas, terutama pelajaran sosiologi yang mereka dapatkan.
Juga banyak sekali hal lain yang membuat kecenderungan siswa akselerasi IPS lebih banyak berbicara.
Namun, ada pada satu momen dimana kedua kelas itu digabungkan dalam satu kontingen. Yaitu ketika perayaan hari pahlawan, dimana ada dua kelas yang dibentuk menjadi satu kontingen.
Banyak sekali beragam lomba-lomba yang diadakan dalam event itu. Perayaan hari pahlawan menjadi salah satu acara tradisi turun-temurun di SMA itu.
Selain tradisi turun-temurun, acara perayaan itu juga merupakan salah satu dari tiga acara besar yang bergengsi yang diadakan oleh sekolah.
__ADS_1
Lomba yang menjadi puncak acaranya adalah lomba teater bertemakan kebangsaan dan nasionalisme.
Acara itu dilaksanakan selama tiga hari berturut-turut, dan biasanya mulai dilaksanakan di hari Kamis dan berakhir di hari Sabtu.
Rangkaian seperti itu memang sudah direncanakan, karena pada hari Sabtu waktu belajar lebih singkat, para siswa pulang sekolah pukul 11.00 pagi.
Dan biasanya, karena ada acara besar, sekalian diberikan waktu kosong sedari pagi untuk persiapan penuh penampilan teater tiap kontingen.
Satu minggu sebelum puncak acara dimulai, kedua kelas itu melaksanakan musyawarah dan diskusi untuk menentukan siapa saja yang akan tampil dan mendapatkan peran apa nantinya.
Dalam pengemasan pertunjukan tiap kontingen, tidak ada batasan apapun. Mulai dari konsep penampilan hingga peralatan dan aksesoris pendukung.
Bahkan sekolah sendiri hingga menyewa panggung dan berbagai macam properti.
Kali ini, kontingen kelas Lisa dan Alex mendapatkan nama kontingen Raden Saleh. Salah satu pahlawan seni lukis di Indonesia yang sangat terkenal akan karya-karyanya.
Mereka bermusyawarah untuk menentukan konsep cerita seperti apa yang akan dibawakan.
Cukup lama mereka berunding sekitar sembilan puluh menit lebih, akhirnya mereka berhasil menyusun outline dan konsep pilihannya.
Kali ini, kontingen Raden Saleh akan menampilkan pertunjukan yang menceritakan tentang seorang pemuda yang berjuang dengan jerih payahnya untuk keluar dari jurang kemiskinan.
Hanya ada satu orang perempuan, yaitu kekasihnya yang setia mendukung semua perjuangannya.
Lisa, ditunjuk untuk mengisi peran itu. Mau tidak mau ia harus menerimanya, karena hanya tersisa empat perempuan yang belum terdaftar untuk mengikuti lomba.
Selain dari mereka, sudah banyak yang mendaftar untuk mengikuti lomba olahraga dan seni.
Sedangkan Alex, ditunjuk untuk mengisi peran seorang bapak dari pemuda itu yang berwatak sangat keras dan kolot.
Kontingen Raden Saleh cukup sering melakukan latihan di luar kelas, terkadang mereka berlatih di rumah salah satu siswa akselerasi IPS terkadang juga berlatih sepulang sekolah di lantai dua.
Intensitas yang meningkat dan chemistry yang menguat adalah tujuan dari seringnya berlatih. Selain itu juga untuk mengembangkan improvisasi agar bisa terlihat senatural mungkin kita sedang berada di atas panggung.
Seorang Lisa yang tidak terbiasa untuk melakukan hal seperti itu, juga berusaha untuk melupakan dirinya sendiri ketika berlatih.
Ia sangat sering berbicara dialog di depan cermin ketika malam, dengan mendalami apa perasaan yang sedang dirasakan oleh karakternya.
Hal yang cukup mudah memang untuk melakukan hal itu bagi Lisa ketika tidak ada orang yang melihatnya.
__ADS_1
Tetapi apabila dilakukan di depan banyak orang, itu menjadi tantangan yang menurutnya sangat berat.
Tidak sama dengan Alex, ia begitu lancar menghafal dialognya dan begitu mudah untuk mengekspresikan secara lantang karakternya.
Hingga pada hari-H penampilan, keduanya beradu akting di depan banyak orang.
Ada satu momen dimana sang bapak memarahi habis-habisan pemuda itu. Dan ketika itu, sang kekasih membela dan mencoba menyadarkan akan apa yang sedang diperjuangkan oleh si pemuda itu.
Selesai pertunjukan, semua orang berteriak dengan begitu keras menyoraki penampilan dari kontingen Raden Saleh.
Semua merasa takjub pada akting Alex yang dengan begitu luwesnya seolah-olah Alex sudah mengalami apa yang sang bapak alami.
Tepukan tangan yang begitu riuh, dengan beberapa sorakan semangat dari seluruh anggota kontingen Raden Saleh yang sedang menonton juga semakin menambah rasa bangga bagi para penampilnya.
Seusai semua kontingen menampilkan teaternya masing-masing, acara pun dinyatakan selesai dan semua siswa kembali ke kelasnya masing-masing untuk merapikan apa yang telah digunakan.
Kontingen Raden Saleh berkumpul di basecamp mereka yaitu tak lain adalah kelas akselerasi IPA.
Mereka menyanyikan yel-yel yang mereka punya sebagai tanda terima kasih antara satu sama lain karena telah ikut menyukseskan penampilan.
Terlihat saat itu, pukul 17.00 semua siswa sudah mulai beriringan meninggalkan ruang kelas dan ada beberapa yang masih berkemas bersiap untuk pulang ke rumah mereka masing-masing.
Lisa, dalam hatinya merasa sangat bersyukur karena memiliki kontingen yang begitu kompak.
Ia juga tidak lupa bersyukur untuk dirinya sendiri karena sudah berhasil memberikan penampilan yang maksimal ketika acara berlangsung.
Dalam perjalanan pulangnya, ia memilih untuk berjalan kaki. Karena memang rumah Lisa tidak jauh dari sekolahnya, cukup sekitar lima belas menit saja sudah sampai rumahnya.
Di tengah perjalanannya ia dihadang oleh seorang siswa, dan itu adalah Alex.
Lisa mengenal siswa itu dan bertanya mengapa dia tiba-tiba berhenti berlari di depannya seolah ada yang ingin dikatakan.
Ternyata Alex ingin meminta maaf karena ketika penampilan tadi, Alex begitu menggebu-gebu ketika marah dan membanting properti yang ada di sana. Alex merasa bahwa ia sempat kehilangan kontrol emosinya sesaat.
Perkataan Alex pun mengejutkan Lisa, ia hanya bisa tersenyum mendengar permintaan dari Alex.
“Sebuah penampilan memang harus dilakukan secara totalitas.” ucap Lisa saat itu.
Dengan ucapan terima kasih karena telah bisa memaklumi hal itu, Alex pun berlari meninggalkan Lisa. Dan seperti itulah pertemuan pertama antara Lisa dan Alex.
__ADS_1