KEKASIHKU ADALAH KEKASIHMU

KEKASIHKU ADALAH KEKASIHMU
CHAPTER 048


__ADS_3

Keesokan harinya, Anders mengajak Ridha untuk berkeliling ke semua kelas X ketika bel istirahat jam kedua.


Ia menjelaskan sedikit alasannya mengapa begitu antusiasnya untuk mencari sosok Alexa ini.


Ridha yang mendengarkan cerita itu, juga dalam hati ingin mengetahui seperti apa Alexa yang sebenarnya.


Walaupun, dalam sisi hatinya yang lain. Entah mengapa kali ini ia merasa cemburu terhadap seseorang yang memberikan perhatian misterius itu pada Anders.


Rencananya, Anders dan Ridha akan berkeliling dari mulai kelas IPA hingga kelas Bahasa yang terakhir nantinya.


Mereka berdua menanyai salah satu dari anggota kelas apakah ada di kelas mereka yang bernama Alexa.


Pencarian mereka berhenti ketika ada salah satu orang dari kelas X IPS 2 yang menjawab ada siswa dengan nama Alexa.


Anders pun ijin untuk masuk ke dalam kelas. Memang jam istirahat kedua kebanyakan dari anggota kelas memilih untuk pergi ke kantin.


Hanya ada beberapa orang saja yang ada disana. Ia menengok ke dalam kelas dan tidak ada sosok Alexa.


"Tidak ada." ucap Anders pada Ridha.


Ridha hanya mengangguk mengiyakan apa yang dikatakan oleh Anders.


Tiba-tiba saja, Ridha meraih tangan Anders dan menariknya berjalan menuju aula utama.


"Sudah mengecek papan pengumuman?" tanya Ridha.


Hal yang belum pernah terpikirkan sebelumnya oleh Anders untuk melihat papan pengumuman dan mencari nama Alexa masuk dalam kelas mana.


Setibanya di depan papan pengumuman, mata Anders tertuju pada kelas X IPS 2, dan ya. Alexa Aurelia Renata ada di dalam daftar anggota kelas itu.


Satu petunjuk yang bisa membuat lega Anders. Paling tidak, ia bisa mengamati ketika kelas itu sedang jam pelajaran olahraga.

__ADS_1


Karena itulah salah satu cara yang paling mudah untuk mencari seseorang. Tidak mungkin setiap jam olahraga Alexa beralasan untuk tidak ikut.


Yang ada malah Alexa akan terkena sanksi dari guru olahraga, atau bahkan bagian kesiswaan sekolah.


Anders memegang tangan Ridha, sambil menatapnya dan mengucapkan terima kasih banyak karena telah bersedia membantunya.


Mereka berdua pun kembali ke kelas. Sesampainya di kelas Ridha kembali bertanya.


"Then, what will you do if you meet her?" tanya Ridha.


"Pertanyaan menarik. Aku akan menanyakan apa alasannya melakukan semua itu. Mengapa dia begitu bersikap misterius padaku. All that stuff sometimes disturbs my mind." jelas Anders.


"Lalu? Jika sudah dijelaskan?" tanya Ridha kembali. Ridha merasa jawaban Anders tadi juga seharusnya ia lakukan pada Anders.


Mengapa Anders tiba-tiba bersikap seperti itu pada dirinya. Seolah tidak langsung menanam benih kecintaan pada dirinya.


Bagaikan seorang pecinta bunga yang menanam bunganya di malam hari tanpa diketahui siapapun, yang tiba-tiba ketika di pagi hari kebun sudah penuh dengan bunga cantik yang bermekaran.


Memang bagi sebagian orang melakukan tindakan yang romantis adalah hal yang menakjubkan.


Namun, tidak semua orang yang diperlakukan seperti itu merasakan hal yang sama.


Anders sendiri tidak ingin terlalu naif. Ia juga kerap kali melakukan pada orang yang dikenalnya. Baru pertama kali ini, ia melakukannya pada Ridha yang notabene mengenal baru beberapa hari.


Pun dalam hati Anders, juga menanyakan hal yang sama. Apakah Ridha nyaman dengan semua perlakuan yang ia berikan atau tidak.


Dalam hal ini, jika dinilai mana yang lebih baik. Tentu saja lebih sopan perlakuan Anders daripada apa yang telah dilakukan oleh Alexa.


Yang menjadi fokus utamanya adalah pada interaksi kedua orang yang melakukan dan penerima perlakuan.


Bisa saja Ridha menolak genggaman tangan Anders, bisa saja ia memberikan sikap yang tersirat jika ia tidak nyaman dengan apapun itu.

__ADS_1


Toh juga, Anders tidak akan memaksa jika sudah mendapatkan beberapa tanda seperti itu.


Sebaliknya, apa yang dilakukan oleh Alexa benar-benar tidak dapat direspon. Ibarat sebuah komunikasi, itu adalah komunikasi satu arah yang hanya bisa dilakukan oleh Alexa.


Anders tidak bisa mengungkapkan kenyamanan atau ketidaknyamanan perilakunya.


Yang ada malah membuat pikiran Anders semakin terbebani dengan sikap misteriusnya itu.


Ridha, mendengar pernyataan Anders tentang penolakan itu. Mengurungkan niatnya untuk bertanya kepada Anders.


Karena baru kali ini, ia merasa nyaman dan aman ketika ia digenggam oleh seorang laki-laki.


Perasaan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya, dan masih ingin dirasakan selanjutnya.


Tetapi dibalik rasa yang nyaman itu, terkadang tetap saja ia curiga dengan motif Anders sebenarnya.


Namun, untuk kali ini sementara ia akan membiarkan semua ini berlalu dengan begitu saja.


Belum selesai lamunannya memikirkan itu semua, tiba-tiba Anders mengatakan sesuatu.


“Kenapa menanyakan hal itu?”


“Tidak apa-apa, hanya untuk memastikan.” jawab Ridha.


“Jika memang merasa tidak nyaman, tunjukkan padaku dengan cara apapun. Tidak perlu takut aku akan merasa sakit hati atau kecewa.” sahut Anders yang membuat Ridha tertegun.


“Ada sebuah prinsip yang diajarkan oleh kedua orang tuaku ketika berada dalam satu relasi, baik itu pertemanan, sepasang kekasih, ataupun keluarga.” tambahnya.


“Boleh diceritakan?” mohon Ridha dengan pelan.


“Aku akan ceritakan nanti, sepulang sekolah. Untuk sekarang pikirkan dulu perkataanku yang sebelumnya. Deal?”

__ADS_1


Ridha mengangguk mengiyakan untuk setuju dengan tawaran yang diberikan oleh Anders.


__ADS_2