
Setelah dengan panjang lebar Alex menjelaskan mengenai sistem pendidikan di Indonesia, akhirnya Anders paham dan mencoba melakukan apa pesan yang tersirat di dalamnya.
“Terima kasih, pa. Udah jelasin panjang banget.”
“Iya.” jawabnya singkat.
Anders yang dari tadi mendengarkan penjelasan ayahnya sambil makan, tidak terasa bahwa makanan yang ada di piringnya sudah habis.
Ia pun beranjak dari tempat duduknya dan ijin kepada mama papanya untuk menuju kamarnya.
Kedua orang tuanya mengiyakan mengetahui bahwa Anders juga baru saja sampai di rumah dan belum membersihkan dirinya.
Disaat keadaan tenang, tinggal mereka bertiga yang ada di ruang makan. Tiba-tiba Lisa menyenggol tangan kanan suaminya.
Alex menatap ke arah Lisa dan bertanya.
“Ada apa, ma?”
“Anders..” jawab Lisa sambil melirik ke arah kamar anaknya itu di lantai dua.
“Anders kenapa emangnya?”
__ADS_1
“Sebelum papa datang, tadi Anders bercerita banyak hal di sekolahnya. Juga cerita tentang teman perempuannya.”
“Perempuan?”
“Iya, perempuan. Mama pikir dia bakal cerita juga ke papa. Tapi ternyata kalian malah bahas tentang pendidikan yang notabene itu bukan percakapan internal keluarga.”
“Mungkin dia juga masih mencari waktu buat cerita ke papa, ditunggu aja.”
“Okay.” jawab Lisa sambil mengecup pundak suaminya.
Di dalam kamarnya, Anders tidak segera mandi. Ia berbaring di atas kasurnya, menghela nafas yang cukup panjang.
Ia masih terus memikirkan bagaimana perasaan Ridha setelah semua yang ia lewati hari ini. Apakah Ridha baik-baik saja esok hari. Apakah Ridha akan menjauh ketika melihat dirinya.
Itu semakin membuatnya hatinya kesal. Akhirnya Anders memejamkan matanya, mencoba mengingat hal-hal yang menyenangkan dengan teman-temannya semasa SMP.
Dalam benaknya, ia berharap serpihan memori-memori kecil itu bisa mengisi ulang energinya.
Salah satu momen yang baginya paling menyenangkan dan tidak akan terlupakan sampai kapanpun.
Adalah ketika ia dengan dua orang sahabatnya dengan nekat berlibur ke luar kota. Mereka melakukan perjalanan yang sudah terencana dengan matang itu.
__ADS_1
Bahkan dari tiga bulan sebelumnya, merek benar-benar niat untuk menabung dengan menyisihkan uang saku mereka setiap hari.
Anders ingat bahwa kala itu, ia membawa satu tas ransel dan satu tas jinjing yang berisi keperluannya.
Ia ingat sekali ketika itu, pagi-pagi belum terlihat matahari muncul sedikit pun, Anders sudah mengeluarkan tasnya di luar pagar dengan mengendap-endap.
Anders membuat sedikit keributan di garasi untuk memancing satpam nya yang berjaga di pos, keluar dan menghampiri garasi itu.
Sehingga ia tidak ketahuan ketika keluar melewati gerbang. Ia meletakkan tasnya di sebuah rumah kosong tidak jauh dari rumahnya. Begitupun dengan teman-temannya melakukan hal yang sama.
Liburan yang dilakukan olehnya dan kedua sahabatnya itu benar-benar tanpa sepengetahuan orang tua mereka masing-masing.
Ia sedikit tersenyum saat ini, mengingat bagaimana tingkah nakalnya saat itu.
Anders melanjutkan perjalanannya mengingat memori itu, sampai di titik mereka melakukan liburan di kota yang mereka tuju.
Semua berjalan tidak sesuai rencana, karena dari ketiga orang itu sama-sama baru pertama kali singgah di kota tujuannya itu.
Hingga pada akhirnya, dua hari dua malam ketiga orang itu hanya berjalan-jalan disekitar hotel dan tidak pergi kemanapun.
Akhirnya, Anders merasa sedikit bahagia dan bisa melupakan bebannya sejenak yang terjadi di hari ini.
__ADS_1