
Tidak ada satupun nasi yang tersisa yang terlihat di atas mangkok sup Anders.
Ia menghabiskan satu porsi sup itu dengan cukup cepat, mungkin karena ia sudah menahan rasa lapar sedari pagi.
Kini giliran satu cangkir kopi hitam panas yang akan menjadi pemuas nafsu dahaganya.
Sebelum ia membuka tutup cangkir kopi itu, ia bertanya kepada Ridha.
“Suka kopi?”
“Bisa minum kopi.” jawab Ridha begitu singkat.
“Kenapa tidak suka? Kopi enak loh.”
“Suka jengkol?” tanya Ridha balik.
Anders menggeleng menandakan bahwa ia tidak suka sayur jengkol meskipun dimasak sedemikian rupa.
“Kenapa tidak suka? Jengkol enak loh.” jawaban yang sama dikatakan oleh Ridha pada Anders.
Anders tersenyum tipis, perempuan yang ada di depannya ini adalah perempuan yang tidak mudah untuk mengungkapkan sesuatu.
Di jaman sekarang, banyak orang yang mengaku sebagai seorang introvert hanya karena skill nya kurang mumpuni, sehingga mereka tidak ingin tampil di depan umum sebagai dirinya sendiri.
Mengaku sebagai introvert dianggap sebagai salah satu alternatif untuk mengatasi hal itu.
Tetapi berbeda dengan orang yang ada di depannya saat ini, ia benar-benar seseorang yang lebih dominan introvert daripada ekstrovert.
Sebenarnya, tidak ada satu orang pun yang mempunyai karakter sebagai seorang introvert penuh ataupun ekstrovert penuh.
Mereka hanya mempunyai sisi dominan. Seorang yang sudah terlahir sebagai introvert tidak akan pernah bisa menjadi sosok ekstrovert.
Hal lain yang bisa dilakukan adalah meniru beberapa kebiasaan orang ekstrovert yang mereka sukai.
Dengan latihan seperti itu, paling tidak akan mengurangi menonjolnya sisi introvert seseorang.
Karena bagi remaja jaman sekarang, hampir di semua lini akan mengunggulkan sisi ekstroversi dari seseorang.
Orang ekstrovert dianggap lebih asik, dan lebih mudah bergaul. Secara teori memang benar, karena mereka lebih mudah untuk membuka diri daripada seorang introvert.
Dalam benak Anders, ia berharap semoga Ridha sudah mempelajari kebiasaan-kebiasaan seorang idolanya yang juga merupakan seorang ekstrovert.
Dengan begitu, Ridha akan lebih mudah untuk mendapatkan banyak teman nantinya.
Lamunannya buyar ketika Ridha memegang tangan Anders.
__ADS_1
“Segera diminum kopinya, sebelum jam istirahat selesai.” ucap Ridha.
Anders yang mendengar itu meneguk kopinya dan merasakan sensasi kafein kesukaannya.
“Terima kasih.” ucap Anders.
“What are you talking about, you don’t have to thank me.” balas Ridha.
“Menurutmu, apa yang membuatku terlambat datang ke sekolah?”
“I’ve no idea. Dan, aku tidak ingin berspekulasi apapun tentang dirimu.” kata Ridha.
Dengan diperolehnya jawaban seperti itu, Anders pun menceritakan apa yang sebenarnya terjadi.
Ia bercerita tentang bagaimana ia sibuk dan asyiknya untuk menggambar gedung impiannya.
Tak lupa, ia juga menceritakan sedikit bocoran cita-citanya di masa depan nanti setelah lulus dari SMA ini.
Hingga pada bagian Anders bercerita musik yang ia dengarkan dan membuatnya begitu hanyut dalam aktivitasnya. Ridha tiba-tiba memotong cerita Anders.
“Salah satu penyanyi tenor terbaik di dunia, Andrea Bocelli.”
“Salah satu penyanyi klasik yang mendapatkan tujuh kali penghargaan World Music Award.” tambah Anders.
Anders dan Ridha pun tertawa dan hanyut dalam kebersamaan mereka. Anders sendiri tidak menyangka bahwa Ridha juga merupakan penggemar musik klasik. Begitu pun dengan Ridha pada Anders.
“Then, which one do you like?” Ridha menanyakan lagu favorit Anders.
“In the classical music genre or Andrea’s?” tanya Anders balik.
“Andrea of course.”
"Quizas, Quizas, Quizas." jawab Anders.
"Kenapa memilih lagu itu?" tanya Ridha lagi.
"Sebenernya aku nggak tau apa lagu favoritku, tetapi jika dalam jajaran milik Andrea, Quizas punya nuansa musik yang berbeda dari yang lainnya."
"Aku setuju sama pendapatmu, lagu Quizas bercerita tentang kegelisahan seseorang. Dan lagi-lagi dikemas dengan begitu sempurna." sahur Ridha.
Mereka berdua terikat dalam ikatan selera musik yang sama.
Jika dipikir-pikir lagi, sudah ada dua orang yang mempunyai selera musik klasik, Ridha dan Alexa.
Anders berpikir, bagaimana jadinya jika kedua perempuan ini bertemu.
__ADS_1
Meskipun memiliki selera musik yang sama, apakah keduanya akan melebur melupakan sifat aslinya masing-masing.
Atau malah, keduanya saling mengunggulkan melalui pengetahuan musik mereka.
Hal yang menarik akan terjadi jika itu benar-benar dilakukan.
Terbesit nama Alexa dalam benaknya, Anders pun mencoba untuk bertanya pada Ridha.
"Ridha, can I ask you something?"
"Tentu saja, jika memang aku tahu dan itu tidak menggangguku." balasnya.
"Have you ever heard of a student named Alexa?" tanya Anders sambil berharap Ridha mengetahui sesuatu.
"Alexa? Sepertinya tidak asing di telingaku."
Ridha menjelaskan, bahwa ketika masih dalam minggu orientasi, ada seseorang yang meneriakkan nama Alexa di lantai dua.
Ia sendiri sempat menoleh ke sumber teriakan itu, tapi yang terlihat hanya beberapa orang siswa laki-laki yang sedang menunggu bel masuk.
Ketika matanya menyusuri lantai dua yang terlihat, tidak ada perempuan satu pun di atas sana.
Mendengar kata lantai dua yang diucapkan oleh Ridha, Anders memotong cerita begitu saja.
Anders menjelaskan apakah teriakan itu sama dengan lokasi tempat Alexa yang ia lihat waktu itu.
Dan ternyata benar, tempat lantai dua yang biasa digunakan Alexa untuk masuk ke aula utama adalah sama.
Tidak terima rasa penasarannya bertumpuk, Anders pun bertanya apakah ia mempunyai seorang teman sedari SMP yang juga bersekolah di SMA ini.
Ridha memang mempunyai teman, namun ia adalah seorang yang sangat jarang sekali mengikuti gosip yang ada.
Bahkan terkadang gosip yang terjadi di sekitarnya saja, dianggap tidak terjadi ada apa-apa dengan bersikap cuek.
Begitu banyak pertanyaan yang dilontarkan oleh Anders pada Ridha, membuat Ridha sedikit kesal karena bertanya tentang perempuan lain.
Disisi lain, ia juga bertanya-tanya siapakah orang bernama Alexa yang dimaksud oleh Anders ini.
"Anders, siapa nama lengkap Alexa?" tanya Ridha dengan nada pelan.
"Nama lengkapnya, .."
Belum juga selesai Anders menjawab pertanyaan itu, bel masuk pelajaran berbunyi begitu keras.
Sontak membuat mereka itu segera merapikan penampilannya dan berkemas untuk menuju kelas dan melanjutkan pelajaran di hari pertama.
__ADS_1