KEKASIHKU ADALAH KEKASIHMU

KEKASIHKU ADALAH KEKASIHMU
CHAPTER 044


__ADS_3

"Perkenalkan, Anders Zhafran Al Fatih. Terima kasih."


Begitulah perkenalan yang diucapkan oleh Anders, sangat singkat sekali.


Ia berdiri hanya untuk mengucapkan sepatah kalimat singkat itu dan kemudian duduk lagi.


Bahkan, gurunya pun meminta untuk Anders berkenalan lebih jauh lagi.


"Sudah?" tanya gurunya.


Anders yang sudah kembali duduk di atas bangkunya hanya mengangguk dan tersenyum menjawab pertanyaan itu.


"Kok singkat sekali?" tanya lagi oleh gurunya.


"Memang apa lagi yang dibutuhkan untuk menjadi seorang teman, selain nama?" Anders bertanya balik.


Mendengar cletukan itu, Ridha kembali tersenyum sendiri. Sampai teman sebangkunya menyadari hal itu dan bertanya pada Ridha.


“Kamu kenapa? Dari tadi senyum sendiri. Suka ya sama anak baru itu?”


“Kita kan juga anak baru.” jawab Ridha terheran.


“Oh iya juga ya, tapi emang ganteng banget sih dia. Ya kan?”


Ridha yang sejak bertemu dengan Anders tidak terlalu memperhatikan wajah Anders, kali ini ia melihat dengan jelas dan baru menyadari bahwa apa yang dikatakan oleh teman sebangkunya benar adanya.


Postur tubuh jenjang dan tubuh yang berisi, ditambah lagi lekukan otot yang menandakan bahwa orang itu suka berolahraga.


Tiba-tiba saja Ridha menoleh ke arah temannya dan memejamkan matanya seolah bersyukur karena baru saja melihat sebuah anugerah.


Dan pak guru yang tidak bisa menjawab pertanyaan singkat yang dilontarkan Anders pun mempersilahkan muridnya itu untuk duduk kembali.


Hingga mata pelajaran fisika usai, dan ada sedikit waktu kosong. Akhirnya Anders mengambil pensil miliknya dan melepas hasil rajutan yang menyelimuti pensil itu.


“This is mine, but that’s not.” ucap Anders pada orang yang ada di belakangnya sambil tersenyum.


Teman Ridha yang ada di belakangnya pun mencolek Anders agar ia kembali menoleh kepadanya.

__ADS_1


“That’s yours, but this is not mine either.”


“So?” tanya Anders ketus.


Teman Ridha mengarahkan jempol ke arah belakang tempat Ridha duduk. Anders mengambil hasil rajutan itu, dan memberikannya pada Ridha sambil mengucap terima kasih.


Sikap yang berbeda dari sebelumnya, membuat Ridha sedikit bingung apa yang baru saja terjadi pada Anders.


Walaupun begitu, Ridha tetap menerima penolakan hasil rajutannya, dan memakaikan pada pensil miliknya.


Anders begitu saja pergi kembali dan duduk di bangkunya, ia bersandar pada meja dan tidur menopang kepalanya dengan kedua tangannya yang dilipat.


Ia masih merasa mengantuk akibat kelalaiannya sendiri, kali ini ia berharap guru mata pelajaran selanjutnya akan datang terlambat sehingga tidurnya tidak terganggu.


Hal yang tak diduga dan tidak diketahui oleh Anders adalah ternyata jam pelajaran selanjutnya kosong karena ada beberapa guru yang mengadakan rapat dadakan.


Bel istirahat pertama berbunyi, dan Anders masih tidak mendengarnya. Terlalu lelap ia tidur karena begitu menikmati waktu kali ini.


“Bangun. Sudah sarapan?” ucap Ridha.


Ridha menarik tangan Anders yang sebenarnya sudah menjadi bantal paling nyaman di dunia bagi Anders.


“Don’t bother me.” jawab Anders tidak ingin diganggu tidurnya.


“Mau makan apa? Beli sendiri atau kubelikan? No reject.”


Dalam benak Ridha, ia tidak mengetahui apa yang dilakukan oleh Anders semalam yang mengakibatkan hari pertama sekolahnya berantakan.


Namun, ia meyakini bahwa Anders di rumah pasti juga belum sempat untuk sarapan karena tergesa-gesa berangkat.


Jikalau sudah pun, maka seharusnya Anders tidak menikmati sarapannya pagi ini.


Ridha begitu peduli pada Anders, ia tidak ingin temannya ini mengalami hari yang lebih buruk dengan sakit hanya karena lupa untuk makan.


Ia pun tetap berusaha untuk membangunkan Anders sebisa mungkin.


“Bangun atau kusiram air minum?” ucap Ridha memberikan penawaran.

__ADS_1


“Okay okay, calm down. Aku bangun.”


Anders duduk bersandar, melihat sekeliling menyadari semua orang sudah tidak ada di kelas.


Meski sebenarnya matanya masih sangat mengantuk, ia tetap memaksa untuk membuka matanya.


Ia mencoba berkompromi dengan otaknya, agar bisa bertahan lebih lama untuk menugaskan kedua matanya bekerja hari ini.


Sekitar lima menit ia mengumpulkan seluruh kesadarannya, dan Ridha masih menunggu di sebelahnya.


“Kenapa tidak berangkat dulu? Your rest time is wasted.” ucap Anders.


“Tidak, aku sudah sarapan pagi tadi. Jadi aku tidak perlu tergesa-gesa untuk makan lagi.”


Anders berdiri dari bangkunya, dan berjalan keluar kelas meninggalkan Ridha.


Sebenarnya ia ingin mencoba mengurangi perhatian dan sikapnya pada Ridha, seperti apa yang ia rencanakan kita duduk di balkon bersama mamanya.


Di depan pintu kelas, ia menoleh ke arah Ridha yang masih duduk di sana dengan posisi yang sama ketika ia meninggalkannya.


Akhirnya Anders pun kembali, ia meraih tangan Ridha dan menariknya berjalan untuk menuju kantin.


Ridha yang begitu terkejut, tidak bisa menyembunyikan rasa malunya. Pipinya terlihat memerah karena kejadian barusan.


Ditambah lagi, Ridha tidak menyangka jika di luar kelas tangannya masih digenggam oleh seorang laki-laki yang baru saja ia kenal beberapa hari yang lalu.


Berbeda dengan Anders, ia tidak merasa malu sama sekali untuk melakukan hal itu. Ia bisa sangat cuek terhadap semua orang yang tidak dikenalnya ketika ada orang yang ia kenal di sebelahnya.


Melalui lorong kelas, genggaman kedua tangan mereka menjadi pusat perhatian banyak orang.


Bagaimana tidak, semua siswa kelas X yang notabene kebanyakan baru mengenal satu sama lain.


Dihebohkan dengan adegan romantis itu. Sambil berjalan menuju kantin dan dilihat oleh banyak orang, Anders membisikkan kepada Ridha.


“Ignore them all.”


Mendengar bisikan itu, perasaan Ridha semakin tidak bisa dijelaskan seperti apa saat ini.

__ADS_1


Kata-kata itu adalah kata yang identik dengan seorang kekasih yang berusaha untuk menenangkan kekasihnya.


Kalimat yang menyiratkan bahwa dirinya tidak perlu khawatir akan ancaman dari luar karena akan ada yang siap menjadi tamengnya.


__ADS_2