KEKASIHKU ADALAH KEKASIHMU

KEKASIHKU ADALAH KEKASIHMU
CHAPTER 056


__ADS_3

"Sayang, aku ijin tidak pulang ke rumah buat malam ini." begitulah pesan yang dikirimkan Anders pada sang kekasih.


Tak terlupa juga, ia menelepon mamanya dan menjelaskan semuanya yang terjadi saat ini.


Menjelaskan tentang kondisi sahabatnya, menjelaskan tentang keluarga dari sahabatnya juga.


Ia juga akan sebentar saja untuk mampir ke rumah sekedar mengambil pakaian dan seragam untuk persiapan sekolah keesokan harinya.


Dan, yang paling penting ia ingin mengambil kartu tabungannya untuk menanggung biaya rumah sakit.


Lisa pun mempersilahkan putranya untuk melakukan semua itu, pesan Lisa adalah agar selalu berhati-hati dan tidak lupa untuk saling mengirimkan pesan jika ada hal buruk yang terjadi.


Ia juga memberi pesan kepada anaknya, agar tetap jujur dan tidak menutupi apapun pada Ridha.


Setelah melakukan panggilan itu, ia menuju ke meja perawat dan memberikan nomor teleponnya sebagai wali pasien.


Tak lama, ia pun segera bergegas menuju ke "rumah" sahabatnya itu. Ia ingin memberitahukan pada adik sahabatnya tentang apa yang terjadi.


Namun, Anders tidak berpikiran akan membawanya ke rumah sakit.


Menurut Anders, hal itu hanya akan menjadi kesedihan bagi adik perempuan sahabatnya itu yang nantinya malah bisa berdampak pada semangat belajarnya.


Dalam perjalanan, ia disambut oleh awan mendung yang semakin gelap.


Berharap semoga saja hujan tidak turun. Anders memacu motornya cukup santai tidak seperti biasanya meskipun jalanan sedang lengang.


Ia memikirkan mengapa hal senahas ini bisa menimpa pada sahabatnya.


Jika dikatakan takdir, memang hal itu tidak bisa disanggah lagi.


Namun, yang membuat Anders bertanya-tanya adalah, tidak biasanya sahabatnya itu melewati jalan tempat terjadinya kecelakaan.


Jika dipikir secara logika, jalan itu berada di sebelah barat. Sedangkan, rumahnya berada di sebelah timur.


Selama ini, setahu Anders sahabatnya itu sangat jarang sekali memiliki keperluan di daerah barat.

__ADS_1


Toh, juga tidak ada anggota keluarganya di kota ini. Karena memang kota asal dari sahabatnya itu dari pulau seberang.


Satu-persatu pikiran Anders semakin mengerucut pada pertanyaan apakah telah terjadi sesuatu yang tidak diceritakan sebelumnya kepada Anders.


Mendapat pertanyaan itu, ia ingin menanyakan kepada kepada adik sahabatnya ketika sudah bertemu.


Tidak menutup kemungkinan, Anders juga akan bertanya kepada tetangga baik yang rela untuk memberikan tempat tinggal bagi sahabatnya.


Awan mendung tetap berjalan, dan alam tidak bisa diinterupsi. Kali ini, harapan Anders ditolak. Hujan gerimis terlihat sudah mengguyur di depan.


Banyak orang yang memakai jas hujan, mobil-mobil terlihat basah dari arah yang berlawanan.


Anders hanya bisa pasrah, dengan berharap lagi hujan tidak akan turun terlalu deras. Ia sadar bahwa ia tidak pernah membawa jas hujan. Karena biasanya ia sepulang sekolah jarang sekali untuk pergi selain ke rumah.


Namun, lagi-lagi doanya tertolak setelah ia ucapkan sepuluh menit yang lalu.


Hujan deras mengguyur rata apa yang ada di bawahnya. Anders pun terpaksa harus menerjang guyuran hujan deras itu.


Hingga pada akhirnya ia sampai di tempat tujuannya, yaitu “rumah” sahabatnya.


Berkali-kali Anders mengetuk pintu, dan cukup lama Anders berdiri disana sambil menahan dinginnya hawa malam ini.


Keluarlah seorang pria paruh baya pemilik rumah. Mungkin karena sudah berumur, dan penglihatan yang sudah tidak optimal lagi, pria itu tidak bisa mengenali Anders.


“Iya nak, mencari siapa?”


“Saya Anders pak, sahabatnya Noah.”


“Oalah, nak Anders. Sini masuk dulu.” ucap pria tua itu.


Anders menolak untuk masuk karena kondisinya yang sudah basah kuyup. Ia meminta ijin untuk menjelaskan apa yang terjadi pada sahabatnya.


Cukup lama Anders menjelaskan apa sebenarnya yang terjadi pada Noah. Bapak pemilik rumah itu pun turut prihatin, ia berjanji akan merawat adik Noah lebih baik lagi.


Untuk kali ini, Anders tidak bisa menemui adik Noah karena sudah tertidur. Alhasil, ia pun berpamitan dan segera melanjutkan perjalanannya untuk pulang ke rumah.

__ADS_1


Ia merasa cukup lega, setidaknya berita terkait kondisi Noah sudah sampai kepada pria itu, yang nantinya juga akan diceritakan kepada adik Noah.


Hujan sudah mulai reda ketika motornya mulai mendekati rumah. Ia sejenak memutuskan untuk mampir warung langganannya untuk membeli teh panas.


Entah kenapa, Anders dari dulu lebih suka jika meminum teh panas di warung itu.


Mungkin karena teh yang ada di rumahnya adalah teh celup, yang notabene wangi dan cita rasa tehnya sedikit tereduksi.


Teh panas yang begitu nikmat menghilangkan rasa dingin akibat guyuran hujan yang sebelumnya Anders rasakan.


Di sela minum tehnya, ia membuka ponsel miliknya yang juga sudah basah. Tetapi untungnya tidak ada masalah pada ponselnya.


Notifikasi balasan dari Ridha sudah menggantung sejak ia pergi meninggalkan rumah sakit itu.


“Iya sayang, jangan sampai lupa jadwal makan dan terus jaga kesehatan.”


Balasan yang membuat Anders merasa lebih hangat lagi, ia sadar bahwa harus bisa menjaga dirinya sendiri dengan baik.


Karena sudah bertambah satu orang yang mengkhawatirkannya ketika ia melakukan sesuatu.


Yang awalnya hanya tiga orang anggota keluarganya, kini bertambah Ridha.


Ditemani teh hangat itu, ia memikirkan apakah dirinya harus mengajak Ridha untuk menjenguk sahabatnya ini.


Banyak sekali pertimbangan yang harus Anders lakukan sebelum melakukan itu.


Saking banyaknya pikiran, Anders tidak sadar bahwa bibi penjual teh itu duduk di sebelahnya.


“Malam-malam jangan banyak melamun, kesambet setan nanti baru tau rasa.” ucap bibi itu.


“Eh, iya bi. Ya mau gimana lagi, bi. Emang lagi banyak yang dipikirin.” sahut Anders sambil sedikit tertawa menghibur dirinya sendiri.


“Ya sudah, yang penting jangan lupa ibadahnya. Kalo bibi cuman itu aja pesennya.”


Anders mengangguk karena diingatkan oleh bibi penjual teh itu. Ia merasa, bibi juga menjadi salah satu orang yang selalu mendukungnya secara tidak langsung.

__ADS_1


__ADS_2