
Dhiya mempersiapkan segala keperluan Sakhiy selama perjalanan dan berada di Jakarta.Untuk catering ia percayakan pada Laila.Ia sudah selesai bersiap ketika mobil Alif sampai didepan rumahnya.Pria tampan itu memekai kemeja lengan pendek warna biru laut dipadukan dengan celana jeans warna hitam dan topi warna putih.Orang awam tidak akan menyangka dengan penampilannya kalau ia seorang Ustadz. "Biar aku yang gendong Sakhiy,kamu masuk mobil dulu." Alif segera menggendong Sakhiy dan menyeret koper milik Dhiya, meninggalkan pemilik koper yang masih bengong. "Mbak!" "Mbak!" Laila agak mengeraskan suaranya karena Dhiya tidak merespon panggilannya.Dhiya terjingkat mendengar suaranya Laila. "Kamu ini ngomong keras banget sih." "Astagfirullah, Mbak Dhiya yang dari tadi bengong.Sakhiy dibawa Ustadz Alif pasti Mbak Dhiya nggak tahu kan?" "Masa sih?" "Tuh,lihat mobil Ustadz Alif sudah siap didepan rumah." TIN! TIN! terdengar suara klakson mobil. "Koperku mana La?" Dhiya celingak celinguk mencari kopernya. "Sudah ada di mobil." "Kenapa kamu nggak bilang dari tadi sih!" "Hem!" ucap Laila sambil menepuk jidatnya pelan. 'Apa ini tingkah orang yang jatuh cinta" ,batinnya. Dhiya segera keluar rumah menyusul Sakhiy yang sudah bersama Ummi Salma di dalam mobil.Sementara Alif duduk dibelakang kemudi dan Abah disebelahnya.Sungguh Dhiya sangat malu pada Alif.'kamu ini malu maluin aja dhi,lihat yang bening langsung mlongo.mata kondisikan mata'dia bermonolog dalam hati.Alif melihat Dhiya dari spion tersenyum melihat muka Dhiya yang merah seperti tomat. "Barang kali ada yang ketinggalan Dhi?" "Sudah semua Mas." jawab Dhiya dengan panas dingin.'aku kenapa jadi nervous sih?malu maluin aja,sudah punya anak juga.' "Mukamu kenapa merah Dhi?Apa kamu sakit?" "Masa sih Mi."jawab Dhiya sambil meraba raba pipinya. "He...he...Ummi ini seperti nggak pernah muda saja.Dulu Ummi kan juga begitu tiap kali bertemu Abah,muka Ummi merah seperti kepiting rebus." Hem...jadi ceritanya kamu nervous dekat Alif Dhi?" "Hah!" Dhiya mengalihkan pandangannya keluar jendela. "Sudah sudah,ini jadi berangkat nggak? " Alif menengahi obrolan karena kasihan melihat Dhiya. "Kalau nggak jadi kamu yang rugi.Memangnya kamu mau menunda lagi untuk menikah dengan Dhiya?" giliran Abah yang menggoda Alif. "Ya nggak lah.Kalau Dhiya mau saat ini juga Alif nikahin.Gimana Dhi,mau nggak saat ini Mas Alif nikahin?Mas Alif sudah siap kok." Dhiya melongo mendengar kata kata Alif. "Berangkat sekarang Mas." "Siap humaira.Sakhiy yang anteng ya,sebentar lagi ketemu Kakek sama Nenek." Alif melirik Dhiya dari kaca spion. Benar dugaannya ,pipi Dhiya nampak merah. Sepertinya dia sudah punya panggilan baru untuk Dhiya setelah menikah. ******** Setelah menempuh beberapa jam perjalanan,akhirnya Dhiya dan rombongan sampai di Jakarta.Mereka naik taxi online menuju kediaman orang tua Dhiya.Sakhiy pun tampak nyaman dalam pangkuan Alif.Dhiya bisa merasakan kalau Alif benar benar tulus menyayangi Sakhiy.Ia terus memohon kepada ALLAH selalu diberikan yang terbaik dalam hidupnya. Taxi yang mereka tumpangi sudah sampai di tempat tujuan.Dhiya terpaku memandangi rumah di hadapannya.Alif menepuk punggung Dhiya untuk memberinya semangat. TOK TOK! Alif mengetuk pintu beberapa kali. "Assalamualaikum." CEKLEK! Seorang pemuda seumuran Alif membukakan pintu. "Waalaikumsalam." Gilang nampak bingung.Ia sama sekali tidak mengenali orang orang yang bertamu ke rumahnya.Dhiya yang berada dibelakang tubuh Alif ,melangkahkan kakinya hingga berhadapan dengan Gilang.