
Sejak tengah malam Dhiya merasakan kontraksi.Ummi Salma juga Hanifah menemani Dhiya.Berkali kali Ummi Salma mengajak Dhiya untuk ke rumah sakit, tapi Dhiya kekeh tidak mau.Ia ingat pesan Dokter kandungannya, kalau masa kontrakasi akan melahirkan biasanya sekitar 12 jam sejak pertama kali merasakan kontraksi.Perkiraan Dhiya bayi akan lahir nanti siang dan sekarang masih menjelang subuh. "Ummi dan Kak Hani pulang saja dulu,nanti Dhiya kabari kalau mau ke rumah sakit."kata Dhiya meringis menahan sakit. "Tuh kan kamu sakit, mana bisa kami meniggalkan kamu sendiri."kata Hanifah dengan khawatir. "Kan ada Laila, lagian sakitnya masih bisa ditahan." Akhirnya Ummi Salma dan Hanifah pulang, karena tidak mau berdebat dengan Dhiya.Mereka tahu bagaimana kuat Dhiya kalau sudah punya pendirian. Sekitar pukul 10 Dhiya sudah tidak kuat menahan rasa sakit karena kontraksi.Dengan di antar Ummi Salma juga Hanifah ia berangkat ke rumah sakit yang tidak jauh dari rumahnya.Sampai di rumah sakit ia segera ditangani oleh dokter. Ummi Salma ikut masuk ke ruang persalinan sedang Hanifah menunggu di luar. Dokter pun memeriksa Dhiya, ternyata sudah pembukaan 8.Dhiya memejamkan matanya menahan rasa sakit yang luar biasa. Ummi Salma dengan penuh kasih sayang mengelap keringat Dhiya.Ia sebenarnya tidak tega, tapi memang inilah kodrat seorang wanita.Ia juga salut sama Dhiya yang tidak mengeluh sedikit pun,yang ia lakukan saat merasakan sakit memejamkan matanya dan melafadzkan kalimat kalimat ALLAH. OEK!!OEK!! Akhirnya lahirlah bayi laki laki dari rahim Dhiya.Hanifah yang mendengar suara tangis bayi langsung sujud syukur demikian juga Abah Zahid yang menyusul ke rumah sakit selesai mengajar.Sedangkan Alif belum datang karena masih mengajar menggantikan Hanifah. Dhiya menangis dalam pelukan Ummi Salma.Ummi Salma memberikan beberapa kecuoan di kening juga pipi Dhiya. Pengalaman pertama baginya melihat langsung proses kelahiran. Setelah bayinya selesai di bersihkan, dokter memberikannya pada Dhiya untuk IMD.Dhiya dibantu dokter menyusui bayinya.Bayi mungil itu mencari cari sumber kehidupannya ketika ditaruh di dada ibunya.Dhiya merasa geli juga sedikit nyeri. ****** Di tempat yang sangat jauh,Aby merasakan badanya sangat tidak baik.Ia merasakan sakit yang luar biasa. Belum pernah ia merasakan sakit seperti ini.Peluh membasahi seluruh tubuhnya.Sudah 2 hari ia tidak ke perusahaan juga pergi kuliah. 'Ya Tuhan,izinkan aku bertemu dengan Dhiya sebelum KAU ambil nyawaku,aku ingin menebus kesalahan yang pernah aku perbuat padanya, kata dengan pelan dan terisak. "Kita ke rumah sakit ya By,Mama sangat khawatir dengan keadaanmu." kata Yonna yang tak lain adalah Mamanya Aby. "Nggak perlu Ma,Aby hanya kecapean.Beberapa hari ini tugas dari kampus cukup banyak juga ada beberapa masalah di perusahaan." "Ya sudah kalau itu maumu,ingat nanti malam kita ada pertemuan dengan keluarga Pamela.Mereka minta kejelasan hubunganmu dengan Pamela." "Sudab berapa kali Aby bilang sama Mama, kalau Aby nggak mau menikah sama Pamela.Biarkan Aby mencari kebahagiaan sendiri.Mengenai perusahaan,Aby akan bekerja lebih keras lagi agar Mama tidak perlu lagi menjual Aby." "Apa maksudmu By?" tanya Yonna penuh emosi. "Aby rasa Mama sudah faham maksudku.Mama pulang saja, biar Aby sendiri yang bicara sama Om Frans.Tanpa menikah dengan Pamela, Aby yakin bisa mengembalikan kejayaan perusahaan Kakek seperti dulu." Aby menutup tubuhnya dengan selimut dan memejamkan matanya, berharap Mamanya segera pergi. Ia sudah tidak ada tenaga untuk berdebat dengan Mamanya. Yonna mendengus kesal,dan pergi meninggalkan Aby.