KEMBALINYA CINTA PERTAMA

KEMBALINYA CINTA PERTAMA
BAB 47 KABAR YANG MEMBAHAGIAKAN


__ADS_3

Pagi ini Dhiya merasakan perutnya seperti diaduk dan kepalanya berputar putar, badannya lemas tak bertenaga. Aby seperti biasa selepas subuh , jogging di sekitar komplek bersama Sakhiy. Ia membiasakan Sakhiy untuk tiap hari berolah raga ringan. CEKLEK Aby masuk kamar dengan badan masi penuh keringat, ia heran melihat Dhiya masih tidur jam segini. Ia mendekati Dhiya dan menempelkan telapak tangannya dikening istrinya. 'tidak panas', gumannya. "Honey, kamu nggak bangun?" Aby membangunkan Dhiya . "Hem..kepalaku pusing bee." jawab Dhiya dengan suara lemah dengan mata yang masih terpejam. "Kita ke dokter ya." Dhiya menggeleng. "Paling cuma masuk angin. Hoek..." Dhiya berjalan cepat menuju kamar mandi dan membungkuk didepan wastafel mengeluarkan isi perutnya. Aby mengikuti dan memijat tengkuk Dhiya. Setelah mengeluarkan isi perutnya, Dhiya mencuci mulutnya dan wajahnya kelihatan pucat. "Apa masih ingin muntah lagi?" tanya Aby dengan lembut. Baru kali ini ia melihat Dhiya sakit. Istrinya termasuk wanita yang cukuo kuat fisiknya, Dhiya rutin mengikuti kelas aerobik . "Nggak." kemudian Aby menggendong Dhiya ala bridal style menuju ranjang dan merebahkan perlahan di kasur.['mual,muntah,pusing jangan jangan ini tanda tanda hamil'}, batin aby. Aby mengambil kalender diatas nakas dan melihat tanda yang ia lingkari. {telat satu minggu}, batinnya lagi. "Hon, apa mungkin kamu hamil." Dhiya membuka matanya mendengar ucapan Aby, dan mengingat kapan terakhir ia datang bulan. Tapi ia tidak ingat. "Aku tidak tahu bee. Aku juga tidak ingat terakhir datang bulan." "Aku sangat yakin kamu hamil, sudah sebulan lebih kita tidak pernah melewatkan malam yang panas." Aby dengan antusias menunjukkan kalender yang ia beri tanda. "Apa ini?" Dhiya tidak tahu maksud Aby melingkari beberapa tanggal dikalender denga warna merah. "Ini tanggal saat kamu kedatangan tamu bulan. Kalau dihitung, kamu sudah telat satu minggu hon." Dhiya menepuk jidatnya pelan. "Kamu ini ada ada saja bee." "Semoga bibit unggulku sudah tumbuh disini." Aby tersenyum bahagia dan mengusap perut Dhiya. "Kita ke rumah sakit ya?" Dhiya menggeleng, membayangkan rumah sakit membuat perutnya mual. "Belikan testpack saja. Biar aku tes sendiri." belum sempat Dhiya menyelesaikan kalimatnya, Aby sudah berjalan cepat keluar kamar. Dhiya geleng geleng kepala dengan Aby. 'semoga benar kata ayahmu nak, kamu sudah mulai tumbuh disini' guman dhiya sambil mengusap perutnya. Di depan, Irfan dan Maharani sedang bercengkrama. Mereka melihat Aby yang berjalan dengan terburu buru, merasa penasaran. "Ada apa By?" "Nggak ada apa apa Bu, saya mau ke apotik sebentar. Yah, tolong antar Sakhiy ke sekolah. Saya ada urusan penting." "Apa Dhiya sakit?" tanya Irfan. "Dhiya ada di kamar, katanya kepalanya pusing." "Ibu lihat Dhiya dulu Yah." "Ayah juga mau lihat, tidak biasanya anak itu sakit." Keduanya berjalan menuju kamar Dhiya dan bertepatan Sakhiy keluar dari kamarnya, sudah siap dengan seragam sekolah. "Ayah sudah berangkat ya Kek?" "Ayah ke apotik, katanya ibumu sakit kepala. Nanti Sakhiy Kakek yang antar." TOK TOK "Masuk." jawab Dhiya dari dalam. Dhiya duduk bersandar pada kepala ranjang, dan melihat orang tuanya juga Sakhiy yang datang. "Kata Aby kamu sakit Dhi?" tanya Irfan tampak khawatir. "Cuma pusing dan badan lemas Yah, paling karena aku terlalu sibuk akhir akhir ini." "Ibu jangan ke restoran dulu, istirahat di rumah saja." "Iya..mungkin istirahat beberapa hari di rumah." "Apa kamu juga merasakan mual?" tanya Maharani yang mulai menerka nerka. "Iya, barusan juga muntah." Maharani tersenyum penuh arti. "Kenapa Ibu senyum senyum?" tanya Irfan heran melihat istrinya justru tersenyum melihat kondisi Dhiya. "Rahasia, tunggu saja berita gembiranya. Sakhiy, ayo sarapan . Biarkan Ibumu istirahat. Ayo Yah, jangan khawatir, Dhiya akan baik baik saja." Maharani keluar kamar lebih dulu . "Bu, Sakhiy pamit ya." Sakhiy mencium punggung telapak tangan Dhiya. "Iya, belajar yang rajin." "Ayah antar Sakhiy ke sekolah dulu." "Iya Yah, hati hati dijalan." ******* "Bee, kamu beli test banyak sekali. Satu saja cukup." "Biar lebih meyakinkan, aku beli lima dengan merk yang berbeda. Kamu harus gunakan semua. Apa perlu aku bantu?" "Nggak, aku bisa sendiri." Dhiya masuk kamar mandi dan membawa kelima testpack yang dibelikan Aby. Setelah sepuluh menit, Dhiya keluar dari kamar mandi dan kaget karena Aby sudah berada di depan pintu. "Ngapain kamu disini?" "Nunggu kamu.Bagaimana hasilnya?" Aby sudah tidak sabar ingin tahu hasilnya. "Garis dua." Dhiya meraih tangan Aby dan meletakkan kelima testpack ketelapak tangan suaminya itu. Aby bingung melihat testpakc yang bergaris dua warna merah. Dhiya tersenyum geli melihat wajah bingung Aby. "Garis dua itu artinya positif, untuk lebih pastinya bisa periksa ke dokter kandungan." "Jadi artinya kamu benar hamil hon?" Dhiya mengangguk, seketika Aby langsung sujud syukur dan memberikan banyak ciuman diwajah istrinya. "Sudah bee, geli." Aby terkekeh dan membawa istrinya kedalam pelukan. Dhiya pun memeluk erat Aby dan merasakan kenyamanan. Ia menelusupkan kepalanya diketiak Aby dan mencium aroma tubuh Aby. "Kenapa hem..?" "Nggak tahu, pengen aja nyium bau tubuhmu yang masih bau keringat ini." Dhiya belum mau melepaskan pelukannya. "Ada ada saja. Atau mungkin ini bawaan calon bayiku? Ia ingin menandai bau Ayahnya." "Iya kali bee. Hari ini kamu jangan kemana mana ya, temani aku di rumah." pinta Dhiya dengan melas. Sebenarnya ia juga heran, kenapa ia bersikap seperti ini. "Iya sayang, aku akan menemani kalian di rumah." Aby mengusap perut Dhiya kemudia ia berjongkok dan mencium cukup lama dengan mata terpejam.


__ADS_2