KEMBALINYA CINTA PERTAMA

KEMBALINYA CINTA PERTAMA
BAB 12 MELEPAS RINDU


__ADS_3

"Dhiya!" Gilang langsung memeluk adiknya.Ia menangis, tidak bisa menahan air matanya.Biarlah orang orang memandangnya cengeng.Ia cium pipi juga kening Dhiya berkali kali.Alif merasa hatinya panas,melihat laki laki lain mencium Dhiya meskipun itu Kakaknya sendiri. "Hem!" Alif berdehem menyadarkan Gilang bahwa ada tamu tak dikenal. Gilang melepaskan pelukannya dan menatap Dhiya seakan minta penjelasan. "Kami tidak dipersilahkan masuk Kak." "Oh..iya.Silahkan masuk." mereka berempat masuk mengikuti Gilang. "Kak, kenalkan ini Ummi Salma, sebelahnya Abah Zahid dan yang paling ujung itu Mas Alif." "Lalu?" Gilang melirik Sakhiy yang tidur dalam pangkuan Alif. "Itu anak Dhiya, namanya Sakhiy." Gilang tersenyum,kemudian mendekat pada Sakhiy,menatap lekat wajah keponakannya yang sangat mirip dengan Aby.Ia mengusap kepala Sakhiy dan mengecup keningnya. "Tidurkan di kamarmu Dhi,biar nyaman.Kasihan, dia pasti kecapekan habis melakukan perjalanan jauh." "Nggak papa Kak, kalau dipindah nanti malah bangun.Kak, kedatangan kami ingin bertemu dengan Ayah juga Ibu.Apakah mereka ada?" "Ibu sedang keluar, kalau Ayah ada di kamar.Kamu bicaralah sama Ayah."Dhiya menarik nafas panjang. "Abah,Ummi,Mas Alif,saya menemui Ayah dulu." Dhiya pergi ke kamar Ayahnya. Gilang ke dapur membuatkan minuman untuk tamunya.Mereka mengobrol beberapa hal ,sesekali terdengar suara tawa Gilang dan Abah Zahid.Sesekali Ummi Salma menimpali obrolan 3laki laki itu.Sakhiy terbangun karena ia tidur cukup lama.Dengan telaten Alif memberinya minum. "Ibu..Ibu!" "Mungkin Sakhiy pengen minum susu Lif,Ummi ambilkan dulu." Perlakuan Alif juga Ummi Salma kepada Sakhiy tidak lepas dari perhatian Gilang.Dalam hati ia berharap adiknya bertemu dengan orang orang yang tepat. ****** Dhiya membuka pintu kamar Ayahnya dengan pelan.Dilihatnya laki laki paruh baya terbaring diranjang dengan mata ter pejam,badan agak kurus dan wajah pucat.Air mata Dhiya berlinang,ia berjalan mendekati Irfan. "Ayah ," dengan suara pelan dan tercekat ia panggil ayahnya.Ia duduk disamping Ayahnya dan menggenggam telapak tangannya. Seperti ada ikatan yang kuat,perlahan Irfan membuka matanya, ia tatap lekat seseorang yang berada didepannya.Ia kedipkan mata beberapa kali seakan tidak percaya dengan pandangannya. "Dhiya, apa benar ini kamu nak? Ayah tidak bermimpikan?"Irfan bangun dan duduk. "Ayah tidak bermimpi,ini Dhiya putri Ayah." Irfan memeluk putrinya,ia manangis tersedu sedu meluapkan segala rindunya. "Maafkan Ayah,kamu jangan pergi lagi.Tetaplah menjadi putri Ayah." "Iya Yah,Dhiya tidak akan pargi lagi,maafkan Dhiya Yah."Dhiya juga tak kuasa menahan tangisnya,ia terisak dalam pelukan Ayah yang sangat ia rindukan. "Kenapa Ayah jadi seperti ini?Ayah sakit apa?" "Ayah baik baik saja." "Ayah bohong Dhiya." Irfan dan Dhiya menoleh kesumber suara. "IBU!" Dhiya berhambur kearah Maharani,dua wanita beda usia itu berpelukan.Maharani memeluk putrinya namun,tidak ada air mata.Sebelum ke kamar ia sudah berbincang bincang dengan Ummi Salma,jadi ia sudah tahu tujuan putrinya. Ia sangat bahagia,karena putrinya bertemu dengan orang orang baik. "Maafkan Dhiya Bu." "Sudahlah,kamu masih ingat kami saja Ibu sudah bersyukur." "Ibu!" Dhiya menyenderkan kepalanya dibahu sang Ibu. "Apa kamu tidak ingin mengenalkan orang orang yang ada di depan itu." "OH..mereka orang orang yang menolong Dhiya." "Dan tamu kecil itu?" "Tamu kecil?" tanya Irfan yang sedari tadi diam. "Namanya Sakhiy,dia anak Dhiya Yah." "Dia cucu Ayah! Ayah ingi melihatnya." Irfan segera bangun dan berjalan cepat menuju ruang tamu. Maharani tersenyum melihat suaminya. "Sejak kepergianmu,baru kali ini Ayah mu terlihat bahagia."


__ADS_2