
Setelah menyelesaikan beberapa pekerjaan, Aby berniat mendatangi istri tercintanya di restoran baru Dhiya sekaligus makan siang. Menempuh perjalanan tiga puluh menit,sampailah ia di tempat yang dituju. Restoran cukup ramai karena memang jam makan siang dan tempatnya yang strategis , berada di tengah dua perusahaan juga berhadapan dengan kampus elit.Dalam hati,Aby memuji kejelian istrinya yang pintar mencari tempat meskipun harga beli bangunan waktu itu cukup tinggi. "Selamat siang Pak Aby." sapa manager restoran yang melihat kedatangan suami atasannya itu. "Selamat siang, Bu Dhiya di mana?" "Bu Dhiya ada di dapur, apa perlu saya panggilkan?" Aby mengangguk dan mencari meja yang kosong. Tak berapa lama, Dhiya muncul dari arah dapur sambil membawa satu gelas jus jeruk minuman favorit suaminya. Ia tersenyum melihat suaminya. "Kok nggak ngasih kabar kalau mau ke sini?" "Mau buat kejutan." Aby tersenyum dan segera meneguk minuman yang dibuatkan istrinya. "Mau makan apa?" "Terserah istriku, masakan istriku pasti enak." "Aku baru membuat resep baru, kamu coba ya. " Dhiya beranjak dari duduknya dan berjalan menuju dapur. Aby sangat puas dengan hasil masakan Dhiya, ia makan dengan lahab ditemani Dhiya.Restoran semakin ramai, sampai tidak ada meja kosong. "Aku lanjutkan makan di ruanganmu saja. Kasihan pengunjung kalau sampai tidak dapat tempat." "Iya, makanannya biar dibawakan pelayan." ****** "Pulang jam berapa nanti?" tanya Dhiya sambil merapikan kemeja Aby juga memasang dasinya. "Pukul empat, aku sudah janji sama Sakhiy mau mengajarinya membuat sketsa." "Mau menggambar apa?" "Rahasia." Dhiya mencebik, akhir akhir ini Ayah dan anak itu selalu main rahasia. CUP Aby mengecup bibir menggoda istrinya dan dibalas cubitan kecil diperutnya. Dhiya mengantar Aby sampai ke depan restoran. "Aby!" Aby menoleh kesamping melihat seseorang yang memanggil namanya. "Om Haris." Aby menjabat tangan Haris. "Apa kabarnya Om?Lama tidak bertemu." lanjut Aby. "Baik By. Kenalkan ini Raihan, adiknya Raina." Aby tersenyum dan menjabat tangan Raihan, pemuda itu juga tersenyum dan menyambut uluran tangan Aby. "Oh ya, kenalkan juga ini Dhiya istriku Om." Dhiya menangkupkan kedua telapak tangannya didepan dada. "Saya Haris ,salah satu rekan bisnisnya Aby." Dhiya mengangguk. "Saya Raihan,anaknya Haris." Raihan nyegir setelah mendapat toyoran dari ayahnya. "Dasar tidak sopan. Kamu habis makan By?" "Iya Om. Makanan di sini enak." "Om juga penasaran, mau nyoba. Raihan juga bilang kalau makanan di sini recomanded banget, katanya sejak restoran ini buka tiap hari makan di sini." Dhiya tersenyum tipis, dalam hati ia bersyukur kalau rasa masakannya banyak yang cocok. "Terimakasih kalau Raihan suka makanan di restoran ini. Kali ini saya akan traktir Om Haris dan Raihan bebas makan sepuasnya." ucapan Dhiya membuat Haris dan Raihan saling berpandangan. Aby tergelak dan menepuk bahu Haris pelan. "Istri saya ini pemilik restoran ini." Haris dan Raihan ber oh ria dan mereka sama sama tertawa. DEG { senyum raihan mirip sekali dengan senyum dhiya, batin aby} "Wah ..ini keberuntungan bagi saya bisa bertemu secara langsung dengan Kak Dhiya. Saya menyukai semua menu di restoran ini." " Aku ada menu baru, barangkali kamu mau coba?" "Boleh Kak. Em..saya boleh kan manggil Kakak?" Dhiya mengangguk, ia jadi ingat kakak pemuda ini yang memanggil suaminya kakak. "Raihan ini kalau di rumah suka memasak Dhi..jadi Om tidak heran kalau ia suka menjelajahi restoran yang ada di kota ini." "Restoran KHYRA rasa masakannya persis seperti restoran DHIYA." Aby dan Dhiya saling melempar senyum. "Tentu saja, pemiliknya saja sama." jawab Aby. "Mari Om, Raihan sepertinya sudah ada meja kosong." Dhiya mengakhiri perbincangan karena melihat ada beberapa pengunjung yang keluar dari restoran. "Saya tinggal Om, silahkan menikmati makan siangnya." selesai berpamitan Aby masuk mobil meniggalkan mereka bertiga. ***** Aby menepati janjinya , mengajari Sakhiy membuat sketsa sebuah bangunan sederhana. Sakhiy dengan seksama memperhatikan setiap gerakan jari jari Ayahnya yang menari nari diatas kertas. "Apa Sakhiy faham yang Ayah katakan tadi." "Faham Yah." "Coba sekarang Sakhiy buat." Sakhiy mulai membuat pola seperti yang diajarkan Ayahnya, meskipun agak kaku karena baru pertama tapi, Aby puas dengan hasil sketsa anaknya.Aby merasa kemampuan Sakhiy akan melebihi dirinya, kalau terus diasah sejak dini. Sementara Dhiya sedang berbincang dengan kedua orang tuanya di ruang tengah. Sebelum menikah, Dhiya membuat kesepakatan denga Aby kalau mereka tetap tinggal bersama Irfan dan Maharani.Dhiya tidak akan meninggalkan orang tuanya sendiri melalui masa tuanya. Aby pun tidak keberatan dengan permintaan Dhiya. "Yah...waktu di Amerika Dhiya bertemu dengan seseorang yang ada difoto yang Dhiya temukan di gudang waktu itu." "Uhuk..uhuk." Irfan terkejut dengan ucapan Dhiya dan meremas kedua telapak tanganya, demikian juga dengan Maharani. Tubuhnya terasa dingin dan bergetar. "Dia bilang apa?" Maharani berusaha tenang. "Namanya Yoga kan. Beliau cerita kalau dulu Om Yoga pernah menikah dengan adik perempuan Ayah yang bernama Irma." Dhiya pun menceritakan apa yang didengarnya dari Yoga waktu itu. Irfan dan Maharani sama sama menelan salivanya. "Yang deceritakan Yoga benar, tapi Ayah minta kamu jangan menanyakan soal adik Ayah itu. Ia bukan perempuan baik, makanya Ayah mengusirnya dan tidak menganggapnya keluarga lagi." Irfan menahan perasaannya, meskipun ada sedikit kerinduan pada adik satu satunya. Tapi kesalahan yang dilakukan saudarinya itu sudah fatal, hingga ia sulit untuk memaafkannya. Maharani mengelus lengan suaminya agar tenang. "Maaf Yah." Dhiya merasa menyesal telah membuka luka lama Ayahnya dan segera memeluk Irfan agar laki laki tidak sedih laki karena Dhiya melihat Irfan sempat mengusap matanya. Lain lagi dengan Irfan, ia sedih karena takut Dhiya akan tahu kejadian yang sebenarnya . Medapat pelukan dari Dhiya membuat hati Irfan kembali tenang, ia yakin Dhiya akan tetap menyayanginya apapun yang terjadi kelak. "Bagaimana kabar Yoga sekarang?" tanya Maharani berusaha mencairkan suasana. "Om Yoga sudah lama tinggal di Amerika, beliau mempunyai seorang anak laki laki mungkin sekitar dua puluh tahunan. Bahkan Sakhiy juga menginap di rumahnya beberapa hari." "Apa yang dimaksud Sakhiy kalau di Amerika ia punya Opa dan Oma itu?" "Iya, maksudnya Om Yoga dan istrinya, Tante Irene. Ketika Sakhiy tinggal di rumah mereka, Om Yoga rela tidak bekerja hanya untuk menghabiskan waktu bersama Sakhiy. Katanya, seperti punya cucu." Dhiya tersenyum mengenang Yoga dan keluarganya. Lagi lagi Irfan dan Maharani saling barpandangan. " Katanya kalau ke Jakarta, Om Yoga akan main kesini. Pengen ketemu Ayah dan Ibu." "Iya..sudah puluhan tahun kami tidak pernah bertemu."