
Dhiya meremas lengan Aby dengan kuat kala rasa mulas itu datang , Aby meringis menahan sakit oleh remasan Dhiya. Ia tidak bisa membayangkan betapa besar rasa sakit yang dirasakan Dhiya. Sampai di rumah sakit , Dhiya langsung dibawa ke ruang persalinan. Dokter Shila , dokter kandungan Dhiya segera memeriksa jalan lahir. Aby menetap cengo kala jari telinjuk dokert Shila dimasukkan kebagian inti Dhiya. "Sudah pembukaan delapan Bu ..sebentar lagi ya." kata dokter Shila dengan tersenyum. "Hiks..hiks.. ." Dhiya akhirnya menangis karena merasakan sakit yang luar biasa. Maharani mengambil air minum dan memberikannya pada Dhiya. "Minum Dhi." Dhiya minum beberapa teguk , kemudian menarik nafas panjang dan mengeluarkan perlahan. "Sakit sekali Bu." ucap Dhiya pelan. "Kamu bisa menggunakan tubuhku untuk melampiaskan rasa sakitmu sayang, boleh pukul atau kamu cakar.Kamu juga bisa menangis sekeras mungkin." PLAK Dhiya memukul lengan Aby karena rasa mulas itu datang lagi. "Waktu nyetak kan kita diam diam, agar tidak ada yang tahu. Masa mau ngeluarin bikin gaduh, semua orang dengar. Malu maluin." jawab Dhiya. "Maharani cuma bisa geleng geleng kepala dengan ucapan absurd Dhiya , sedangkan Aby menggaruk kepalanya sedikit malu karena ada ibu mertuanya. CEKLEK Dokter Shila masuk kembali dengan tersenyum ramah, kemudian memasang sarung tangan elastisnya. "Kita periksa lagi ya." Dhiya meringis dengan posisi meringkuk, denga sabar Dokter Shila menunggu Dhiya untun merubah posisi agar terlentang. "Tarik nafas panjang , keluarkan perlahan. Terlentang dulu ya , biar saya tahu jalan lahirnya sudah sempurna apa belum." Dhiya mengangguk dan mengikuti arahan Dokter Shila. Sekali lagi Dokter Shila memasukkan satu telunjuknya kebagian inti Dhiya. "Ternyata jalannya sudah terbuka sempurna , ikuti arahan saya. Dalam hitunga ketiga , ibu mengejan sekuat tenaga." "Dhi..ibu keluar ya. Kamu ditemani Aby." ucap Maharani kemudian mengecup kening Dhiya , sedang Dhiya tidak merespon karena merasakan sakit yang luar biasa. Aby duduk bersimpuh diranjang dan menjadikan dua pahanya sebagai bantal kepala Dhiya. "Hiks...hiks... ." "Siap ya Bu...satu..dua..tiga...!" "Aaaghh." Dhiya berusaha mengejan sekuat tenaga. "Stop!" ucap Dokter Shila. "Sebentar ya." lanjutnya lagi sambil mengamati jalan lahir Dhiya. "Sekali lagi..kerahkan seluruh tenaga ya Bu,,,anaknya sudah tidak sabar ingin melihat papa dan mamanya." "Satu..dua..tiga..!" "Kamu bisa sayang...kamu hebat." ucap Aby memberi dukungan untuk Dhiya. "Aaaaaaaghhh! " Dhiya mengejan dengan mengeluarkan seluruh tenaga yang masih tersisa. "oek...oek..oek... ! terdengar suara tangisan bayi yang cukup kencang di ruang bersalin. Dhiya menghembuskan nafas panjang , bersamaan dengan keluarnya bayi, rasa lega juga bahagia luar biasa. Aby menangis dan memberikan banyak kecupan dikepala juga wajah Dhiya. "Kamu hebat sayang...terimakasih." Dokter Shila memberikan bayi Dhiya pada perawat untuk dibersihkan , kemudian ia melanjutkan tugasnya memberikan penanganan pada Dhiya. "Selamat ya , putrinya cantik , sehat tidak kurang apapun." kata Dokter Shila. "Saya boleh lihat Dok?" tanya Aby sudah tidak sabar ingin melihat putrinya. "Boleh..masih dibersihkan oleh suster." Aby turun dari ranjang dan mendekati suster yang sedang membungkus putri kecilnya dengan selimut. " Bu Dhiya hebat lho..kuat sekali menahan rasa sakit." kata Dokter Shila disela aktivitasnya menjahit inti Dhiya yang sedikit robek. "Terimakasih Dok." ucap Dhiya pelan sambil meringis kala merasakan Dokter Shila menusukkan jarum kekulitnya. Tak berapa lama, suster menghampiri Dhiya sambil menggendong bayi mungil. "Waktunya IMD ya Bu,,,permisi saya bantu buka kancing bajunya." ucap salah satu suster membuka kancing baju Dhiya . Kemudian suster yang menggendong bayi meletakkan bayi Dhiya didadanya.Bayi Dhiya spontan membuka mulutnya mencari sumber makanannya. Karena belum juga menemukan, akhirnya suster membantu bayi mungil itu menemukan sumber kehidupannya. HAP Akhirnya bayi itu menemukan sumber kehidupannya , Dhiya meringis sekali lagi merasakan salah satu putingnya masuk kemulut bayinya. "Kalau pertama kali memang perih Bu." kata Dokter Shila. "Ganti yang sebelahnya ya." kata suster, kemudian mengangkat bayi Dhiya dan memindahkan dipayudara sebelah kiri. Aby berdiri dipojokan tidak berani mendekat , ia ngeri melihat Dokter Shila menjahit inti Dhiya. "Pak Aby , karena kondisi ibu dan bayi sehat ,mereka akan dipindah ke ruang rawat inap." kata salah satu suster. "Iya sus." Setelah Dokter Shila selesai memberi perawatan, Aby mendekati Dhiya.Ia menatap lekat istrinya yang baru saja bertaruh nyawa menghadirkan putri kecilnya kedunia. Ia menggenggam tangan Dhiya dan mengecupnya bergantian kiri kanan. "Terimakasih Dhi." "Iya By..sama sama."