
Setelah 2 bulan cuti kuliah,Dhiya sudah aktif kembali di kampus.Ummi Salma dengan senang hati akan mengasuh Sakhiy, panggilan untuk bayi Dhiya.Untuk urusan catering ia percayakan pada Laila. "Mau berangkat kuliah Dhi?" tanya Alif ketika melihat Dhiya mengantarkan Sakhiy ke rumahnya. "Iya Mas.Saya permisi ke dalam dulu Mas." "Masuklah,Ummi sudah menunggu Sakhiy dari tadi."Dhiya tersenyum kecil dan bergegas meninggalka Alif. Dhiya belajar dengan tekun.Meski kesibukannya sekarang bertambah dengan kehadiran Sakhiy, tidak mengurangi semangatnya untuk mengejar impiannya membuka sebuah restoran dengan menu ciptaannya sendiri. Dia juga mengutamakan waktu untuk belajar agama di pondok bersama santri santri yang lain selepas subuh. Hari ini Hanifah akan pulang ke Jakarta,karena Ayahnya sakit.Dhiya merasa sedih karena akan jauh dari teman sekaligus Kakak baginya.Ia jadi teringat dengan keluarganya, bagaimana keadaan mereka sekarang?Apa mereka sehat? Dhiya menangis di kamarnya.Apa kalau ia pulang Ayahnya mau menerimanya juga Sakhiy? Ia mengambil ponselnya yang sudah lama ia matikan sejak berangkat ke Surabaya.Hatinya ragu untuk menghidupkan ponselnya.Akhirnya ia simpan lagi ponselnya.Belum waktunya aku pulang, gumannya. ******* Sakhiy tumbuh dengan baik dan sehat.Usaha catering Dhiyapun sering mendapat orderan dalam jumlah yang cukup banyak. Sehingga Dhiya mencari kontrakan yang agak besar ia khususkan untuk tempat usaha. Dhiya sedang menemani Sakhiy bermain ketika Abah Zahid juga Ummi Salma datang. "Assalamualaikum, selamat pagi cucu Abah." Sakhiy yang mulai bisa berjalan mengahampiri Abah Zahid.Ia merentangkan tangannya kode minta digendong.Abah Zahid dengan senang hati menggendong Sakhiy. "Waalaikumsalam, Abah,Ummi silahkan masuk." Abah Zahid mengajak Sakhiy bermain,sedangkan Ummi Salma duduk berdekatan dengan Dhiya. "Dhi,ada yang ingin Abah dan Ummi sampaikan." "Silahkan Mi." "Hemmm...Ummi bingung, mulai dari mana he..he... .Abah saja yang bicara." "Ummi saja, kalian kan sama sama wanita lebih enak ngomongnya." "Sebenarnya ada apa ini MI? Apa ada masalah?" "Dhi, sebenarnya Alif berniat ingin meminangmu.Sudah lama niatnya ini ia sampaikan pada kami." Dhiya menghembuskan nafas pelan.Wanita mana yang akan menolak dipinang oleh laki laki seperti Mas Alif? Apa ia pantas bersanding dengan putra dari wanita didepannya saat ini? "Tidak perlu dijawab sekarang, kamu salat istikharah ,minta petunjuk pada Allah.Dan kamu juga jangan ragu menyampaikan isi hatimu pada kamu."kata Abah Zahid faham dengan apa yang dipikirkan Dhiya. "Benar kata Abah.Alif itu beberapa kali hendak Ummi jodohkan dengan beberapa gadis,tapi semua ditolak.Ada saja alasannya.Tapi ketika bertemu denganmu,ia bilang pada Ummi hendak meminangmu kalau kamu sudah melahirkan dan belum ada yang meminangmu." "Saya merasa rendah diri kalau bersanding dengan Mas Alif Ummi.Mas Alif begitu sempurna dimata saya dan saya juga takut mengecewakan Mas Alif." "Tidak ada manusia yang sempurna Dhi,kesempurnaan hanya milik ALLAH.Kamu jangan berkecil hati.Semua orang punya masa lalu,dan Alif sudah mengetahui tentang masa lalumu.Yang dilihat Alif saat ini dirimu yang sekarang." Setelah menidurkan Sakhiy,Dhiya segera melakukan salat istikharah.Ia sangat berharap keputusan yang di ambilnya nanti bukan sekedar mengikuti emosi semata. Sedangkan Alif, pemuda berparas tampan tengah gelisah menunggu Abah juga Ummi nya.Ia mondar mandir di ruang tamu. "Assalamualaikum." "Waalaikumsalam, bagaimana Mi?Apa Dhiya sudah memberikan jawaban." "Sabarlah dulu,Dhiya minta waktu untuk mengambil keputusan.Tidak mudah bagi Dhiya membuka hati untuk laki laki setelah apa yang dia alami,apalagi sekarang sudah ada anak." "Alif faham dengan posisi Dhiya Bah.Apapun keputusan Dhiya,Alif akan menerima."