
Irfan dan Maharani saling berpandangan ketika Aby menyatakan niatnya hendak meminang Dhiya.Mereka beralih menatap Dhiya yang menundukkan pandangan. "Bagaimana Dhi? Apa kamu menerima lamaran Aby?" tanya Irfan. "Iya Yah...." "Ayah dan Ibu merestui kalian berdua, semoga kalian mendapat kebahagiaan juga ketenangan menjalani rumah tangga kalian kelak." "Terimakasih Om, Tante saya akan berusaha menjadi suami dan Ayah yang baik untuk Dhiya dan Sakhiy." "Om percayakan Dhiya sama kamu By...bahagiakan Dhiya juga anakmu." "Em...bagaimana kalau kita ke Palembang? Saya ingin berziarah ke makam Pak Alif juga meminta restu pada kedua orang tua beliau." Semua tampak terkejut juga terharu dengan niat Aby, tidak menyangka bahwa Aby berbesar hati melibatkan orang tua Alif . Irfan tersenyum dan menepuk bahu Aby. "Kamu serius By?" tanya Dhiya dengan antusias. "Serius...aku akan segera mengurus semuanya, kalian tinggal tahu beres." Dhiya mencebikkan bibirnya. "Aku tidak percaya kamu yang mengurus..pasti kamu akan menyuruh Hanif." Aby tertawa canggung dan menggaruk kepalanya. "Kalau begitu Ibu akan menghubungi Kakakmu, pasti dia senang kalau tahu kita akan kesana." "Nanti saja kali Bu...waktunya juga belum tahu." "Nggak papa Yah..Aby kan bilang akan mengurus secepatnya.Iya kan By?" "Iya Tante..besok akan Aby urus." "Tuh kan...Ibu masuk dulu.Kalian lanjutkan ngobrolnya." "Ayah juga masuk..mau lihat Sakhiy." Aby menyunggingkan senyum bahagia menatap Dhiya. "Kamu ini kenapa By? Senyum senyum nggak jelas." "Aku sangat bahagia Dhi..aku sudah tidak sabar ingin segera menghalalkanmu.Aku ingin sebelum ke Amerika kita sudah menikah sekalian bulan madu." "Bulan madu?" "Iya..aku akan membawa kalian ke tempat tempat yang menyenangkan di Amerika." "Jadi kita akan bulan madu bertiga?" tanya Dhiya dengan menyunggingkan senyum usil. "Tentu saja.Atau kamu mau kita pergi berdua saja hem..?" Aby menggerakkan alisnya naik turun. "Kasihan Sakhiy By...ia tidak pernah berpisah lama denganku." Aby tersenyum lembut dan mengusap puncak kepala Dhiya yang terbungkus jilbab. "Aku tahu.Besok aku harus keluar kota, jadi tidak bisa mengantar dan menjemput Sakhiy." "Akan aku sampaikan pada Sakhiy, kamu hati hati dan jaga kesehatan." "Aku pulang dulu Dhy." Dhiya mengangguk dan mengantarkan Aby sampai kedepan pagar. ***** Aby baru selesai makan siang dengan salah satu kliennya di sebuah restoran.Ketika ia hendak beranjak dari duduknya,Rania muncul dari pintu masuk dan melihat keberadaan Aby.Ia menyunggingkan senyum dan menghampiri laki laki itu. "Kak Aby disini juga?" "Iya, baru selesai meeting.Kamu mau makan siang?" "Kak Aby temani ya...tadi aku sama teman tapi tiba tiba ia ada panggilan darurat." pinta Rania dengan memasang tampang melas. "Hem...baiklah.Tapi aku nggak bisa lama lama." Rania tersenyum senang dalam hati,ia melirik arlojinya dan tersenyum miring tanpa di ketahui Aby.Makanan yang dipesan Raina pun tiba,wanita itu sengaja makan dengan pelan. "Hemm..makanan di restoran ini enak Kak.Apa Kak Aby sering kesini?" ucap Raina sambil mengunyah makanan dimulutnya. "Jarang...ini tadi klienku mengajak meeting disini.Sekalian makan siang." "Kak Aby beneran akan menetap di sini?" "Sepertinya begitu.Rain..aku harus segera pergi.Kamu tidak apa kan aku tinggal?" "Hem...aku boleh numpang nggak ?Aku tadi kesini sama temanku." Aby berfikir sejenak kemudian mengangguk. Raina segera membayar makanannya dan keluar restoran mengikuti Aby. "Kemana tujuanmu Rain?" tanya Aby ketika sudah didalam mobil dan memasang sabuk pengaman. "Aku langsung pulang Kak." "Oke..tapi aku mau menjemput seseorang dulu, baru aku antar kamu pulang." jawab Aby pandangannya tetap lurus kedepan. "Terimakasih...jadi merepotkan." Sampai didepan sekolah Sakhiy, Aby segera turun dan meninggalkan Raina di dalam mobil.Ia langsung menuju pos keamanan karena yakin Sakhiy pasti menunggunya disana.Sampai di pos keamanan ia tidak mendapati Sakhiy, kata satpam yang berjaga, tadi Sakhiy minta di telponkan ibunya karena perutnya sakit. Aby menyugar rambutnya dengan kasar, dan segera merogoh saku celananya mengambil ponselnya. Ia menghela nafas kasar ketika melihat ada beberapa kali panggilan dan pesan dari Dhiya.Ia lupa kalau ponselnya dari tadi dalam mode silent. Ia buru buru melajukan mobilnya dengan kecepatan diatas rata rata, tampak kekhawatiran diraut mukanya. Raina yang melihat perubahan Aby tidak berani bertanya. Sampai di restoran Dhiya, Aby langsung turun dan masuk kedalam.Ia mengedarkan pandangannya mencari keberadaan Dhiya juga putranya. "Pak Aby." sapa salah satu karyawan Dhiya. "Em..apa tadi Sakhiy kesini?" "Sakhiy ada diruangan Bu Dhiya." "Terimakasih." Aby berjalan kearah ruangan Dhiya, sebelum ia sampai Dhiya dan Sakhiy sudah keluar dari ruangan. "Ayah." sapa Sakhiy . "Maafkan Ayah ya..tadi Ayah meeting jadi ponselnya Ayah mode silent.Tadi Ayah datang ke sekolah Sakhiy.Maaf Dhi."Dhiya hanya mengangguk mendengar penjelasan Aby. "Sakhiy mau makan, apa kamu mau makan sekalian?" tanya Dhiya. "Aku sudah makan setelah meeting tadi.Katanya Sakhiy sakit perut?" "Sudah sembuh Yah...cuma masuk angin." "Syukurlah." Aby tersenyum lega. "Kak Aby." semua menoleh kesumber suara, ternyata Raina sudah berdiri dibelakang Aby.Dhiya dengan tatapan tajamnya,dan Sakhiy dengan tatapan ingin tahu pada wanita yang memanggilnya kakak itu. Aby menelan salivanya, dan tersenyum canggung. "Kalau Kak Aby masih ada perlu aku pulang naik taxi saja." lanjut Raina. "Kenapa buru buru,kita makan siang dulu." kata Dhiya dengan menekan suaranya. "Terimakasih,tapi saya sudah makan." "Rain aku masih lama disini..kamu bisa pulang naik taxi." Raina mengepalkan tangannya tidak menyangka Aby akan mengacuhkannya demi wanita dan anak laki laki ini. "Iya Kak, terimakasih tadi sudah menemani aku makan." Raina menyungginggkan senyum untuk Aby, tapi tak mendapatkan balasan dari Aby. "Siapa tante itu Yah?" tanya Sakhiy setelah Raina keluar dari restoran. "Tante Raina, temannya Ayah." saat ini ayah dan anak itu berada ditaman belakang restoran tempat favoritnya Sakhiy kalau berada di restoran Dhiya. Dhiya datang membawa nampan berisi makanan untuk Sakhiy juga segelas teh hangat.Aby memperhatikan Dhiya, ia yakin ibu dari anaknya pasti marah padanya. "Kamu nggak makan Dhi?" tanya Aby dengan lembut, ia harus putar otak agar Dhiya tidak lagi marah. "Aku puasa." jawab Dhiya singkat. "Ibu sering puasa Yah.." "Oh ya....Ibu memang istimewa." ucap Aby sambil mengerlingkan matanya menatap Dhiya, sedangkan Dhiya melebarkan matanya bisa bisanya laki laki ini bersikap genit didepan anak kecil. Untung saja Sakhiy fokus pada makanannya.