
Aby menyugar rambutnya kebelakang dan menghela nafas beberapa kali, ia menyandarkan punggungnya kesandaran kursi. Ia memikirkan ucapan ayah dan ibu mertuanya . 'apa yang harus aku lakukan? kalau aku memberi tahu sekarang, aku takut akan mempengaruhi kandungannya. tapi, kalau ia tahu aku menyembunyikan hal ini pasti ia akan marah.' Aby berguman sendiri. Tak tahan dengan pikirannya yang kacau , Aby memutuskan pulang. Ia harus segera bertemu dengan istrinya untuk menyegarkan kembali otaknya. Dhiya yang tengah rebahan di ruang tv , kaget saat merasakan seseorang yang meniup puncak kepalanya. Ia pun mendongakkan kepalanya dan melihat Aby tersenyum. "Mengagetkan saja. Kok salam sih?" "Aku kira kamu tidur." "Tumben pulang jam segini?" Dhiya berganti posisi menjadi duduk dan Aby berjongkok didepannya. "Aku tidak bisa konsentrasi. Kepalaku sakit." Aby meletakkan kepalanya dipaha Dhiya. "Aku menyimpan obat sakit kepala. Aku ambilkan.' "Aku nggak mau minum obat , maunya minum ini." tangan Aby dengan jahil meremas salah satu squisi favoritnya. "Tanganmu bee, malu kalau ada yang lihat." Dhiya menyingkirkan tangan Aby dari dadanya. "Kita ke kamar ya." Dhiya mengangguk,dan cuaca siang hari yang cukup terik dilewati oleh pasangan suami istri itu dengan kegiatan panas mereka. "Apa anakku rewel didalam sini?" Aby mengelus perut Dhiya setelah mereka membersihkan diri. "Iya , dia maunya ditemani ayahnya terus." Dhiya menyandarkan kepalanya dibahu Aby , saat ini mereka sedang duduk bersandar pada kepala ranjang. Aby terkekeh , kemudian mengecup kening istrinya cukup lama. "Apa cuma anaknya saja? Ibunya tidak?" "Ibunya juga." Dhiya menempelkan kepalanya didada bidang Aby, dan memeluknya dengan erat. "Nanti sore kita jalan jalan. Terserah kamu mau kemana, aku temani." "Iya..tapi aku mau tidur dulu." jawab Dhiya dengan memejamkan matanya, ia benar benar tidak bisa menahan kantuknya. ****** {siang om} {siang by, tumben telpon ada apa?} {ada sesuatu yang ingin saya bicarakan, kalau bisa ajak tristan juga.} {tempatnya di mana by} {di kantor saya om} {baiklah, om segera ke sana} "Bagaimana By? Yoga bisa datang?" "Bisa Yah , kalau untuk Raihan Aby suruh dia izin sama dosennya." Aby dan Irfan sama sama terdiam , mereka larut dalam pikiran masing masing. TOK TOK "Masuk." "Pak , ada tamu ingin bertemu. Namanya Raihan." "Suruh masuk." Raihan masuk dengan muka yang ditekuk , karena sebenarnya sekarang ia ada ujian . Dan ia harus melewatkan ujiannya karena Aby mengancamnya akan melarang bertemu Dhiya dan Sakhiy. "Kenapa mukamu Nak?" tanya Irfan melihat Raihan tampak tidak bersemangat , sedangkan Aby menahan tawa melihat muka Raihan yang kusut. "Aku masih ada ujuan Paman , dan Kak Aby menyuruhku bolos. Sebenarnya ada apa sih?" Irfan mengacak acak rambut keponakannya dengan rasa sayang. Meskipun hubungannya dengan ibu dari keponakannya tidak baik. "Tunggulah , kita masih menunggu dua orang lagi." "Kak Dhiya nggak ikut Paman?" "Kak Dhiya di rumah, Sakhiy kan libur. Kak Dhiya jangan sampai tahu kalau kita berkumpul di sini." "Awas kalau sampai kamu bilang." "Aduh orang ini , bisa nggak sih nggak main ancam." Raihan menatap jengah pada Aby. Lima belas menit kemudian , Yoga dan Tristan datang dan langsung mengambil tempat duduk. "Terimakasih kalian sudah datang , ada hal yang sangat penting yang ingin disampaikan oleh Ayah Irfan." Aby menoleh pada Irfan dan mengangguk. Irfan menarik nafas panjang dan menghembuskan secara perlahan. "Saya ingin bercerita , dan jangan dipotong sebelum saya selesai. Terutama kamu Yoga." "Iya Mas." perasaan Yoga mulai tidak enak , ia menjadi sedikit khawatir. "Om Yoga tenang , ini berita yang menggembirakan buat kalian bertiga." "Seminggu setelah kalian resmi bercerai, baru diketahui kalau ia hamil. Ia marah,ingin mengugurkan kandungannya. Belakangan, saya tahu kalau selama kamu kerja di luar pulau ia punya hubungan dengan laki laki kaya. Saya dan Maharani berusaha membujuk agar ia bersedia melahirkan bayi itu." Irfan berhenti sejenak , mengusap sudut matanya yang mulai mengembun. "Akhirnya ia bersedia melahirkan bayinya tapi ia tidak mau mengakui bayi itu kalau lahir dan ia minta semua harta peninggalan orang tua kami menjadi miliknya. Saya menyetujui permintaannya, waktu itu dalam pikiran saya hanya ingin menyelamatkan janin yang tidak berdosa. Setelah bayi itu lahir , Irma menyuruh saya membawa bayi itu pergi dan saat itu juga ia ingin memutuskan hubungan darah diantara kami." Irfan terisak sejenak dan tidak ada yang berani mengajukan pertanyaan. "Akhirnya saya bersama Maharani juga Gilang pergi dari rumah dengan membawa bayi cantik yang masih merah. Beberapa bulan tinggal di kontrakan saya berharap Irma akan datang dan berubah fikiran , tapi saya salah. Irma benar benar tidak ingat denga darah dagingnya. Dan ternyata semua aset peninggalan orang tua kami ia jual dan ia pergi entah ke mana." "Saya, Maharani juga Gilang sepakat untuk menyimpan rahasia ini selamanya. Hingga kalian bertiga muncul , saya juga Maharani tiap hari diselimuti rasa bersalah. Kamu orang baik Yoga , juga Tristan dan Raihan yang menganggapnya seperti Kakak sendiri. Akhirnya kami semua memutuskan untuk membuka rahasia besar ini pada kalian. Kalian boleh bertanya sekarang." "Apa anak itu anak saya Mas?" "Iya , dia putri kamu Yoga . Dhiya putri kandungmu." Yoga seketika terisak, ada rasa bahagia juga iba dengan putri yang tidak ia ketahui kehadirannya juga tidak diinginkan oleh ibunya. "Apa adik paman itu Mama saya?" "Iya Nak , ini lihatlah." Irfan menunjukkan foto lama Irma yang masih ia simpan. "Ya Tuhan..Mama." sama dengan Yoga, Irfan terisak menyayangkan sikap Mamanya. "Mama jahat sekali Paman, hiks." Irfan memeluk Raihan memberikan ketenangan, ia tahu remaja seumur Raihan kurang bisa berfikir panjang. "Mamamu pasti punya alasan , kamu harus tetap hormat dan menyayanginya. Satu hal lagi , rahasiakan semua ini." Raihan mengangguk masih dalam pelukan Pamannya. Beda denga Tristan , meskipun ia juga merasa iba dengan cerita masa lalu Dhiya , tapi ia tidak bisa menyembunyikan perasaan senangnya. "Sudah Pa , jangan cengeng. Papa harusnya bahagia , ternyata papa punya putri juga cucu." Aby menoyor kepala Tristan . "Papa ini menangis bahagia Tristan , kamu ini masih kecil mana tahu ." Yoga pun juga menoyor kepala Tristan. "Kalian ini kenapa sih? Main toyor saja." Tristan merasa jengkel dengan Aby juga Yoga, tapi kemudian ia tersenyum, "Ternyata filling ku benar, sejak bertemu Kak Dhiya dan Sakhiy aku seperti merasakan ada ikatan denang mereka."