KEMBALINYA CINTA PERTAMA

KEMBALINYA CINTA PERTAMA
BAB 58 MENUJU LAHIRAN


__ADS_3

Tengah malam Dhiya terbangun karena merasa ada seseorang yang tengah memeluknya.' Mana mungkin Aby , bukannya dua hari lagi ia baru pulang?' pikirnya masih dengan mata terpejam. Dengan mengumpulkan kesadaran penuh , Dhiya membalikkan tubuhnya dan nampak olehnya wajah Aby yang tersenyum kearahnya. Dhiya mengucek matanya agar penglihatannya lebih jelas. "Apa ini mimpi?" Dhiya menepuk nepuk pipinya. "Kamu tidak mimipi hon..aku sudah pulang." "Bukannya masih dua hari lagi?" "Aku merindukan istriku."Aby merapatkan tubuhnya pada Dhiya dan menjatuhkan wajahnya diceruk leher istrinya , menghirup aroma yang tubuh istrinya. "Jam berapa kamu pulang?" tanya Dhiya sedikit mendesah karena Aby mulai memberi gigitan daun telinganya. "Tiga puluh menit yang lalu." jawab Aby masih dengan kegiatannya. "Apa mau akau siapkan makanan?" "Aku mau memakanmu." suara Aby semakain berat dan menyeringai. "Sesst..bee." desis Dhiya karena Aby memainkan dua gundukan kenyalnya. "Aku lakukan sekarang ya?" Dhiya mengangguk dan mencari posisi yang nyaman. Akhirnya dua insan itu melepas rindu dengan berbagi peluh . Pagi hari , Dhiya merasa perutnya sedikit sakit juga bagian inti tubuhnya mengeluarkan lendir berwarna putih. Ia melihat kalender yang ia beri tanda hari perkiraan melahirkan. 'menurut perkiraan seharusnya masih dua minggu lagikan? hem..kamu sudah tidak sabar ingin bertemu dengan kami ya sayang?' Dhiya berguman sendiri di kamarnya. CEKLEK Aby masuk kamar membawa susu untuk Dhiya.Dengan senyum mengembang, Dhiya menerima susu pemberian Aby. "Bee..sepertinya hari ini aku akan melahirkan." mendengar ucapan Dhiya , Aby mengernyitkan dua alisnya seperti memikirkan sesuatu. "Bee!" Dhiya menepuk paha Aby cukup keras karena Aby hanya bengong. "Malah bengong." lanjut Dhiya. "Eh...kamu mau melahirkan? Ayo le rumah sakit sekarang , aku akan memberitahu Ayah dan Ibu?" tiba tiba Aby panik , ia mengambil kunci mobil hendak keluar kamar. "Bee..duduk dulu. Aku belum selesai bicara." "Apa kamu tidak merasa sakit Dhi?" Aby mengelus elus perut Dhiya dengan mimik wajah penuh kekhawatiran. "Bee..dengarkan aku dulu. Saat ini belum terasa sakitnya , tapi lama kelamaan sakitnya akan semakin terasa.Dihitung dari mulai merasa sakit sekitar dua belas jam waktu lahiran. Mungkin selepas waktu magrib." Aby memeluk Dhiya erat dan memberikan kecupan di puncak kepala Dhiya. "Aku akan menemanimu melewati masa itu sayang. Apa kamu menginginkan sesuatu saat ini ?" "Temani aku jalan jalan di sekitar sini." "Apa tidak berbahaya?" "Justru ibu yang mau melahirkan dianjurkan untuk banyak gerak." Irfan dan Maharani duduk santai di teras ketika Dhiya dan Aby keluar. Keduanya merasa agak heran melihat Aby yang masih memakai baju rumahan. "Kamu nggak kerja By?" tanya Irfan. "Nggak Yah..saya mau menemani Dhiya . Katanya perutnya mulai mulas." "Benar Dhi?" tanya Maharani. "Benar Bu , sepertinya hari ini aku mau lahiran. Aku mau jalan jalan sekitar sini." "Sejak kapan perutmu mulas?" "Tadi, bangun tidur." "Kalau begitu Ibu siapkan keperluanmu nanti di rumah sakit." Maharani bergegas masuk rumah. "Ayah , titip Sakhiy ya." kata Aby pada Ayah mertuanya. "Iya ..Sakhiy biar sama Ayah." Dhiya berjalan jalan disekitar komplek rumahnya, ia akan berhenti kalau perutnya terasa mulas. Setelah satu jam , Dhiya memutuskan pulang karena matahari sudah mulai tinggi. "Apa kita ke rumah sakit sekarang?" tanya Aby dengan muka tegang. "Nanti bee...kalau rasa mulasnya semakin sering dan sakit kita berangkat. Sekarang masih bisa aku tahan." Dhiya memejamkan matanya karena rasa mulas itu datang lagi dan agak kuat. Aby mengusap pinggang Dhiya pelan , tidak tega melihat Dhiya. "Apa mulasnya semakin terasa Dhi?" Dhiya hanya bisa mengangguk. "Bu..tolong ambilkan makan ya." kata Dhiya pelan. "Iya, sekalian Ibu buatkan teh hangat." Maharani kembali kebelakang mengambilkan Dhiya makan. Sebenarnya ia juga tegang seperti Aby, ia tahu bagaimana rasa sakit saat bayi kontraksi mencari jalan keluar. Beda dengan Irfan , ia tidak berani mendekati Dhiya karena ia tidak sanggup melihat putrinya kesakitan. Selepas asar , Dhiya semakin merasakan perutnya semakin kuat mulasnya. Keringatnya sudah bercucuran membasahi tubuhnya. "Sayang kita ke rumah sakit ya?" tanya Aby pelan dan Dhiya mengangguk dengan mata terpejam. "Bagaimana By?" tanya Maharani. "Kita ke rumah sakit sekarang Bu." Maharani mengangguk dan mencari Irfan ingin berpamitan. "Yah , kami berangkat sekarang. Kalau mau nyusul ke rumah sakit, pastikan Sakhiy sudah makan." Irfan mengangguk. "Ayah ini kenapa?" "Ayah kasihan melihat Dhiya.Apa tidak ada obat untuk membuatnya tidak kesakitan?" "Ada ada saja, nggak ada Yah. Mau bagaimana lagi..itu memang sudah menjadi kodrat kami sebagai wanita." Irfan memberanikan diri mendekati Dhiya , tubuhnya panas dingin melihat kondisi Dhiya yang nampak pucat menahan rasa sakit. "Ayah..minta doanya." ucap Dhiya melihat Irfan. "Tentu sayang , sebelum kamu minta Ayah selalu mendoakan kamu. Semoga prosesnya lancar , sehat semua." Irfan mengecup pincak kepala Dhiya yang terbungkus kerudung. Setelah berpamitan dengan Irfan , Dhiya masuk mobil yang dikendarai oleh Hanif. Maharani duduk disampung kemudi , sedang Aby dibelakang bersama Dhiya.


__ADS_2