
Hari ini Sakhiy sudah diperbolehkan pulang karena kondisinya sudah sehat,juga lukanya sudah kering.Tapi Sakhiy tampak murung, dan itu membuat Aby dan Dhiya penasaran. "Sakhiy kenapa?Ibu perhatikan dari tadi murung terus." tanya Dhiya dengan lembut. "Sakhiy tidak mau pulang." Aby mendekati Sakhiy dan mendudukkan dalam pangkuannya. "Augh..anak ayah berat juga ya.Sakhiy kenapa tidak mau pulang hem?" Sakhiy memeluk Aby dan menyembunyikan mukanya dalam dada bidang sang ayah. "Kalau Sakhiy pulang pasti Ayah tidak akan menemani Sakhiy lagi.Ayah tidak akan mau tinggal di rumah Ibu." Aby dan Dhiya saling melempar pandangan. "Teman teman Sakhiy tinggal bersama orangtua mereka.Zaina juga,ia tinggal bersama Paman Gilang dan Bibi Hanifah.Sekarang Nenek dan Kakek juga disana." "Hem...mulai besok Ayah yang akan antar jemput Sakhiy sekolah.Sepulang kerja Ayah akan ke rumah Ibu menemani Sakhiy belajar.Bagaimana?" Sakhiy mengangkat kepalanya. "Ayah tidak bohong kan?" "Tapi kalau Ibu mengizinkan." Aby tersenyum kearah Dhiya,seperti biasa Dhiya mengalihkan pandangannya. "Bu...apa Ayah diizinkan?" Sakhiy memasang wajah sedih agar sang Ibu mengiyakan permintaannya. "Boleh." mendapatkan izin dari Dhiya, Aby dan Sakhiy saling bertos ria.Dhiya meninggalkan laki laki beda generasi itu dan melanjutkan mengemasi barang barangnya. ******* Sampai di rumah,Sakhiy mengajak Aby melihat kamarnya.Dengan senang hati,Aby mengikuti langkah laki laki kecil itu.Sedangkan Dhiya bergegas ke dapur,ia akan memasak untuk makan malam mereka bertiga. Selesai memasak,Dhiya berniat melihat Aby juga Sakhiy di kamar.Ia tersenyum ketika melihat ayah dan anak tidur dengan posisi yang sama.Dhiya memeriksa pendingin ruangan damn memastikan suhunya tidak terlalu dingin dan ia pun keluar kamar dan menutup pintu dengan pelan. ******* TOK TOK TOK "Masuk!" "Bos..diluar ada Nona Raina ingin bertemu dengan Anda." kata Lani sekretaris Aby. "Suruh masuk." Aby melirik arloji dipergelangan tangan kirinya.Ia teringat hari ini Sakhiy pulang sekolah lebih awal. "Kak Aby." Aby mengangkat kepala dan tersenyum tipis ketika Raina sudah berdiri dihadapanya. "Silahkan duduk Rain." Raina dengan anggun duduk berhadapan dengan Aby.Ia menyelipkan beberapa rambutnya yang menjuntai kedepan. "Maaf aku datang tidak mengabari Kak Aby terlebih dulu." kata Raina dengan suara yang dibuat selembut mungkin. "Tidak masalah tapi..30 menit lagi aku harus pergi." Raina menyembunyikan rasa kecewanya dengan senyum yang dipaksakan. "Padahal aku kesini ingin mengajak Kak Aby makan siang.Rupanya waktunya tidak tepat." "Maaf Rain...tapi ini tidak bisa ditunda.Emm...Rain aku harap kamu masih ingat ucapanku waktu itu, bahwa hatiku hanya untuk satu wanita.Aku bisa menerima hubungan ini sebatas teman,kalau kamu mengharap yang lebih dari itu aku tidak bisa." Raina mengepalkan tangannya,ia sudah jatuh cinta pada Aby sejak bertemu Aby pertama kali. "Iya Kak,aku tidak lupa.Aku pergi dulu tapi, kalau Kak Aby ada waktu aku mengundang Kak Aby makan malam di rumah." "Aku tidak janji,tapi akan aku usahakan." Aby mengendarai mobilnya menuju sekolahan Sakhiy.Sampai di sekolah ia segera memarkirkan mobilnya di tempat biasa hingga Sakhiy dapat dengan mudah melihatnya.Setelah 10 menit menunggu,ia melihat Sakhiy melambaikan tangan kearahnya.Aby berjalan menghampiri putranya dan menggandeng tangannya menuju mobil. "Bagaimana tadi di sekolah?" tanya Aby ketika sudah berada didalam mobil. "Seperti biasa Yah...tadi Sakhiy ditunjuk Bu Guru untuk ikut lomba melukis mewakili sekolah." "Benarkah?Kapan?" "Senin depan,temanya keluarga.Sakhiy bingung,harus melukis apa?" Sakhiy melihat ke Ayahnya.Aby tersenyum dan memikirkan ide membantu Sakhiy. "Nanti Ayah bantu menari ide." mata Sakhiy langsung berbinar. "Yah,kita ke tempat Ibu yuk.Sakhiy pengen makan ikan bakar." "Boleh.Tapi telfon Ibu dulu ya." Aby menyerahkan ponselnya pada Sakhiy. [Hallo Bu,Sakhiy dan Ayah mau ke tempat Ibu.Sakhiy pengen makan ikan bakar] [iya ,tanyakan pada ayah,pengen makan apa?] "Sama seperti Sakhiy." [kata Ayah sama seperti Sakhiy Bu.] [ya sudah,Ibu tunggu.] Aby menggandeng tangan Sakhiy masuk restoran.Ia membawa Sakhiy ke ruang pribadi Dhiya.Sementara di dapur, Dhiya tengah memasak pesanan putranya.Ia tidak tahu kalau Aby dan Sakhiy sudah datang.Hingga salah satu pegawainya datang dan memberitahu kedatangan Sakhiy. Didalam ruangan Dhiya,Sakhiy sedang mencoret coret kertas gambarnya dan Aby sedang fokus dengan ponselnya. CEKLEK Dhiya masuk diikuti pegawainya yang membawa nampan berisi makanan. "Kalian kok tidak memberitahu kalau sudah datang?" tanya Dhiya sambil menata makanan. "Aku pikir kamu pasti sibuk di dapur." jawab Aby "Aku di dapur menyiapkan makanan untuk kalian.Ayo makan,Sakhiy cuci tangan dulu." "Iya Bu." ******* Sakhiy semakin lengket dengan Aby,tiap akhir pekan ia akan menginap di apartemen Aby.Dhiya sangat bersyukur,akhirnya putranya memiliki figur seorang ayah seperti Aby.Sikap dan perhatian Aby ke Sakhiy menunjukkan kalau ia ayah yang bertanggung jawab. Perlahan Dhiya mulai bersikap lunak pada Aby,meskipun tidak jarang ia masih suka bicara ketus.Aby dengan sabar dan tampa protes menerima dengan lapang dada sikap Dhiya padanya. Aby juga bisa mengambil hati orang tua Dhiya.Irfan dan Maharani pun terkesan dengan rasa tanggung jawab dan kesungguhan Aby pada Sakhiy.Mereka berharap Dhiya mau membuka hatinya lagi untuk Aby,agar kebahagiaan Sakhiy semakin lengkap. Pagi ini Aby membawa Sakhiy mengunjungi makam papa dan kakeknya.Beruntung Sakhiy merupakan anak yang penurut,jadi Aby tidak kerepotan tiap Sakhiy tinggal bersamanya. Ia sudah bertekad akan mengabdikan hidupnya untuk kebahagiaan Sakhiy juga,,Dhiya tentunya. Ia tidak berharap terlalu besar bahwa Dhiya akan mau menerimanya lagi,ia biarkan semua berjalan seperti air mengalir.Baginya yang utama saat ini bersama Dhiya membesarkan Sakhiy.Ia tidak ingi putra satu satunya kekurangan kasih sayang dari orang tuanya. Dhiya sedang menyiram tanaman di taman ketika Aby datang mengantar Sakhiy.Ia mematikan air dan mendekati mobil Aby. "Ibu!" Sakhiy segera keluar mobil dan menghampiri Dhiya, disusul Aby dengan membawa kantong plastik berisi alat menggambar Sakhiy.Dhiya tersenyum menyambut dua laki laki beda usia itu. "Wah,,senangnya yang habis jalan jalan.Diajak Ayah kemana saja hari ini?" "Tadi diajak Ayah ke makam kakek buyut dan makam opa.Terus kita nonton,pulangnya Ayah membelikan Sakhiy alat menggambar." "Kalau gitu Sakhiy mandi dulu ." "Ya Bu." Sakhiy masuk rumah meninggalkan Aby dan Dhiya di teras. "Mau minum apa?" "Teh manis saja." Dhiya segera masuk kedalam.Sedangkan Aby membuka ponselnya melihat beberapa email yang masuk.Tak berapa lama Dhiya keluar membawa 2 cangkir teh.Aby segera mematikan ponselnya dan meletakkan dimeja. "Kapan Om Irfan dan Tante Maharani pulang?" "Kalau nggak ada halangan minggu depan.Putrinya Kak Gilang suka rewel kalau Ayah mau pulang." "Aku sudah membuatkan janji dengan notaris.Besok jam makan siang." "Apa kamu bisa menemani?Aku nggak faham urusan seperti itu." "Tentu saja bisa.Aku akan selalu mengutamakan urusan kalian berdua." Aby tersenyum menatap Dhiya lekat.Jantungnya selalu berdetak lebih cepat tiap kali berhadapan dengan Dhiya.Demikian juga Dhiya,ia meremas jemarinya untuk mengalihkan kegugupannya.