
Aby menggandeng tangan Dhiya berjalan menyusuri taman kota,meskipun malam tapi masih cukup ramai oleh pengunjung karena akhir pekan. Banyak pkl yang menggelar dagangannya di luar area taman.Dhiya mengulas senyum melihat dua anak yang seumuran Sakhiy sedang kejar kejaran sambil tertawa. "Kenapa?" tanya Aby memperhatikan istrinya. "Lihat anak anak itu By...mereka seperti nggak ada beban bisa tertawa lepas." Dhiya tercenung sesaat teringat beberapa tahun lalu Alif mengajak Sakhiy bermain bola.Tiba tiba matanya berembun dan buru buru ia hapus sebelum menetes.Aby membawa Dhiya dalam pelukannya dan mengecup keningnya beberapa kali. "Menangislah jangan ditahan, kamu pasti ingat Pak Alif kan?" Dhiya mengangguk sambil terisak. "Maaf By." "Nggak apa apa." Aby tersenyum dan mengusap pipi Dhiya dengan kasih. "Kamu jangan salah faham ya By,meskipun aku tidak bisa melupakan Mas Alif bukan berarti aku masih mencintainya.Aku sayang sama Mas Alif dan sangat menghormatinya.Kamu dan Mas Alif sama punya tempat istimewa dihatiku." Dhiya merasa tidak enak pada Aby. "Iya sayang..aku tahu itu.Kamu sudah mau menerimaku saja aku sudah sangat bahagia,apalagi mendapatkan cintamu lagi." Dhiya tersenyum bahagia,benar kata ibunya kalau Aby sudah banyak berubah . "Kamu semakin pintar merangkai kata kata rayuan.Aku takut akan banyak wanita yang menginginkanmu dan kamu akan meninggalkan aku lagi." "Aku nggak pernah sekalipun bersikap manis pada wanita lain, kepada Raina pun aku biasa saja." "Bagaimana ceritanya sampai kamu kenal sama Raina?" Dhiya jadi teringat sama wanita yang berusaha mengejar cinta suaminya itu, tiba tiba hatinya sedikit kesal mengingat wanita itu. "Em..setelah terakhir kali kita bertemu waktu itu aku begitu frustasi dan memutuskan menetap di Amerika dan aku menutup kabar apapun yang berhubungan denganmu.Tiap malam aku habiskan dengan minum minuman keras,hingga waktu itu aku mabuk berat saat pulang dari club malam dan tidak sadar berjalan dijalan raya sampai nyaris tertabrak mobil dan didorong oleh Raina .Aku sendiri juga tidak tahu mengapa Raina ada disitu." "Apa sekarang kamu masih suka minum minuman itu?" "Sejak Sakhiy memanggilku ayah aku sudah tidak menyentuh minuman itu lagi.Tapi kalau untuk merokok aku masih belum bisa berhenti Dhi." "Tapi kamu harus menguranginya By, itu untuk kesehatanmu juga." "Aku pikir pikir dulu." "Hiss..kok pakai dipikir segala, jelas jelas tidak baik." Aby terkekeh melihat Dhiya yang tampak kesal. "Maksudnya aku pikirkan dulu panggilan apa yang cocok untuk istri tercintaku ini." Dhiya ternganga dengan kekonyolan suaminya. "Aku panggil kamu honey ya." lanjut Aby "Aku bicara serius By..kamu malah bahas yang lain." "Ha..ha..iya iya aku akan berhenti merokok kamu yang sabar ya honey.Kalau panggilan sayang kamu ke aku apa? Panggil mas juga boleh." "Kita seumuran By, lagian aku kok geli ya manggil kamu mas ha..ha.." Aby menggelitik perut Dhiya. "Cukup By, ampun ha..ha..sudah By malu ini tempat umum." "Nggak ada yang lihat,aku memang sengaja nyari tempat yang sepi.Ayolah Dhi..semua orang memanggilku by jadi kamu harus beda." "Baiklah baiklah..aku akan manggil kamu bee yang artinya sayang.Puas sekarang?" "Gitu dong honey." Aby mencubit gemas kedua pipi Dhiya. "Kita pulang sekarang bee..aku ngantuk pengen lansung tidur." "Kamu boleh langsung tidur tapi...setelah itu kita akan begadang sampai pagi." Aby menyeringai sambil mengedipkan sebelah matanya. "Dasar mesum!" Dhiya berjalan mendahului Aby ,ia ingin segera merebahkan tubuhnya karena sudah sangat mengantuk. ******* Malam ini malam terakhir Aby dan Dhiya menginap di hotel, saat ini mereka berdua sedang duduk di balkon kamar menikmati suasana malam kota Palembang. Aby memainkan rambut panjang Dhiya dengan jemarinya sedangkan Dhiya asyik menatap lampu lampu yang tampak berkelap kelip. "Rambutmu harum sekali honey,aku suka." "Bagaimana tidak harum tiap hari keramas." jawab Dhiyatanpa mengalihkan perhatiannya. "Tapi kamu suka kan? Kamu pintar sekali merawatnya..masih tetap sempit dan menggigit." PLAK Dhiya refleks memukul paha Aby yang bicara selalu menjurus ke hal mesum. Aby terbahak tapi merasa aneh dengan Dhiya yang selalu kesal kalau membahas hal intim, padahal istrinya kalau diranjang juga cukup aktif dan pintar memimpin permainan. "Nanti kamu yang pegang kendali ya..aku suka melihatmu diatasku,tampak seksi dan wow!" "Nggak mau..aku capek mau tidur." "Yakin mau langsung tidur hem..." Aby meniup belakang telinga Dhiya dan tangannya bergerak masuk kebalik piyama yang dipakai istrinya. "Tangan kondisikan." Dhiya menahan tangan Aby yang bergerak kearah bukit kenyalnya. "Maunya sih diam...tapi tangan ini seperti ada magnetnya tahu saja dimana mainannya bersembunyi." Dhiya yang agak kesal karena masih ingin menikmati cantiknya lampu yang kerlap kerlip akhirnya memutar tubuhnya menghadap Aby.Ia memutar bola matanya seperti memikirkan sesuatu dan kemudian tersenyum devil. "Oke bee..aku yang akan memimpin tapi ada syaratnya?" "Apa?" Aby begitu bersemangat. "Kamu cukup diam saja, dan nikmati sentuhanku.Kalau kamu tidak bisa..biarkan aku tidur dengan tenang malam ini." "Siap ratuku." Aby menggendong Dhiya masuk kamar menuju ranjang yang akan menjadi saksi bisu dua anak manusia saling bertukar peluh.