KEMBALINYA CINTA PERTAMA

KEMBALINYA CINTA PERTAMA
BAB 32 RESTU UNTUK ABY


__ADS_3

"Masih betah disini Dhi?" tanya Maharani ketika mendapati Dhiya sedang duduk di teras. "Ibu..belum tidur?" "Tadinya mau tidur,tapi Ibu lihat lampu teras masih terang." Maharani duduk disebelah Dhiya , menikmati udara malam yang mulai terasa dingin. "Apa Sakhiy sudah tidur?" "Mungkin,kamarnya sudah sepi.Ayah pasti ketiduran di kamar Sakhiy." "Bu...em...apa menurut Ibu saat ini Sakhiy bahagia?" Maharani mengernyitkan alisnya mencoba memahami ucapan Dhiya. "Ibu rasa begitu..sekarang ia mempunyai sosok ayah yang sangat bertanggung jawab.Alif pergi saat Sakhiy masih terlalu kecil untuk mengingat sosok seorang ayah. Sakhiy itu istimewa, ia pandai menyimpan perasaannya sendiri." Ibu sangat yakin Aby laki laki yang baik selepas apa yang terjadi dimasa lalu.Jangan tahan perasaanmu,biarkan mengalir." "Dhiya takut akan kehilangan untuk kesekian kalinya.Sampai saat ini Dhiya masih belum bisa melupakan Mas Alif." "Memang kamu tidak boleh melupakannya.Andai kamu punya pasangan nanti,masing masing harus punya tempat tersendiri dihatimu." "Apa ada laki laki yang mau terima kalau hati istrinya terbagi untuk mantan suaminya?" "Kalau ia laki laki baik pasti menerima Dhi, dan Aby salah satunya." "Kok Aby lagi sih?" "Lha Ibu benar kan, Aby sudah menunjukkan dengan sikapnya.Sudah malam,ayo tidur kata Sakhiy besok Aby tidak bisa menjemput sekolah?" "Iya Bu, besok Aby harus menemani Dhiya bertemu dengan beberapa temannya yang bersedia menjadi donatur Yayasan ALIF juga rapat dengan para pengurus Yayasan." ****** Seperti biasa pagi ini Aby datang ke rumah Dhiya untuk mengantar Sakhiy sekolah tapi, ada yang beda kali ini Dhiya ikut serta.Dhiya memakai gamis berwarna hijau botol senada dengan warna jilbabnya terlihat kontras dengan kulitnya yang putih. Sedangkan Aby mengerjapkan matanya beberapa kali melihat penampilan Dhiya. "Ayah...kok bengong?" Irfan dan Maharani saling melempar senyum melihat kekonyolan Aby. "Eh..Sakhiy sudah siap?" Aby salah tingkah karena kepergok tengah memandangi Dhiya sedangkan Dhiya geleng geleng kepala. "Sudah dari tadi By, kamu saja yang dari tadi bengong." ucap Irfan.Aby tersenyum canggung dan segera berpamitan pada orang tua Dhiya. "Sakhiy nanti dijemput siapa Dhi?" tanya Aby ketika mereka sudah dalam perjalanan. "Tentu saja Ayah By,nanti Sakhiy akan diajak Ayah ke rumah mertuanya Kak Gilang." "Ada acara apa?" "Cuma anjangsana biasa." Sakhiy yang duduk dikursi belakang tengah asyik melihat suasana diluar mobil.Ia tidak begitu mengikuti pembicaraan Ayah dan Ibunya. "Kamu cantik sekali pakai gamis itu Dhi." "Jadi aku hanya cantik kalau pakai gamis ini saja?" Aby melongo mendengar ucapan Dhiya . "Nggak kok..kamu selalu cantik pakai baju apapun." Aby menghentikan mobilnya karena sudah sampai didepan gedung sekolah Sakhiy.Ia dan Dhiya turun mengantar Sakhiy sampai didepan gerbang sekolah. "Nanti pulang sama Kakek ya Nak.Ayah menemani Ibu kerja." "Iya ..Sakhiy masuk dulu ya." Sakhiy mencium punggung telapak tangan Aby dan Dhiya bergantian kemudian melangkahkan kakinya menuju ruang kelasnya. "Ayo By." "Sebentar Dhi,aku mau nunggu Sakhiy sampai ia masuk kelas." Dhiya menyamakan pandangannya seperti Aby.Ketika Sakhiy sudah sampai didepan kelas ia berbalik dan melihat kearah gerbang kemudian melambaikan tangannya,dan Aby dengan senyum lebar melambaikan tangan juga. Dhiya mengulum senyum dan hatinya menghangat. "Kalau mau senyum senyum saja Dhi, nggak usah ditahan." Dhiya tidak menyadari kalau Aby dari tadi mencuri pandang kearahnya. Ia pun tersenyum lebar kearah Aby. "Begini?" Dhiya menatap Aby dan melihatkan senyumnya. "Hemm..." Aby menutupi kegugupannya dengan wajah datar dan berjalan menuju mobilnya. 'dasar..baru dikasih senyum saja sudah salah tingkah' guman Dhiya. Aby menjalankan mobilnya menuju Yayasan ALIF.Selama perjalanan Aby tidak bersuara karena sibuk menormalkan detak jantungnya. Sedangkan Dhiya lebih memilih melihat suasana diluar.Ia pun juga sama,dadanya berdebar tidak seperti biasanya. "Sudah sampai Nyonya." Aby melepaskan selfbelt nya. "Oh..cepat sekali." "Karena aku mengemudikannya pakai cinta,jadi seseorang yang duduk disampingku merasa nyaman." "Ck...perayu." Aby terkekeh segera keluar mobil dan berjalan cepat memutari mobil mmembukakan pintu untuk Dhiya. "Silahkan Nyonya,calon ibu dari anak anak Aby." Dhiya mencubit lengan Aby dan melipat bibirnya. "Augh...kamu ini hobi sekali mencubit.Apa kamu juga sering mencubit Sakhiy? Awas saja kalau Sakhiy sampai kamu cubit?" "Memang kenapa? Kalau nakal tentu saja harus dihukum." "Aku juga akan menghukummu kalau sampai bibit unggulku kamu cubit." "Nggak jelas banget." Dhiya menahan tawanya dan meninggalkan Aby yang masih dengan perasaan kesal karena mengira Dhiya juga suka mencubit kalau Sakhiy nakal. ' anakku anak yang manis, mana ada dia nakal' gumannya. Rapat dengan pengurus Yayasan berjalan lancar karena Aby menyampaikan visi dan misi dibangunnya Yayasan dengan bahasa lugas tidak bertele tele sehigga mudah dimengerti.Dhiya teringat kata kata Ibunya semalam,bahwa dua laki laki yang ada dalam hidupnya punya tempat tersendiri dihatinya. Alif yang mempunyai gagasan dibangunnya yayasan,sedangkan Aby yang turun tangan langsung mengurus ter realisasinya gagasan tersebut. ******* Tengah hari rapat dengan pengurus yayasan baru selesai, selesai makan siang Aby malajukan mobilnya menuju cafe dimana ia dan beberapa temannya akan bertemu. "Kamu jangan kaget kalau nanti bertemu dengan teman temanku, mereka agak gesrek.Kamu jangan jauh jauh dari aku." "Ada berapa orang?" "Kalau semua datang ada 5 orang, laki laki semua." "Apa mereka sudah menikah semua?" Aby langsung menoleh kearah Dhiya dan memicingkan matanya. "Kenapa bertanya seperti itu?Jangan berpikir macam macam." "Macam macam apa?" "Kali aja kamu mau mencari kandidat calon suami." "ASTAGFIRULLAH... jadi kamu berfikir seperti itu?" "Kenapa senyum senyum?Aku kan jaga jaga.Aku nggak rela Sakhiy punya ayah tiri?" "Aughh... Dhi! Kenapa kamu nyubit disitu." Dhiya terkejut dan segera menyingkirkan tangannya dari paha Aby.Ia segera memalingkan mukanya karena malu telah mencubit Aby hampir mendekati pangkal paha. "Kamu sih..pakai nyebut ayah tiri.Aku juga nggak ada pikiran nyari ayah tiri untuk anakmu." "Anak kita Dhi.Aku akan bawa Sakhiy pergi jauh kalau sampai kamu nikah sama laki laki lain." "Ihh...kok gitu?Aku nggak bisa nikah dong!" "Bisa, asalkan nikahnya sama aku." BLUS Pipi Dhiya merah seketika ,lagi lagi ia memalingkan mukanya.Aby tersenyum bahagia, ia teringat dulu Dhiya jugaa seperti itu tiap kali ia goda.Ia sangat yakin, Dhiya mulai mau membuka hati lagi untuknya. "Dhi...." "Hem..." "Apa pemandangan diluar lebih indah dari orang yang duduk disampingmu?" "Jangan gombal terus dong By.Kita bukan Abg lagi, malu sama umur." "Ha...ha...jadi kamu maunya to the poin gitu." "Tau !" Dhiya melipat tangannya didada dan memejamkan matanya.



__ADS_2