
Dhiya tengah merapikan penampilannya ketika ponselnya berdering. {halo bee} {sudah berangkat hon?} {belum..sebentar lagi} {kabari aku kalau sudah sampai} {iya..sudah ya, sepertinya yang lain sudah siap} Malam ini Yoga mengajak Dhiya dan juga anggota keluarganya untuk makan malam di sebuah restoran. Setelah mengetahui ia mempunyai seorang putri, Yoga memutuskan untuk kembali ke Indonesia dan tentu saja itu membuat Irene dan Tristan senang. Tristan menunggu kedatangan Kakak perempuannya di halaman restoran , ia sangat merindukan Kakak juga keponakannya karena sudah sebulan tidak bertemu. Saat melihat mobil yang dikendarai Irfan memasuki area parkir , senyumnya mengembang dan berjalan cepat mendekati mobil Irfan. "Paman , Bibi!" "Tristan , ngapai kamu disini?" tanya Maharani karena terkejut dengan kedatangan Tristan yang tiba tiba. Tristan hanya nyengir kuda dan membuat Dhiya geleng geleng kepala. "Hai boy..tos dulu dong!" Tristan tersenyum kearah Sakhiy dan keduanya bertos ria. "Satu bulan nggak ketemu..kamu semakin tinggi boy." TRistan mengacak acak rambut Sakhiy dan membuat pemilik rambut cemberut. "Jangan diacak acak Paman..nanti aku nggak ganteng lagi." Tristan tertawa lebar melihat Sakhiy yang berada didepan kaca spion tengah merapikan kembali rambutnya. "Kakak cantikku..apa kabar?" Tristan merentangkan tangannya hendak memeluk Dhiya dan langsung mendapat tepukan cukup keras dari Maharani. "No...no... ." Maharani menggerakkan satu jari telunjuknya kekanan dan kekiri pertanda tidak boleh. "Ha...ha.. sabar dulu." sahut Irfan , sedangkan Tristan lagi lagi nyengir sambil menggaruk garuk kepalanya yang tidak gatal. Saking bahagianya bertemu Dhiya , ia melupakan kalau Dhiya belum mengetahui rahasia besar ini. "Ayolangsung masuk saja." Dhiya berjalan lebih dulu memasuki restoran. Sampai di dalam lebih dulu ia mengitari pandangan keseluruh penjuru ruangan dan mendapati sepasang suami istri tengah berbincang dan saling melempar tawa, Dhiya tersenyum melihat pasangan yang sudah tidak muda itu dan berjalan mendekati keduanya. "Dhiya..sini sayang." sapa Irene ketika melihat kedatangan Dhiya. Yoga pun menoleh kebelakang , dan melihat Dhiya tepat dibelakangnya. Dadanya berdebar , ini adalah pertemuan pertama dengan Dhiya setelah mengetahui kalau Dhiya adalah putrinya. "Malam Tante.. Om Yoga." "Malam sayang." jawab Irene denga ramah , sedang Yoga hanya mampu mengangguk karena lidahnya terasa kelu untuk mengaluarkan suara. Matanya mulai mengembun berada sedekat ini dengan putri yang baru ia ketahui sebulan lalu. Tak berapa lama, rombongan Tristan dan yang lain tiba. "Ini dia, cucu Oma. Peluk Oma dong!" Sakhiy mencium punggung telapak tangan Irene kemudian masuk dalam pelukan Irene. "Oma kangen tahu." dengan gemas Irene mencium kedua pipi Sakhiy. "Opa juga pengen dipeluk ." Sakhiy mendekati Yoga, dan melakukan seperti yang dilakukan pada Irene. Dengan haru, Yoga memeluk cucu laki lakinya dan mengecup puncak kepala Sakhiy cukup lama. "Kok Opa nangis?" tanya Sakhiy dengan polos karena melihat mata Yoga berair. Buru buru Yoga menghapus air matanya. "Opa menangis karena bahagia bertemu dengan Sakhiy." sahut Tristan , dan Sakhiy manggut mangut sambil berohria. "Susah berapa bulan Dhi?" tanya Yoga . "Jalan enam bulan Om." "Kita pesan makan yuk! Aku sudah lapar nih." Tristan membuka buku menu dan mulai memilih menu. "Kamu pesan apa boy?" tanya Tristan pada Sakhiy dan kebetulan duduk keduanya bersebelahan. "Sakhiy mau ini , ini dan minumnya ini." Sakhiy menunjuk beberapa menu. "Oke..kita samakan saja ya. Paman juga suka makanan yang Sakhiy pesan. Tos dong!" keduanya pun bertosria entah yang keberapa kali. Sambil menikmati makan , mereka berbincang santai dan sesekali saling melempar candaan. Dhiya sangat senang karena mendapat keluarga baru , senyum tak lepas dari bibirnya . Apalagi melihat tingkah konyol Tristan yang beberapa kali mendapat toyoran dari Yoga. "Saya permisi dulu , mau ke toilet." ucap Dhiya karena ingin buang air kecil. "Perlu ditemani Dhi?" kata Maharani. "Nggak perlu Bu." "Hati hati ya sayang!" tambah Irene . ******* Selesai dengan urusannya Dhiya keluar dari kamar mandi, bersamaan dengan itu dua kamar terbuka bersamaan dan ketiganya saling bertatapan. Dhiya menghembuskan nafas dengan kasar , tidak menyangka akan bertemu dua orang ini lagi. "Heh...kebetulan sekali kita bertemu.Saya hanya ingin bilang kalau kamu tidak cocok dengan Aby." ucap wanita itu yang tak lain adalah Irma. Dhiya mengernyitkan kedua alisnya mendengar ucapan Irma, sedangkan Raina tersenyum sinis. "Raina sudah lama mencintai Aby , dan ia lebih pantas mendampingi Aby." lanjut Irma.Sebenarnya Dhiya ingin segera pergi dari hadapan dua orang didepannya. "Benarkah? Tapi mengapa Aby tidak memilih anak perempuanmu untuk jadi istrinya?" Dhiya tersenyum miring menatap lawan bicaranya. "Kamu fikir kami tidak tahu , kalau sebelum menikah dengan suami pertamamu kamu sudah mempunyai anak yang tidak jelas bapaknya. Gayanya saja sok alim." ucap Raina dengan sengit. "Jangan jangan anak dalam perutmu itu juga belum jelas bapaknya." tambah Raina lagi. "Bangga sekali memelihara anak haram." ucap Irma denga ketus. "Cukup! Kalian benar benar keterleluan." jawab Dhiya agak mengeraskan suaranya , ia sudah tidak bisa mengendalikan emosinya. Tubuhnya merosot kelantai dan air matanya mengalir dengan deras. PLAK PLAK Dua tamparan mendarat dipipi Irma dan Raina cukup keras, keduanya sangat terkejut tiba tiba mendapatkan tamparan yang cukup keras. Irma dan Raina menoleh pada orang yang sudah membuat pipi mereka terasa berdenyut dan panas. "Maas..Ir..irfan!" Irma membelalakkan matanya melihat siapa orang yang telah menamparnya. "By..bawa Dhiya pergi dari sini." Irfan melihat Aby yang sedang duduk memeluk Dhiya. "Hiks..hiks... ." Dhiya menangis dalam dekapan Aby. "Sayang..ayo kita pergi dari sini Aku akan menggendongmu." Aby berjongkok mengambil posisi untu menggendong Dhiya. "Kalau sampai terjadi sesuatu dengan istriku , aku akan membuat perhitungan dengan kalian berdua." Aby menatap tajam pada Irma dan Raina. Setelah Aby membawa Dhiya pergi , dengan muka merah menahan marah Irfan kembali menatap Irma juga Raina. Sedangkan Irma tidak berani mengangkat kepalanya. "Kamu tahu siapa yang baru kamu hina tadi?" ucap Irfan dengan suara serak penuh dengan kesedihan. "Dia adalah putriku , putri yang aku besarkan dengan kasih sayang juga dengan nyawaku. Dan anak yang kalian anak haram , dia adalah cucu kebanggaan kami , darah daging Aby.Dan mulut busuk kalian, telah membuat putriku menangis. Dan kau..wanita tidak tahu diri , apa kau sudah lupa dengan perbuatanmu dimasa lampau? Apa kekayaan sudah membuatmu lupa , betapa kejinya kamu sebagai wanita?" Selesai denang ucapannya , Irfan berlalu meninggalkan mereka. Tampa semua orang tahu , sedari tadi ada sepasang mata yang melihat kejadian itu. Setelah Irfan pergi , ia menghampiri ibu dan anak yang masih syok mengatahui kalau kebenaran kalau anak yang baru mereka hina adalah anak Aby. Bulir bulir keringat dingin keluar dari yubuh keduanya. TAK TAK Suara sepatu beradu dengan lantai mendekati keduanya , bersamaan mereka mengangkat kepala melihat orang yang saat ini berada tepat didepan mereka . Lagi lagi Irma dibuat terkejut dengan orang yang saat ini menatap tajam kearahnya. "Yo..yoga!" "Jangan sebut namaku dengan mulut kotormu itu! Aku harap ini terakhir kali kalian mengusik Dhiya , kalau sampai kejadian seperti ini terulang lagi..aku akan membuat kalian hancur." "Dan kau pasti belum lupa bagaimana kalau aku sudah marah!" Irma susah payah menelan saliva mendengar kalimat terakhir yang diucapkan Yoga.