
"Ibu sama Ayah beneran nggak ikut pulang bareng kita?" Dhiya sekali lagi bertanya pada Irfan dan Maharani yang menolak pulang dengan alasan satu minggu lagi Aby akan membawa Dhiya dan Sakhiy ke Amerika selama dua minggu, jadi dua orangtua itu pasti akan kesepian jadi mereka memutuskan tinggal bersama Gilang dulu . "Nanti Ayah dan Ibu akan pulang kalau kalian sudah tiba di Jakarta, kalian nikmatilah liburannya." jawab Irfan . "Kakek dan Nenek ikut kita saja,pasti bakal rame." Sakhiy yang sedari tadi mendengarkan para orang dewasa bicara akhirnya ikut menimpali.Maharani tersenyum dan memeluk cucu laki lakinya dengan sayang. "Nenek masih kangen sama Zaina dan Zein..kalau Sakhiy sudah di rumah pasti waktu Kakek dan Nenek akan lebih banyak untuk Sakhiy." Sakhiy manggut manggut seperti mengerti yang dimaksud Neneknya. "Semua sudah siap , ayo berangkat sekarang." suara Aby mengakhiri obrolan manusia tiga generasi itu. Semua ikut ke bandara mengantar keberangkatan Aby. Sampai di bandara Dhiya berpamitan dan bergantian memeluk tiga wanita yang sangat disayanginya,Ummi Salma, Maharani juga Hanifah.Tidak ada tangis kesedihan yang ada tawa penuh kebahagiaan dan juga candaan konyol yang dilontarkan Hanifah. ******* Sekitar jam tujuh malam Aby dan keluarga kecilnya tiba di rumah Dhiya, Sakhiy begitu bahagia karena akan tinggal serumah dengan Ayahnya. Sehabis makan malam Sakhiy langsung pamit ingin segera tidur dengan alasan sudah ngantuk dan capek,Aby menemani putra kesayangannya ke kamar. Selesai membersihkan diri Dhiya juga merebahkan tubuhnya diranjang, ia juga merasa lelah ingin segera tidur.Tapi tidak bisa langsung ia lakukan karena harus menunggu Aby terlebih dulu. CEKLEK Pintu terbuka,muncul Aby dari balik pintu dan menutup pintu kembali tidak lupa menguncinya. "Apa Sakhiy sudah tidur?" Dhiya duduk dengan bersandar dikepala ranjang. "Sudah." jawab Aby singkat sambil melepas kemejanya dan terlihat dada bidangnya yang berotot membuat Dhiya menelan salivanya membayangkan tubuh kekar itu menindihnya. "Baju gantiku mana honey?" suara Aby membuyarkan pikiran nakal Dhiya. "Oh..ini, aku sudah menyiapkan baju gantimu." jawab Dhiya kikuk, malu kalau Aby sampai tahu ia berfikiran mesum tentangnya. Aby tersenyum mendekati Dhiya dan merangkak mendekati istrinya yang wajahnya sudah merona. "Bajumu bee." Dhiya menyodorkan baju dan diterima Aby tapi, malah dilempar ke ujung kasur. "Apa kamar ini kedap udara?" tanya Aby tepat ditelinga Dhiya dan seketika membuat bulukuduk Dhiya bangun. "Iya." Aby menyeringai dan menjatuhkan kepalanya diceruk leher istrinya.Ia menyesap leher Dhiya hingga meninggalkan jejak yang sangat jelas. "Ahk..jangan dileher bee..malu kalau ada yang lihat." Dhiya menahan geli ketika Abi masih bermain main dilehernya. "Kan bisa ditutupi." Aby mengangkat kepalanya dengan pandangan yang sayu oleh gairah ,perlahan ia merebahkan tubuh istrinya. Dhiya pun pasrah saat Aby mulai melepas satu persatu kancing piyamanya, sekian detik tubuhnya sudah polos. Aby mulai mengabsen seluru tubuh Dhiya dengan tangan juga bibirnya,Dhiya hanya bisa mendesah menahan hasrat apa lagi saat kepala Aby berada dibagian intinya dan memainkan lidah disana. "Eugh...aku sudah tidak tahan bee." Dhiya memelas agar Aby segera kepermainan inti,Aby terkekeh dan mengangkat kepalanya me natap wajah istrinya,ia segera memposisikan miliknya didepan milik istrinya dan mengesek gesekkannya. "Bee..." Dhiya agak kesal karena Aby malah menggodanya. "Iya honey...sabarlah." Aby mengecup kening Dhiya dan dalam hati melafadkan doa bersenggama ia berharap dari bercocok tanamnya akan tumbuh kehidupan baru dirahim Dhiya. Ia memasukkan miliknya kebagian inti istrinya dengan pelan dan menghentakkan pinggulnya, Dhiya meremas lengan Aby dan merasakan akan ada gelombang kenikmatan yang akan segera ia rasakan. "Bee..aku.." Aby semakin mempercepat gerakannya karena ia juga merasakan hal yang sama. "Iya honey ..aku juga merasakannya." agh...Aby ambruk ddiatas tubuh Dhiya dengan nafas yang memburu. "Terimakasi honey, aku mencintaimu." Aby mencabut miliknya dan menarik selimut untuk menutupi tubuh polos keduanya tak lupa ia memberikan banyak ciuman diwajah Dhiya. Dhiya sangat tersanjung diperlakukan sedemikian rupa oleh laki laki yang sudah menjadi suaminya itu. Ia tersenyum dan mengelus rahang Aby dengan lembut. "Sama sama suamiku, aku juga mencintaimu." "Aku ingin segera tumbuh adiknya Sakhiy disini." Aby mengusap perut Dhiya dan menciumnya. "Anak ayah segeralah tumbuh dirahim ibu..biar kak sakhiy ada temennya." Dhiya tertawa mendengar ucapan Aby. "Kita menikah belum juga genap satu minggu, mana bisa hamil.Lagian aku juga sudah lewat masa subur.Mungkin beberapa hari lagi tamunya datang." Aby mengernyitkan matanya mendengar Dhiya bicara soal tamu. "Tamu siapa?" Dhiya menduga Aby tidak tahu yang dimaksud tamu olehnya. "Adalah, tiap bulan ia rutin selalu datang." "Siapa honey? Laki laki atau perempuan?" "Rahasia." Dhiya menahan ketawanya melihat Aby yang menekuk mukanya. "Ayo kita bersihkan diri dulu bee." Aby tidak menghiraukan malah menatap tajam Dhiya. "Aduh suamiku kalau ngambek imut banget sih." Dhiya mencubit gemas kedua pipi Aby. "Baiklah,,tamuku yang datang tiap bulan itu adalah haid bee.Dan kalau ia datang kamu harus puasa." Aby nyengir sambil menyugar rambutnya kasar. "Berapa lama biasanya kamu haid?" "Biasanya seminggu kadang lima hari juga sudah selesai." "Lama sekali,apa tidak bisa satu hari saja." "Hiss,,ngacau kamu.Bee..gendong.Aku malas jalan." dengan memasang muka manja Dhiya merentangkan tangannya ingin digendong menuju kamar mandi.Dengan senang hati Aby menggendong tubuh istrinya. ******* Hari keberangkatan ke Amerika pun tiba, Hanif bertugas mengantarkan ke bandara. Aby menggandeng tangan istrinya dengan erat seakan takut hilang,sedangkan Dhiya memegang tangan Sakhiy.Tapi bocah laki laki itu menolak saat beberapa kali ibunya hendak menggandengnya. "Aku sudah besar Bu, sudah kelas tiga.Malu kalau harus dipegangi segala." "Ya ya..sudah kelas tiga.Tapi masa Ibu cuma pengen nggandeng saja nggak mau?" "Sudah hOney..biarkan saja.Asal masih tetap dalam pengawasan." Aby mengelus punggung telapak tangan istrinya lembut. Aby akan pelan pelan memberikan pengertian pada Dhiya, kalau anak seusia Sakhiy sudah harus diajari untuk mulai mandiri. Apalagi anak laki laki, dan tiap kali ia bersama sang anak secara tidak langsung Aby sudah mulai memberi contoh pada Sakhiy. Ia memaklumi, Sakhiy mendapatkan banyak curahan kasih sayang dari Dhiya juga orang tuanya, terkadang ia menyaksikan sendiri anaknya masih diperlakukan layaknya balita. Setelah melakukan penerbangan yang cukup lama , akhirnya mereka tiba di Amerika.Tempat yang baru pertama kali dikunjungi Dhiya juga Sakhiy. Aby membawa istri dan anaknya menuju tempat tinggal pribadinya.Sengaja ia tidak tinggal di apartemen supaya Dhiya dan Sakhiy merasa nyaman .