KEMBALINYA CINTA PERTAMA

KEMBALINYA CINTA PERTAMA
BAB 4 BERTEMU ORANG ASING


__ADS_3

Sampai di terminal, Dhiya mencari tempat duduk di ruang tunggu.Tak lama terdengar suara dering ponselnya.Dhiya melihat nama yang tertera di sana. 'Nisa, gumannya. 'Assalamualaikum Nis, aku sudah nyampai terminal.' 'Waalaikumsalam, Dhi aku minta maaf ,aku tidak bisa berangkat sekarang, tiba tiba Ayah kena serangan jantung.Beliau sekarang koma Dhi hiks... hiks..' 'Aku turut berduka Nis, semoga Ayahmu cepat sembuh ya.' 'Terimakasih Dhy, kamu gimana? Berangkat sendiri apa nunggu aku?' 'Aku berangkat dulu, salam buat Tante Ambar ya.' Iya, hati hati.Kalau sudah sampai kasih kabar!' 'Oke!' Dhiya menghembuskan nafas panjang, ia melihat kembali alamat yang diberikan Nisa. 'Aku harus tetap pergi meskipu tanpa Nisa!'gumannya. "Permisi, apa tempat duduk ini kosong?" tanya seorang wanita paruh baya pada Dhiya. "Kosong Bu, silahkan kalau mau digunakan." jawab Dhiya dengan sopan. Wanita tersebut duduk disamping Dhiya, ia tersenyum kearah Dhiya.Dengan menganggukkan kepalanya, Dhiya membalas tersenyum kearah wanita tersebut. "Tujuannya mau ke mana kalau boleh tahu?" "Saya mau ke Surabaya Bu, kalau Ibu sendiri mau ke mana?' "Sama saya juga mau ke Surabaya, panggil saja saya Ummi Salma." "Saya Dhiya ,Ummi sendirian?" "Sama keponakan,masih beli minuman." "OH.." jawab Dhiya berohria. Dhiya mengalihkan pangdangannya karena matanya mulai berair. Melihat wanita disampingnya mengingatkannya pada ibunya.Entah bagaimana reaksi Ibunya nanti kalau tahu putri satu satunya kabur. "Kamu sendirian ke Surabaya?" pertanyaan Ummi Salma menyadarkan Dhiya dari lamunannya. "Eh...i iya Ummi". Ummi Salma memandang lekat kearah Dhiya. "Apa kamu sedang menghadapi masalah yang berat?" tanya Ummi Salma tiba tiba. Dhiya munundukkan kepalanya dan mengangguk pelan. Ummi Salma menggenggam tangan Dhiya dan tersenyum lembut. "Apapun masalah yang kamu hadapi, seberat apapun itu, jangan pernah tinggalkan ALLAH, yakinlah ALLAH akan memberi solusi dari tiap masalah yang dihadapi hambaNYA,asalkan hamba itu senantiasa dekat denganNYA." "Assalamualaikum." Seorang wanita muda tiba-tiba sudah berdiri didepan mereka. "Waalaikumsalam." jawab Dhiya dan Ummi Salma bersamaan. "Sudah beli minumannya?" tanya Ummi Salma pada wanita itu yang ternyata Hanifah, keponakannya. "Sudah, maaf ya lama he..he..soalnya tadi Bang Alif telpon." "Dhiya naik bus apa? Jangan-jangan bus yang kita naiki sama?" tanya Ummi Salma. "Bus MEKAR SARI Ummi." jawab Dhiya sambil menunjukkan karcisnya. "Benarkan, bus yang kita naiki sama, ini bukan suatu kebetulan, ALLAH sudah mengatur pertemuan ini." "Siapa dia Ummi?" tanya Hanifah penasaran, melihat keakraban Ummi Salma dan Dhiya. "Dhiya, kenalkan ini keponakan Ummi, namanya Hanifah." "Dhiya."kata Dhiya sembari mengulurkan tangannya. "Hanifah."jawab Hanifah menjabat tangan Dhiya. "Ayo kita naik, sepertinya busnya sudah datang." Mereka bertiga berjalan beriringan menuju pangkalan bus.Ummi Salma memilih duduk bersebelahan dengan Dhiya. Dia bisa merasakan wanita muda yang baru dikenalnya,menanggung beban yang cukup berat. "Ummi bersedia menjadi teman cerita, kalau kamu mau berbagi.InsyaALLAH Ummi akan menjadi pendengar yang baik."kata nya dengan pelan. Dhiya menatap Ummi Salma ,ada perasaan tenang ketika ia berbincang dengan wanita yang baru dikenalnya. Hanifah yang tidak mau mencampuri urusan wanita beda generasi itu, memilih memasang earphone dan mendengarkan murotal quran untuk muroja'ah dan memejamkan matanya. Dhiya mulai bercerita, dari awal kejadiannya dengan Aby sampai kabur dari rumah dan tujuannya ke Surabaya. Ummi Salma mendengarkan dengan seksama,ia tidak memotong atau menyela cerita Dhiya.Sekarang ia bisa memahami kondisi yang dialami Dhiya. "Dhiya,sebenarnya Ummi ada yayasan di Palembang, saat ini sedang membutuhkan banyak tenaga pengajar.Kalau kamu mau , kamu bisa ikut Ummi ke Palembang." "Tapi saya ..." Dhiya tidak bisa melanjutkan ucapannya. "Tidak parlu kkhawatir, nanti Ummi yang atur semuanya.Sebenarnya Ummi ke Surabaya juga, hanya menjemput temannya Hanifah.Percayalah, ALLAH sudah mengatur semua ini terjadi.Untuk kedua orang tuamu, doakan semoga ALLAH memberikan mereka kekuatan dan kamu harus selalu optimis.OKE!" "SIAP!" kata Dhiya sambil tertawa dan nampak gigi mentimunnya yang semakin menambah cantik parasnya.Ummi Salma terharu melihat senyum Dhiya.


__ADS_2