
Dhiya berdiri didepan kaca sambil mengelus elus perutnya yang rata,ia tersenyum membayangkan suatu saat akan hamil lagi dan perutnya membuncit.Alif yang baru keluar kamar mandi melihat istrinya senyum senyum sendiri merasa penasaran.Ia mendekati Dhiya dan memeluknya dari belakang. "Kenapa senyum senyum sendiri hem..?" Dhiya tersenyum dan berbalik menghadap kesuaminya.Ia mengalungkan tangannya dileher Alif. "Mas,aku kok belum juga hamil ya?Kita menikah sudah 1 tahun lebih." Alif membelai wajah Dhiya dengan ibu jarinya.Sebenarnya ia juga sama dengan Dhiya,berharap ada kehidupan dirahim istrinya. "Berarti usaha kita kurang maksimal." "Kurang apalagi Mas?Apa program kehamilan yang kita ikuti masih kurang?"Alif gemas dengan sifat polos istrinya. "Tentu saja,kita harus lebih sering melakukannya." kata Alif sambil mengerlingkan sebelah matanya. "Itu sih maumu Mas.Bagaimana kalau kita kedokter lagi?" "Yang,kalau saat ini kamu belum hamil,berarti ALLAH belum menghendakinya.Kita belum dipercaya untuk memiliki anak lagi.Sudahlah,kita nikmati saja saat saat seperti ini,kita bisa mencurahkan perhatian kita untuk Sakhiy." Dhiya bahagia mendengar ucapan suaminya,ia memeluk suaminya dan menangis. "Kok nangis sih?Malu tahu,udah gede juga masih cengeng." Dhiya memukul lengan Alif. "His..nyebelin." Dhiya melepaskan pelukannya dan meninggalkan suaminya.Alif tertawa melihat wajah kesal Dhiya. ******* Alif membawa Dhiya juga Sakhiy melihat pembangunan hotel miliknya.Sampai dilokasi pembangunan ia memperkenalkan istri juga putranya kebeberapa staf yang ditugaskan mengawasi pembangunan hotel. Dhiya yang baru pertama kali melihat hotel yang dibangun suaminya dibuat takjub,pemilihan warna juga tata letak taman yang dibuat mengelilingi hotel.Dhiya menggandeng Sakhiy melihat lihat taman yang banyak dipenuhi bunga krisan berbagai warna. "Nona Dhiya!" mendengar namanya dipanggil,Dhiya menoleh dan melihat Jonathan berjalan kearahnya. "Pak Jo,anda disini."ucap Dhiya ketika Jonathan sudah dihadapannya. "Kebetulan perusahaan tempat saya bekerja yang menangani pembangunan hotel ini.Nona sendiri?" "Saya diajak suami." Dhiya menoleh kearah suaminya yang sedang berbicara dengan seseorang.Mata Dhiya membulat melihat seseorang yang bicara dengan Alif.'aby' batinnya.Jantungnya berdetak cepat,belum selesai dengan rasa terkejutnya,Alif menoleh dan melambaikan tangannya.Ia tampak berbicara dengan Aby kemudian berjalan menghampirinya diikuti Aby dari belakang. "Jadi Nona Dhiya istrinya Pak Alif?" tanya Jonathan . "Benar Pak Jonathan,ternyata kalian sudah kenal?"tanya Alif merasa penasaran. "Karena Catering Nona Dhiya yang selama ini melayani makan siang untuk seluruh karyawan Pak Aby." "Benarkah?Wah,saya benar benar tidak menyangka,istri saya juga bekerja sama dengan Pak Aby." Aby tersenyum canggung.Sementara Dhiya menahan gemuruh didadanya,ia mengalihkan pandangannya,jemarinya saling bertautan. Semua itu tidak lepas dari perhatian Aby. "Satu lagi,tiap Pak Aby di sini pasti beliau pesan rendang.Katanya masakan dari catering Nona Dhiya mengingatkannya pada seseorang." UHUK! UHUK! Aby terbatuk mendengar ucapan asistennya,ia melotot pada asistennya yang membuka rahasianya. Sementara Dhiya hanya melengos. "Yang..Sakhiy mana?" tanya Alif yang tidak mendapati keberadaan Sakhiy. "ASTAGFIRULLAH..Mas..tadi dia disini sama aku.Gimana ini Mas?" Dhiya panik mendapati putranya menghilang. "Sakhiy pasti masih disekitar sini,kita cari sama sama." kata Alif "Saya bantu cari Pak Alif,saya dan Jo akan mencari dibagian belakang hotel." Aby segera berjalan menuju belakang diikuti Jonathan. Alif dan Dhiya menyusuri sepanjang taman.Tapi tak nampak keberadaan Sakhiy,mereka juga bertanya pada beberapa pekerja yang kebetulan berpapasan. ******* Aby berjalan kearah belakang hotel,ia yakin putranya disana,karena memang taman belakang dikhususkan untuk tempat bermain bagi anak anak.Ia tersenyum, benar dugaannya putranya sedang naik ayunan.Dengan hati berdebar,ia mendekati bocah cilik yang belum menyadari kehadirannya.Pertama kali Aby sedekat ini dengan putranya.Jantungnya berdegup semakin kencang. "Ha..hai..bo..bolehkah a...ayah maksud Paman ikut naik ayunan juga." ucap Aby dengan terbata bata. "Paman kenal aku?" tanya Sakhiy dengan polos.Mata Aby berkaca kaca.Aby mengangguk,lidahnya terasa kelu. "Tapi Sakhiy nggak pernah lihat Paman." "Paman teman Ibunya Sakhiy." 'teman yang sangat jahat nak' batin aby. "Kalau begitu Paman antar Sakhiy bertemu Ibu ya, pasti Ibu sedang mencari Sakhiy." "I...Iya Nak,Paman akan antar Sakhiy.Ayo Paman gendong,karna tempat Ibu Sakhiy jauh." Sakhiy mengangguk. Aby tidak menyianyiakan kesempatan,ia segera memeluk bocah laki laki dihadapannya.Ia tak kuasa menahan air matanya. HIKS HIKS "Paman kenapa nangis?Sakhiy berat ya?Kalau begitu aku turun saja." "Nggak Nak,Paman kuat kok gendong Sakhiy.Em..boleh paman bertanya?" "Tanya saja Paman." "Apakah ayah Sakhiy baik?" "Tentu saja, Ayah Alif sangat baik dan sayang sama Sakhiy." hati Aby mencelos mendengar penuturan putranya. Tidak bisa dipungkiri kalau hatinya sakit,karena posisinya sebagai ayah digantikan oleh laki laki lain. "Sakhiy!" Dhiya berjalan cepat menghampiri Aby dan Sakhiy.Ia mengambil Sakhiy dari gendongan Aby.Matanya menatap tajam laki laki didepannya.Aby yang menyadari kemarahan Dhiya,menundukkan pandangannya. "Ibu, maaf."Sakhiy menunduk tidak berani menatap Ibunya. "Sakhiy tahu kesalahan Sakhiy?" Sakhiy mengangguk.Dhiya menghela nafas panjang,sungguh ia tidak pernah menyangka akan berada dalam situasi seperti ini. "Dhi,aku minta maaf,aku tidak tahu kalau saat... "Aku tidak butuh permintaan maafmu,aku harap ini terakhir kali kita bertemu.Sakhiy ayo kita pulang, Ayah Alif menunggu kita." selesai dengan ucapannya Dhiya menggandeng tangan putranya meninggalkan Aby yang menatap kepergian keduanya dengan tatapan sendu.