
Dhiya berdiri dibalik jendela kamarnya yang menghadap taman bunga , bibirnya menyunggingkan senyum kebahagiaan. Entah mengapa saat ini hati dan fikirannya begitu lega, seperti baru saja mengeluarkan beban yang teramat berat. Senyum itu semakin merekah kala ia merasakan sepasang tangan kekar melingkar diperut buncitnya , siapa lagi kalau bukan suami posesifnya. "Bagaimana perasaanmu saat ini?" tanya Aby pelan tepat ditelinga Dhiya. "Sangat bahagia bee." "Aku ikut senang mendengarnya , tapi ada sesuatu yang membuatku kurang senang." "Apa?" Dhiya berbalik menghadap suaminya , jarak mereka begitu dekat hingga masing masing bisa merasakan hembusan nafas lawan bicaranya. "Lusa aku harus ke Palembang selama satu minggu." "Apa ada masalah di sana?" Dhiya tampak serius. "Jonathan besok menikah , dan aku sudah berjanji akan memberinya cuti satu minggu." Aby menekuk mukanya. "Oh ya..aku harus memberinya ucapan selamat juga hadiah bee. Dan kamu juga harus menepati janjimu." Dhiya antusias dan memikirkan hadiah apa yang akan ia berikan untuk pengantin baru itu. "Andai memungkinkan, aku pasti akan membawamu." Aby mengelus elus perut Dhiya. "Cuma satu minggu bee , lagian kita kan bisa vidio call." "Tapi kalau pengen itu kan nggak bisa lewat vidio call." kata Aby sambil menaik turunkan sebelah alisnya. "Apa difikiranmu kalau jauh dariku cuma itu saja?" Dhiya berjalan menuju meja rias untuk mengambil ponselnya hendak mengirim pesan pada seseorang. ******* Raihan dan Tristan mengunjungi Dhiya di rumah , dua remaja itu sengaja datang bersamaan. Irfan dan Sakhiy yang sedang berada di teras menyambut kedatangan keduanya dengan senang. Apalagi Sakhiy , ia akan mengajak Tristan untuk bermain game. "Sore Paman , Sakhiy." sapa Raihan. "Sore Rai , Tristan. Apa kalian janjian?" "Iya Paman , saya sengaja mengajak Raihan. Hai boy!" Tristan dan Sakhiy bertos ria , kebiasaan tiap kali mereka bertemu. "Ayo Om..kita main game sekarang." ajak Sakhiy sudah tidak sabar. "Tidak boleh lebih dari satu jam." kata Dhiya yang sudah berada diambang pintu. "Satu jam setengah ya Bu?" rengek Sakhiy. "Satu jam , kalau Ayah tahu nanti Ibu yang diomeli." tolak Dhiya tegas. "Baiklah." Sakhiy akhirnya menurut. "Nggak papa boy , nanti Om akan sering sering kesini kalau Ayah mu sedang tidak di rumah." Tristan mendapatka tatapan tajam dari Dhiya. "Ups! Sorry." Tristan nyengir dan buru buru masuk rumah diikuti Sakhiy. Ketiga orang yang ada di teras hanya bisa geleng geleng kepala dengan tingkah Tristan. "Bagaimana kabar Mamamu Rai?" tanya Irfan dan untuk pertama kalinya ia menanyakan adik perempuannya. "Mama sedang dalam masa pemulihan Paman.Hem....itu." Raihan menghentikan kalimatnya dan mengusap tengkuknya. Ia menatap Dhiya dan Irfan bergantian , ragu untuk melanjutkan ucapannya. "Apa?" tanya Irfan penasaran. "Paman dan Kak Dhiya jangan marah ya." pinta Raihan dengan melas. "Tergantung." jawab Dhiya. "Aku sudah cerita sama Mama." kata Raihan dengan suara pelan diakhir kalimatnya. Irfan dan Dhiya saling berpandangan. "Bagaimana reaksi Mamamu?" tanya Irfan. "Mama hanya diam saja , tapi aku sering memergoki Mama menangis sendiri. Sejak Mama tahu , ia lebih sering mengurung diri di kamar. Mama akan keluar kalau Papa pulang. Sepertinya Mama menyesal." "Ajaklah Mamamu datang ke rumah Paman Rai." kata Irfan. "Tapi Yah.. ." Dhiya belum siap bertemu dengan wanita yang sudah melahirkannya , meskipun hatinya sudah memaafkan. Irfan menepuk punggung Dhiya pelan. "Bukannya kamu sudah memaafkan?" "Iya , tapi aku belum siap untuk bertemu dalam waktu dekat ini Yah." "Cepat atau lambat kita harus bertemu dengannya Dhi." "Iya Yah." Raihan jadi tahu mengapa Sakhiy menjadi anak yang sopan dan tidak suka membantah pada orang tua, ternyata ia mencontoh perilaku ibunya ynag tidak lain Kakak perempuannya. "Kenapa kamu senyum senyum sendiri?" Raihan nyegir karena ketahuan. "Nggak jelas." lanjut Dhiya. "Bagaimana kabar Om Haris?" Raihan menghela nafas. "Kurang baik Kak , kasihan Papa." jawab Raihan murung. "Apa Papamu sakit?" tanya Irfan dan dijawab Raihan dengan menggelengkan kepalanya. "Raina hamil dan tidak tahu siapa yang membuatnya hamil." Irfan dan Dhiya saling melempar pandangan. "Raina berhubungan dengan beberapa pria." "ASTAGFIRULLAH." kata Irfan dan Dhiya bersamaan. "Terus bagaimana kondisinya sekarang?" tanya Dhiya . "Dia seperti Mama , sering menyendiri di kamarnya. Kasihan Papa , ia sangat tertekan dengan keadaan Raina." "Kamu yang kuat ya Rai." kata Dhiya menyemangati adiknya