KEMBALINYA CINTA PERTAMA

KEMBALINYA CINTA PERTAMA
BAB 52 BERTEMU IRMA


__ADS_3

Aby membawa istri dan anaknya ke pusat perbelanjaan untuk membeli beberapa perlengkapan bayi . Sebenarnya Dhiya menolak , karena weekend pasti tempatnya akan dipenuhi oleh pengunjung . Sakhiy begitu antusias memilih bebrapa baju bayi. "Yang ini Bu , lucu ." "Kalau milih warna yang netral dulu , kita kan belum tahu adiknya cewek apa cowok. Lagian baju itu buat seumuran Zein." "Kalau begitu , ini buat Zein saja." Sakhiy menaruh baju yang ia pilih ke dalam keranjang. "Boleh. Nanti kita pilih buat Zaina juga." "Hon..sini deh. Lihat sarung tangan dan kaki ini , warnanya cantik." Aby menunjukkan pilihannya pada istrinya. "Itu cocok untuk bayi perempuan bee. Kalau yang keluar cowok gimana? Sayang kan." "Aku yakin adiknya Sakhiy ini cewek." Aby kembali memilih beberapa barang yang berbau perempuan, demikian Sakhiy yang mengikuti Ayahnya. Dhiya lebih memilih duduk sambil menunggu keduanya puas memilih barang. "Jangan banyak banyak bee , masih ada waktu. Nanti kalau ada yang kurang bisa beli lagi." "Ya sudah , kita bayar dulu." setelah menyelesaikan proses pembayaran , ketiganya berjalan menuju time zone menemani Sakhiy bermain. Dari tempat yang tidak begitu jauh , dua pasang mata dari tadi mengikuti kegiatan mereka bertiga. "Jadi itu istrinya Aby?" tanya Irma pada Raina. "Iya Ma , Kak Aby menikahi janda beranak satu . Dari informasi yang aku dapatkan , wanita itu dulu tinggal di luar pulau. Setelah suaminya meninggal , ia pindah ke Jakarta." "Kamu pria lain saja Rain." "Nggak bisa Ma, aku sudah terlanjur cinta sama Kak Aby." "Apa kamu mau merusak rumah tangganya?" Irma mulai jengah menghadapi sikap keras kepala anak perempuannya. "Entahlah. " "Ayo kita sapa mereka , Mama ingin tahu seperti apa istri Aby." keduanya berjalan menedekat kearah Aby dan Dhiya yang melihat Sakhiy bermain. "Aby!" Aby dan Dhiya menoleh ke sumber suara. DEG Aby sangat terkejut dengan keberadaan Irma dan Raina yang saat sudah ini ada disampingnya , andai ia lebih dulu melihat kedua wanita itu pasti ia akan membawa Dhiya pergi. "Tante Irma di sini juga." Aby tersenyum canggung untuk menutupi kegugupannya. "Iya ..menemani Raina mencari beberapa barang." Irma melirik Raina dan diangguki wanita itu. "Apa kabar Kak?" seperti biasa, Raina akan tersenyum semanis mungkin untuk Aby. "Baik.Sepertinya kami harus segera pulang , karena mendadak saya ada urusan." Aby ingin secepatnya membawa istri dan anaknya pergi. "Kamu itu buru buru sekali , baru juga bertemu. Tante mengundangmu untuk makan malam di rumah. Sudah lamakan sejak beberapa bulan lalu." "Terimakasih tawarannya..tapi saya harus meminta izin istri saya kalau mau pergi." Aby tersenyum kearah Dhiya dan menggenggam erat jemarinya. Ia tahu dua wanita didepannya dari tadi ingin memanas manasi istrinya dan sengaja mengacuhkan keberadaannya. "Istri?" Irma pura pura terkejut dengan ucapan Aby , dan beralih menatap kepada Dhiya. "Perkenalkan ini Dhiya, istri saya Tante." Dhiya hanya mengangguk tanpa mengucapkan sepatah kata pun , entah kenapa ia juga malas untuk menjabat tangan wanita paruh baya yang masih kelihatan muda itu. Sedangkan Raina, sedari tadi pandangannya hanya tertuju pada Aby dan membuat Dhiya geram. "Oh." Irma mengamati Dhiya dengan tatapan meremehkan. "Apa isrtimu sedang hamil?" "Tante benar. Kalau begitu kami permisi." "Ayah , aku sudah mainnya." dengan tiba tiba Sakhiy sudah berada ditengah tengah mereka. "Ini siapa By?" tanya Irma yang tatapannya tertuju pada Sakhiy. "Ini putra pertama saya." "Kalian kan baru menikah beberapa bulan. Apa ini anak istrimu?" "Mama." Raina menggeleng menatap Mamanya , sebagai kode agar Irma tidak melanjutkan kalimatnya. "Kami permisi Tante." Aby menggandeng tangan istri dan anaknya berlalu dari hadapan dua wanita itu , tidak menghiraukan suara Irma yang menggerutu dan masih bisa ia dengar. "Dasar tidak sopan." Irma sebal karena diacuhkan begitu saja. "Sudah Ma , lebih baik kita lanjut belanja saja." "Baiklah." ******* Selesai membersihkan diri , Dhiya merebahkan tubuhnya di ranjang . Sebenarnya ia belum mengantuk , ia hanya ingin rebahan karena itu posisi yang paling nyaman yang ia rasakan sejak hamil. Ia mengingat pertemuan dengan Irma siang tadi. Entah mengapa ia tidak menyukai wanita itu, padahal baru pertama kali mereka bertemu. Sedangkan pada Raina , hanya karena wanita itu masih menyukai suaminya dan dengan tidak tahu diri , ia berani menatap suaminya dengan tatapan menginginkan padahal ia tahu ada Dhiya diantara mereka. 'apa aku keterlaluan ya tidak menyukai ibu dan anak itu? beda sekali dengan raihan dan om haris.' guman Dhiya. CEKLEK Sakhiy membuka pintu dan berjalan kearah pembaringan. "Kenapa?" Dhiya bangun dari posisi tidurnya dan duduk ditepi ranjang. "Baju yang Sakhiy beli untuk Zaina dan Zein mana Bu?" "Masih dikantong belanja. Belum sempat ibu bongkar." "Sakhiy mau menunjukkan pada Zaina." "Iya , itu di bawah meja rias Ibu." Sakhiy menuju meja rias dan membongkar belanjaan , setelah menemukan yang dicarinya, ia merapikan kembali. "Apa adiknya Sakhiy nakal Bu?" Sakhiy mengusap perut Dhiya yang sudah kelihatan membuncit. "Nggak , adiknya baik seperti Kak Sakhiy. Nanti mau dipanggil pakai sebutan apa sama adik?" Dhiya mengusap kepala putra pertamanya dengan lembut. Ia teringat kala Maharani sering mengusap kepalanya , ia merasa begitu disayang oleh wanita yang sangat ia sayangi itu. "Hem...abang saja Bu." "Abang?" Dhiya mengernyitkan kedua alisnya. "Iya..dikeluarga kita kan belum ada sebutan abang." Dhiya tertawa mendengar alasan simpel dari Sakhiy. "Ada apa nih?" Aby mendekati keduanya dan ikut naik kekasur. "Sakhiy maunya dipanggil abang sama adik." Sakhiy menjawab pertanyaan Ayahnya. "Boleh juga , Ayah setuju. Terus Ibu kenapa tertawa?" Sakhiy mengangkat bahunya , ia juga tidak faham kenapa Ibunya tertawa. "Sakhiy mau kembali ke kamar." "Jangan tidur malam malam , bilang Kakek tidak boleh lebih dari jam sembilan malam." pesan Dhiya pada anaknya , karena Ayahnya itu sering lupa waktu kalau sedang bersama Sakhiy. Pernah ia mendapati Ayahnya dan Sakhiy hingga pukul sepuluh malam belum tidur , ia sampai heran apa yang dibicarakan laki laki beda generasi itu. "Tenang Bu , Kakek sudah tidur kok." "Tumben jam segini tidur.Makan apa tadi sore?" "Hus!" Aby menarik hidung mancung Dhiya. "Sakit bee." Dhiya mengusap hidungnya.


__ADS_2