
"Bang..hati hati kalau nggendong adik." pesan Aby pada Sakhiy saat putra sulungnya itu membawa adiknya ke taman depan rumah. "Ya Yah..Sakhiy akan hati hati." Sore ini kediaman Irfan akan kedatangan keluarga Irma juga keluarga Yoga. Sejak kedatangan Irma beberapa waktu lalu , Irfan dan Dhiya sepakat mempertemukan Irma dan Yoga. Akhirnya disepakati , kediaman Irfan lah tempat yang cocok. "Semua sudah siap Bu." kata Dhiya pada Maharani. Keduanya tengah menyiapkan beberapa makanan untuk menyambut tamu tamunya. "Capek juga ya masak sebanyak ini." sahut Maharani sambil mengusap keringat dikeningnya. "Kita siap siap saja Bu. Biar yang lain diteruskan Mbak Ning dan Sinta." "Iya.Lagian sudah sore juga." Keduanya meninggalkan dapur menuju kamar masing masing untuk membersihkan diri.Sedangkan Aby dan Irfan duduk di teras sambil mengawasi Sakhiy menunjukkan adiknya berbagai macam bunga. Entah faham yang diucapkan abangnya atau tidak , tapi bayi berumur tiga bulan itu tertawa tiap kali diajak bicara abangnya. "Bulan depan Sakhiy libur sekolah, rencananya Aby akan membawa Dhiya dan anak anak." "Kamu aturlah bagaimana baiknya , Sakinah sepertinya bukan bayi yang rewel." "Ayah benar , selama ini Sakinah tidak pernah rewel bahkan saat badannya demam sekalipun." ucap Aby sambil tersenyum menatap kedua buah hatinya. "Bang..bawa sini adiknya. Sudah cukup mainnya." "Bawa ke dalam, biar adiknya rebahan." lanjut Irfan. "Adik senang lihat bunga Kek." "Sebentar lagi Opa dan Omamu kesini, nanti adik akan banyak yang gendong." "Padahal Sakhiy masih ingin ajak main adik." Sakhiy menekuk mukanya. "Tiap hari kan sudah main sama adik Bang.Bawa adik ke kamar abang kalau gitu." bujukan Aby tidak sia sia , dengan senang Sakhiy membawa Sakinah ke kamarnya. TIN TIN Suara klakson mobil mengalihkan atensi kedua laki laki itu. Mobil Yoga memasuki halaman rumah Irfan , Yoga dan Irene keluar terlebih dulu baru kemudian Tristan , karena ia yang memegang kemudi. "Sore Mas , sore Aby." sapa Yoga dengan menjabat tangan Irfan dan menantunya. "Sore Pa." balas Aby sedang Irfan hanya mengangguk. Keempat orang dewasa masuk rumah , lain halnya dengan Tristan yang masih sibuk membenahi penampilan dengan berkaca pada spion mobil. Irene yang keluar lagi karena Tristan tak kunjung masuk hanya geleng geleng kepala melihat anak laki lakinya. "Nanti kacah itu pecah kalau kamu masih tetap disitu." ucap Irene dan dibalas Tristan dengan senyum sok coolnya. "Ma..rombongan Kak Gilang sudah sampai belum?" "Kayaknya belum, didalam masih sepi. Memangnya kenapa sih?" tanya Irene penasaran. "Nggak kok, cuma nanya." Tak berapa lama keluarga Irma tiba, Raihan keluar lebih dulu membukakan pintu untuk Irma. "Terimakasih Rai." kata Irma dengan senyum lembut yang menurun pada kedua anaknya, Dhiya dan Raihan. Irma memang sudah berubah , ia menjadi lebih memperhatikan suami dan anak anaknya. Ia juga sudah keluar dari geng sosialitanya. Kegiatannya lebih banyak dihabiskan dirumah , selain karena kondisinya yang tidak seperti dulu , ia harus menemani Raina karena kondisi psikis Raina yang labil akibat kehamilannya. Irma berat untuk melangkah karena ia akan bertemu mantan suaminya, Yoga. Haris yang menyadari keraguan istrinya , mengenggam tangan Irma. "Mama gugup?" "Iya Pa." "Kita masuk dulu saja." kata Raihan. Di dalam rumah ,semua sudah berkumpul di ruang keluarga yang cukup luas itu. Sakinah anteng dalam pangkuan Yoga, ketiga pria dewasa itu berbincang santai , Tristan seperti biasa mengajak keponakannya main game. "Sore semua!" sapa Raihan yang sudah berada diujung pintu. "Masuk Rai." balas Dhiya. Ia berjalan menghampiri Irma, mencium juga memeluknya sebentar. "Apa kabar Ma?" "Baik Dhi." "Om Haris apa kabar?" "Om juga baik Dhi."jawab Haris. "Aku nggak ditanya?" "Kamu hampir tiap hari kesini , bosan Kakak nanyai kabarmu." jawab Dhiya sambil melangkah kedalam. Ketiga orang yang baru datang itu pun bergabung dengan orang orang yang ada di ruangan tersebut. Dan suasana berubah menjadi hening ,karena Yoga dan Irma. "Sakinah ..sama Om yuk? Kita ke kamar Kak Sakhiy." bayi cantik itu menggerakkan tangan dan kakinya bersamaan ketika Raihan mengulurkan tangannya. Raihan memang hampir tiap hari mengunjungi keponakannya , jadi Sakinah bisa mengenalinya. "Saya juga permisi , mau angkat telpon dulu." Aby yang merasa apa yang akan dibicarakan antar tiga keluarga itu tidak ada hubungan dengan dirinya memilih untuk keluar , kebetulan juga Steven menghubunginya. "Aku keluar sebentar." pamit Aby pada Dhiya dan mendapat balasan anggukan kepala. Tak ingin berlama lama dalam keheningan , akhirnya Irfan memutuskan untuk buka suara. "Ada yang ingin kamu katakan pada Yoga , Irma?"kata Irfan .