
Dipenghujung malam Dhiya terbangun dari tidurnya, ia berniat melaksanakan salat malam.Dalam doanya ia memohon ampun atas segala dosa- dosanya dan mohon jalan keluar atas masalah yang dihadapinya saat ini, juga untuk keluarganya supaya dikuatkan.Sambil menunggu waktu subuh, ia membaca al quran. TOK! TOK! Dhiya selesai melipat mukenanya, ketika pintu kamarnya diketuk dari luar. CEKLEK! "Kak Gilang"! ucap Dhiya seraya memeluk Gilang.Ia sangat merindukan Kakaknya yang sudah 1 minggu tugas di luar kota. "Bisa nggak meluknya jangan kencang-kencang?Kakak nggak bisa nafas nih..hee..hee" ucap Gilang . "Tumben sudah pulang?Apa disuruh Ibu"? "Boleh Kakak masuk"? Dhiya mengangguk dan mereka berdua duduk dilantai kamar beralaskan karpet. "Ibu sudah menceritakan semuanya,Kakak ikut prihatin atas apa yang menimpamu saat ini.Satu yang mesti kamu ingat, kamu tidak sendiri,ada kami keluargamu yang akan selalu mendukungmu".Gilang menepuk pundak Dhiya dengan lembut. "Tapi Ayah sangat kecewa sama Dhiya, hiks..hiks..Dhiya sudah mengecewakan Ayah, Dhiya tidak sanggup melihat orang orang yang Dhiya sayangi menderita". "Kita akan melewatinya bersama sama,pasti ada hikmah dari kejadiaan ini.Kakak yakin akan ada jalan keluarnya" Gilang menghapus air mata Dhiya dengan ibu jarinya, hal yang ia lakukan sedari kecil tiap kali Dhiya menangis. "Kakak memang yang terbaik" Dhiya tersenyum menatap Gilang. "Tentu saja, Kakakmu tetap yang terbaik"! kata Gilang jumawa.Dhiya mencebik melihat Gilang membusungkan dadanya. "Kakak mau istirahat dulu,nanti Kakak akan bicara sama Ayah". Setelah Gilang keluar dari kamar, Dhiya mengambil ponselnya dan mengirim pesan pada salah satu sahabatnya. (Pagi Nis,kapan kamu berangkat ke Surabaya?) (Lusa Dhy,apa kamu jadi ikut aku?) (Iya.) Dhiya menghapus air matanya, keputusannya untuk pergi dari rumah sudah bulat. Ia tidak mau keluarganya harus menanggung malu. Biarlah ia berjuang sendiri di perantauan, toh tidak ada yang mengenalinya.Gaji yang ia kumpulkan dari kerja paruh waktu di restoran ia rasa cukup untuk bekal sampai ia mendapatkan pekerjaan. Seperti biasa, Dhiya membantu Ibunya memasak untuk sarapan juga bekal untuk Ayah dan Ibunya bekerja. Ketika melewati kamar Ibunya Ibunya ,ia mendengar Ibu dan Ayah nya bertengkar.Terdengar suara Ibunya terisak.Lagi lagi air mata Dhiya menetes. Dhiya selesai menata makanan dimeja ,ketika Ibunya keluar kamar dan sudah siap dengan seragam kerjanya.Matanya tanpak sembab dan merah.Tidak lama Ayahnya juga keluar. Mereka makan dalam diam, hanya terdengar suara sendok dan piring yang beradu.Sengaja Dhiya tidak mengajak Gilang sarapan karena Kakaknya baru tidur. Selesai menghabiskan sarapannya, Irfan langsung berangkat tanpa sepatah kata.Hati Dhiya terasa dicubit menyadari Ayahnya mengabaikannya. "Ibu berangkat dulu, baik baik di rumah.Tadi Kakakmu minta dibangunkan jam 9". "Iya Bu". **** Dhiya memesan taksi online menuju terminal.Menunggu taksi datang ,ia pandangi setiap sudut rumahnya. Ia buka kamar Ayahnya ia hirup aroma khas parfum Ayahnya.Kemudian menuju lemari pakaian Ibunya,ia ambil salah satu baju yang biasa dipakai Ibunya dirumah, tanganya meremas baju sang Ibu. Bulir bulir air mata sudah siap untuk mengalir, buru buru ia hapus dari matanya. Di kamar Gilang , ia tak kuasa menahan air matanya.Terbayang Kakaknya yang sedari ia kecil selalu melindungi dan menjaga saat ia diganggu teman temannya yang nakal. TIN TIN! terdengar suara klakson mobil yang menyadarkan Dhiya bahwa ia harus segera pergi. Sebelum masuk mobil ia pandangi sekali lagi rumah yang telah ia tempati selama belasan tahun.