KEMBALINYA CINTA PERTAMA

KEMBALINYA CINTA PERTAMA
BAB 13 MENDAPATKAN RESTU


__ADS_3

Irfan berjalan terburu buru menuju ruang tamu,ingin segera bertemu cucunya.Sampai di ruang tamu ia tertegun,pandangannya tertuju pada seorang balita yang sedang bermain dengan Gilang. "Hem...hem". Semua orang menoleh.Gilang tersenyum dan menggendong Sakhiy mendekati Ayahnya. "Ayah,kita kedatangan tamu istimewa." Irfan menoleh pada tamu tamunya.Ia tersenyum dengan ramah dan mengulurkan tangannya menjabat tangan Abah Zahid dan Alif.Ia menangkupkan kedua telapak tangannya didepan dada kepada Ummi Salma. "Saya Irfan,ayahnya Dhiya.Kalau boleh tahu Bapak juga Ibu ini siapa?" "Saya Zahid,ini istri saya Salma dan anak saya Alif." Ummi Salma dan Alif menganggukkan kepala. Maharani dan Dhiya muncul dari dalam membawa beberapa makanan camilan. "Silahkan dimakan Ummi,Abah,Mas Alif." "Terimakasih Dhi." jawab Ummi Salma. Irfan mendekati Sakhiy,ia tersenyum bahagia tapi juga ada rasa bersalah karena sempat meminta Dhiya menggugurkannya. "Ikut Kakek yuk,lihat ikan." Sakhiy menyembunyikan wajahnya didada Gilang. "Ha..ha..Sakhiy takut sama Ayah.Pelan pelan saja Yah,kalau sudah sering ketemu nanti juga mau."kata Gilang. "Kalau sama Nenek pasti mau.Nenek punya banyak ikan lho,ikannya warna warni."sama sebelumnya,Sakhiy semakin erat erat memeluk Gilang. "Sama kamu kok mau sih Lang?" Gilang mengangkat bahunya. "Sakhiy mandi sama Ibu yuk." Sakhiy turun dari pangkuan Gilang dan menghampiri Ibunya.Dhiya membawa Sakhiy ke kamarnya. "Pak Irfan kedatangan kami kemari,ingin melamar Dhiya untuk putra saya Alif.Tapi sebelum itu,istri saya akan menceritakan pertemuannya dengan Dhiya." Abah Zahid memulai pembicaraan.Ummi Salma mulai bercerita awal mula bertemu dengan Dhiya juga sekarang Dhiya yang sudah mempunyai usaha catering yang cukup terkenal di Palembang.Dan keinginan Alif yang hendak meminang Dhiya,dan meminta restu dari mereka. Irfan dan Maharani mendengar cerita Ummi Salma dengan seksama.Mereka terharu dengan perjuangan Dhiya juga bangga akhirnya Dhiya berhasil mewujudkan cita citanya yang ingin memebuka usaha dibidang kuliner. "Saya mengucapkan beribu terimakasih karena Abah,Ummi,juga Nak Alif sudah memberikan tempat yang nyaman untuk putri dan cucu saya.Saya merasa menjadi ayah jahat karena menyebabkan putri saya pergi dari rumah." "Semua sudah terjadi Pak Irfan,kita jadikan pelajaran,bahwa setiap kejadian dan masalah pasti ada hikmah dan jalan keluar."kata Abah. "Untuk keinginan Nak Alif, saya serahkan sepenuhnya pada Dhiya.Saya akan memberikan restu untuk kalian berdua." Maharani menepuk punggung suaminya pelan,memberikan dukungan pada Irfan karena ia tahu kalau suaminya masih tertekan oleh rasa bersalahnya pada Dhiya. "Terimakasih atas restu Pak Irfan.Saya akan berusaha membahagiakan putri dan cucu Bapak." "Iya Nak Alif,saya percayakan Dhiya padamu.Rencananya dimana pernikahannya akan dilangsungkan?" "Kalau saya maunya di Palembang, tapi saya belum membicarakannya sama Dhiya." "Saya ikut Mas Alif saja." Dhiya muncul sambil menuntun Sakhiy yang sudah selesai mandi. Ia melihat kearah orang tua juga Gilang. "Ayah dan Ibu akan mendukung apapun keputusanmu Nak.Gilang,apa kamu punya usul?" tanya Irfan. "Gilang ikut saja." "Jadi sudah deal ya,acaranya di Palembang.Dan untuk waktunya,kira kira satu minggu lagi.Jadi lusa kita berangkat ke Palembang." "Buru buru sekali sih Lif,nggak sabaran banget." "Bukan buru buru Bah,Alif punya banyak waktu senggang dalam satu minggu kedepan.Setelahnya Alif ada proyek baru pasti akan sangat menyita waktu." "Bilang saja kamu sudah nggak sabar."kata Abah sambil mencebikkan bibirnya. "ABAH!" Ummi Salma melerai suami dan anaknya.Ia mencubit perut suaminya dengan keras. "AUW!" Abah meringis kesakitan. ha..ha... semua tertawa melihat tingkah Abah yang mudah mencairkan suasana.


__ADS_2