
Dua hari di rumah sakit, akhirnya hari ini Dhiya dan bayinya di izinkan pulang karena tidak ada masalah pada ibu dan bayi. Dua hari juga Aby tidak ke kantor menemani Dhiya di rumah sakit. "Selamat datang di rumah, putri Ayah." kata Aby pada bayinya ketika sudah sampai di rumah. Sejak dari rumah sakit, putrinya tidak lepas dari gendongannya. CUP CUP Aby menciumi putrinya yang tengah tidur, mengakibatkan bayi itu menggeliat merasa terganggu tidurnya. "Sudah bee, dari tadi kamu ciumi terus. Kasihan , tidurnya terganggu." kata Dhiya setengah jengkel karena Aby tidak mengindahkan perkataannya. "He..he..habisnya gemes banget.Mana kulitnya lembut." Aby menggesekkan hidungnya dipipi bayi kecil itu. OEK OEK "Tuh kan, apa ku bilang." Dhiya mengambil bayinya dari gendongan Aby dan membawanya duduk diranjang, ia hendak memberi asi untuk bayinya. Bayi itu langsung diam begitu menemukan sumber makanannya.Kedua matanya menatap Dhiya seakan akan bisa melihat wajah ibunya. "Hem..enak ya dek? Ayah mau juga dong." Aby duduk berjongkok dibawah Dhiya melihat putri kecilnya sedang meminum asi dari sumbernya. "Ayah puasa dulu ya, ini sekarang milik adek." jawab Dhiya menirukan suara anak kecil. "Adek pakai botol saja, nanti Ayah belikan yang banyak." "Bee!" Dhiya menatap Aby dan membuat orang yang ditatap hanya cengir. Tepat tujuh hari usia putri Aby dan Dhiya , mereka mengadakan aqiqah sekaligus memberi nama untuk putrinya. SAKINAH LARASATI, itulah nama untuk putri kedua Aby. Rumah Irfan menjadi ramai oleh sanak famili Irfan juga Maharani, tak ketinggalan Yoga dan keluarga kecilnya, Haris dan Raihan. Menjelang tengah hari, rumah kembali sepi karena para tamu sudah pulang. Dhiya menidurkan Sakinah setelah memberinya asi. Ia juga ikut membaringkan tubuhnya karena merasa ngantuk. CEKLEK Aby mendekati Dhiya, mengecup keningnya kemudian membelai pipinya.Dhiya membuka kedua matanya karena tidurnya ada yang mengusik. "Bee..kamu mengganggu tidurku." kata Dhiya dengan mengerucutkan bibirnya. "Hon..ada seseorang yang ingin bertemu denganmu." Aby tanpak ragu untuk mengatakan seseorang yang ia maksud. "Siapa bee?" "Hem...itu..ada Tante Irma." Aby memelankan suaranya diakhir kalimat. "Oh.. ." Dhiya tanpak cuek , kemudian ia beranjak dari ranjang menuju kamar mandi. Aby merasa cemas dengan Dhiya , istrinya baru seminggu melahirkan ia khawatir akan menganggu psikis istrinya. Dhiya keluar kamar mandi dengan muka lebih segar setelah membasuh mukanya. Ia berdiri didepan meja rias membenahi pakaiannya. "Aku temanai ya." "Kamu disini saja jaga Sakinah." Dhiya menata hatinya kemudian ia keluar kamar. Di ruang tamu sudah ada Irfan, Maharani juga Irma yang menundukkan kepalanya. "Hem." Dhiya sengaja berdehem agar ketiga orang itu menyadari kehadirannya. "Dhi..sini." kata Irfan sambil menepuk sofa disebelahnya , Dhiya mengangguk dan duduk diantara Irfan dan Maharani berhadapan dengan Irma. "Sekarang katakan apa yang ingin kamu katakan." kata Irfan pada Irma kemudian. Pelahan Irma menatap ketiga orang yang ada dihadapannya, matanya merah dan bengkak seperti habis menangis , ia menarik nafas panjang dan menghembuskan perlahan. "Saya ingin minta maaf atas semua kesalahan yang pernah saya lakukan. Saya sangat menyesal telah menyakiti kalian. Maafkan saya Mas , Mbak juga Dhiya." Irma bersimpuh dibawah dan menangis. "Apa kamu tahu kesalahanmu?" tanya Irfan . "Iya..saya tahu kesalahan saya Mas.Maaf kan saya." "Bangun Ir..kamu tidak perlu seperti ini." Maharani membantu Irma untuk bangun. "Kami sudah memaafkanmu Ir." kata Irfan. "Aku harap kamu benar benar menyesali perbuatanmu dan menjadi istri juga ibu yang baik untuk anak anakmu. Kaihan Raihan , dia anak yang baik dia sangat membtuhkan perhatian darimu." lanjut Irfan kemudian dan membuat Irma semakin terisak. "Maafkan saya Mbak." "Iya Ir..aku sudah memaafkanmu dari dulu. Berkatmu aku mempunyai anak perempuan juga Gilang jadi punya adik." Maharani menatap Dhiya dan mengusap lembut tangan Dhiya. "Maafkan saya Nak." Irma memberanikan diri menatap Dhiya. "Saya juga sudah memaafkan anda , terimakasih karena anda sudah bersedia melahirkan saya kedunia. Saya mendapatkan begitu banyak cinta juga kasih sayang dari orang orang baik." ucapan Dhiya bagai pisau belati yang menyayat hati Irma. "I..iya Nak, semoga keluargamu selalu dilimpahi kebahagiaan. Saya permisi..sekali lagi saya minta maaf." Irma beranjak dari duduknya dengan kepala tertunduk. Ia tidak berharap banyak , mendapat maaf dari ketiga orang yang sudah disakitinya sudah sangat beruntung. Ia berjalan mendekati pintu , ia menghentikan langkahnya ketika sudah sampai diujung pintu .. "Mama...!" DEG Jantung Irma berdetak cepat, ia tidak berani menoleh kebelakang tapi, telinganya bisa mendengar langkah kaki yang mendekat kearahnya. "Apakah aku boleh memanggil anda mama?" Irma mengangguk dengan kepala masih tertunduk. "Boleh aku memeluk Mama?" kata Dhiya selanjutnya dan membuat dadanya semakin sesak GREB Dhiya langsung memeluk wanita yang ada didepannya . Irma semakin terisak dipeluk putri yang tidak pernah ia harapkan hanya karena kepicikannya. Ibu dan anak itu berpelukan menumpahkan semua rasa yang mereka simpan. Dhiya tak kuasa menahan air matanya , walaupun ia lebih tenang dari Irma. "Maafkan Mama Nak...Maaf." hanya itu yang mampu Irma ucapkan saat ini. "Iya Ma...mari kita buka lembaran baru.Kami sudah memaafkan Mama." kata Dhiya setelah melerai pelukannya. Tanpa canggung , ia menghapus air mata yang membasahi pipi Mamanya. Hati Irma menghangat diperlakukan seperti itu oleh Dhiya , dalam hati ia berjanji akan berubah dan memberikan cinta dan kasih sayang untuk keluarganya. "Mama tidak ingin melihat cucu Mama?" Dhiya tersenyum menatap Mamanya yang salah tingkah. "Mau." jawab Irma pelan. Dhiya menarik pelan tangan Irma, membawa kembali kedalam. "Mama tunggu disini sebentar." ucap Dhiya. Baru beberapa langkah , Sakhiy muncul dari dalam bersama Aby yang menggendong Sakinah. Dhiya tersenyum, kemudian mengambil Sakinah dari gendongan Aby kemudian menarik tangan Sakhiy mendekati Irma. "Bang..ini Oma Irma , Omanya abang juga." Sakhiy mendekati Irma, meraih telapak tangan kanan Irma kemudian menciumnya dengan takzim. "Hai Oma Irma , namaku Sakhiy." Irma tersenyum kemudian memeluk cucu laki lakinya itu. "Ya Nak..ini Omanya Sakhiy." "Oma bisa gendong adik Sakinah?" tanya Sakhiy setelah melerai pelukannya. "Bisa." jawab Irma singkat. Sungguh ia masih belum bisa percaya , bahwa ia akan diterima dengan baik oleh keluarganya. Dhiya mendekat dan menyerahkan Sakinah pada Irma. Dengan hati hati, Irma menerima bayi mungil itu. Air mata tak berhenti menetes. Air mata penyesalan juga kebahagiaan. "Namanya Sakinah Larasati Ma." kata Dhiya untuk mencairkan suasana agar tidak terlalu canggung. "Nama yang bagus." Irfan dan Maharani saling melempar senyum , mereka merasa lega seakan beban hutang sudah berhasil mereka lunasi.