KEMBALINYA CINTA PERTAMA

KEMBALINYA CINTA PERTAMA
BAB 31 PERASAAN ANEH


__ADS_3

Sesuai dengan perkiraan Aby,akhirnya setelah 6 bulan pembangunan gedung sekolah selesai.Dhiya begitu bahagia dan terharu,akhirnya atas izin ALLAH keinginan Alif semasa hidup ingin membangun sekolah untuk anak anak yang kurang mampu dapat terwujud. Dan semua itu itu tidak lepas dari campur tangan Aby. "Sedang memikirkan apa?" tanya Aby ketika mendapati Dhiya sedang melamun di taman belakang.Dhiya menoleh kesumber suara,ternyata Aby sudah berada disebelahnya. "Hem...memikirkan semuanya.Setiap kejadian yang telah aku lalui senang,sedih,marah, kecewa.Ternyata semua itu membuat kita dewasa kalau bisa menyikapinya dengan bijak.Aku banyak belajar dari Mas Alif dan keluarganya.Kita harus tetap bersyukur apapun keadaannya. By..terimakasih untuk semuanya dan aku..."Dhiya menghentikan ucapannya. "Apa?" Aby dapat melihat sorot mata Dhiya menjadi sendu. "Aku minta maaf karena sikapku selama ini tidak baik sama kamu.Aku sungguh egois dan angkuh,padahal Tuhan sudah mengirim orang orang yang begitu baik padaku.Tapi aku masih belum sepenuhnya menerima taqdir.Aku buruk sekali ya By." "Dhi,kita tidak bisa mengulang waktu tapi,kita bisa melakukan yang terbaik saat ini untuk keadaan yang lebih baik.Aku ada berita baik." "Berita baik apa?Apa kamu dan Raina sudah jadian." "Kamu ini ngomong apa sih!Hatiku aku tutup untuk wanita lain." "Tapi aku lihat Raina begitu gigih mendekatimu." "Itu haknya,tapi hatiku tidah akana goyah meski ada ribuan Raina." Aby tersenyum simpul sambil mengamati wajah Dhiya yang merona dan memalingkan wajahnya karena menahan senyumnya. "Nggak usah ditahan kalau mau tersenyum.Wajahmu sudah merah seperti kepiting rebus gitu." "Apaan sih.Berita baik apa?" Dhiya yang sudah berhasil menormalkan suasana hatinya kembali beradu pandang dengan Aby. "Aku sudah mendapat beberapa donatur tetap untuk Yayasan Alif." "Yang benar By?" raut wajah Dhiya berbinar seketika dan ia tersenyum lebar melihatkan deretan gigi mentimun putihnya.Aby yang sudah lama tidak melihat senyum itu jantungnya berdetak lebih kencang ia ingat gara gara senyum itu pula ia tergila gila sama wanita didepannya. GLEK Susah payah Aby menelan salivanya. "Dhi..kamu jangan tersenyum seperti itu kalau berhadapan dengan laki laki lain." "Kenapa?" Dhiya merasa aneh dengan ucapan Aby ,dulu mas alif juga bilang begitu,emang kenapa sih?, batin dhiya. "Bahaya Dhi,,senyummu bagai ranjau yang akan meledakkan jiwa laki laki." Aby tersenyum genit . "Nggak jelas banget." Dhiya mengerucutkan bibirnya karena kesal . "Jangan memainkan bibirmu Dhi." "Kamu ini kenapa sih?Bahas bibir terus.Pasti pikiranmu kemana mana?" Aby nyengir dan mennggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Aku serius Dhi,hanya aku yang boleh melihat senyummu karena hatiku sudah terjerat oleh pesonamu dan tidak bisa lepas." "Dasar tukang gombal." tampa sadar Dhiya mencubit lengan Aby,bukannya kesakitan Aby justru tertawa bahagia.Dhiya melepaskan cubitannya dan ikut tertawa.Pertama kali mereka tertawa bersama setelah beberapa tahun. Aby melihat arlojinya yang melingkar manis dipergelangan lengan kirinya yang sedikit gelap karena beberapa bulan sering terkena paparan sinar matahari. "Sudah waktunya jemput Sakhiy,kita berangkat sekarang Dhi."Dhiya mengangguk dan mengiringi langkah Aby menuju mobil. ******* Aby mengajak Dhiya menemui salah satu rekan bisnisnya yang bersedia menjadi pendonor tetap untuk yayasan ALIF. Sebenarnya menolak karena tidak enak hati,yayasan itu baru saja diresmikan. "Om Yoga tidak tinggal di Indosesia Dhi,besok beliau harus kembali ke Amerika.Beliau sendiri yang minta bertemu denganmu." "Pasti kamu sudah cerita tentang aku?" tanya Dhiya dengan curiga. "He..He..Sakhiy juga." Sakhiy yang sedari tadi bermain ponsel menhentikan kegiatannya ketika namanya disebut. "Kenapa Yah?" Aby tersenyum dan melihat Sakhiy lewat kaca spion didepannya. "Teman Ayah ingin kenalan sama Sakhiy." "O... ." Sakhiy berohria. Tak berapa lama mobil Aby memasuki basmen gedung apartemen.Ia turun lebih dulu dan membukakan pintu untuk Dhiya dan Sakhiy. Ia menggandeng Sakhiy dan diikuti Dhiya. Aby memencet bel beberapa kali. CEKLEK Pintu dibuka dari dalam,seorang laki laki paruh baya tersenyum ramah kepada tamunya. "Aby, masuk yuk.Om sudah menunggu dari tadi." Yoga membuka lebar pintu apartemennya dan mempersilahkan tamunya masuk. Dhiya mengikuti langkah Aby,tiba tiba dadanya berdebar debar.Ia menghirup nafas panjang beberapa kali. "Silahkan duduk.Ini pasti Nona Dhiya, dan ini pasti Sakhiy." Yoga menyebut nama Dhiya dan Sakhiy karena Aby pernah bercerita mengenai mereka berdua. Dhiya mengangguk dan Sakhiy langsung mengulurkan tangannya mencium telapak tangan Yoga dengan takzim. Yoga tersenyum dan mengecup puncak kepala Sakhiy,tiba tiba jantungnya berdetak lebih cepat. 'kenapa jantungku tiba tiba sakit' batinnya. "Nona Dhiya saya akan menjadi donatur tetap untuk Yayasan ALIF, Aby sudah memberitahu saya alasan Yayasan Alif didirikan.Saya ikut tergerak untuk membantu nasib anak anak yang membutuhkan biaya untuk pendidikan." "Terimakasih Pak Yoga,semoga bermanfaat untuk mereka yang membutuhkan." ucap Dhiya dengan tulus. "Em...Sakhiy kelas berapa sekarang?" "Kelas dua Opa." "Katanya Sakhiy mau ikut Ayah ke Amerika pas liburan." "Benar Opa, Ayah janji mau ajak Sakhiy." Aby tersenyum dan mengusap kepala putranya. "Nanti main ke rumah Opa ya.Di rumah OPa ada mini zoo,pasti Sakhiy suka." "Ada harimau nggak Opa? Sakhiy takut ." Yoga dan Aby terkekeh sedangkan Dhiya hanya bisa tersenyum tipis. "Mini zoonya nggak ada binatang buasnya,OPa juga takut sama harimau." "Yah..nanti main ke rumah Opa Yoga ya?" "Iya...tapi Sakhiy harus ajak Ibu juga.Biar seru liburannya." Aby melirik Dhiya yang tengah melotot kearahnya.Yoga terkekeh melihat dengan tingkah dua dewasa didepannya. "Nona Dhiya,istri saya sangat senang tiap ada tamu dari Indonesia.Ia selalu antusias menyiapkan segala sesuatu untuk menyambut kedatangan tamunya.Aby pernah beberapa kali ke rumah saya.Istri saya mudah bergaul dengan siapapun." Dhiya tersenyum mendengar penuturan Yoga tentang istrinya.Ia belum memikirkan rencana ke Amerika menemani Sakhiy liburan. Ia fikir biarlah Sakhiy pergi hanya dengan Aby saja,toh Sakhiy juga sudah terbiasa dengan Ayahnya. "Bagaimana dengan perusahaanmu yang di Amerika By?" "Untuk sementara saya percayakan pada asisten saya Om." "Rencananya kamu mau menetap di mana By? Om lihat perusahaanmu di Amerika sangat baik perkembangannya." "Saya terserah Ibunya anak anak Om,mau di Indonesia atau di Amerika asalkan bersamanya." jawab Aby sambil tersenyum menatap Dhiya. UHUK UHUK Dhiya tersedak air liurnya mendengar ucapan Aby. "He...He... memang harus sepeti itu.Nona tidak perlu sungkan, saya juga pernah muda."



__ADS_2