
"Yoga, saya minta maaf atas semua kesalahan saya." Irma menundukkan kembali kepalanya.Dhiya yang duduk disamping Irma, memeluk wanita itu dari samping. Hati Irma terasa hangat diperlakukan seperti itu oleh putri yang hampir saja ia lenyapkan sewaktu dalam kandungan. Rasa sesal kembali menyeruak dalam hatinya, ia menahan air mata yang sudah berkumpul diujung matanya. "Semua sudah terjadi, hiduplah dengan baik." jawab Yoga tanpa melihat Irma,wajahnya datar tidak ada ekspresi apapun. "Kita bisa menjadi keluarga Mbak Irma.Yang lalu biarlah berlalu , kita buka lembaran yang baru dengan hidup yang lebih baik." kata Irene. "Mama Irene benar Ma, kita mulai dari awal menjadi keluarga yang saling menyayangi dan saling mendukung." "Terimakasih sayang." "Wah..aku telat nih." semua orang menoleh ke pintu, ternyata keluarga dari Palembang yang datang. Dhiya sampai menutup mulutnya karena terkejut dengan kedatangan saudaranya itu. "Iihh..kebiasaan deh.Datang nggak ngasih tahu dulu." kata Dhiya sambil melangkahkan kakinya menghampiri Gilang. Mereka saling berpelukan, ada Hanifah dan kedua anaknya juga Ummi Salma. "Ummi apa kabar? Abah koko nggak ikut lagi?" "Kabar Ummi baik , Abbah menggantikan pekerjaan Gilang." "Ini Fatimah kan?" gadis yang disebut namanya oleh Dhiya mengangguk. "Bagaimana kabar Ummi Zahra dan Abah Ridwan?" "Abah dan Ummi baik Kak." "Silahkan masuk." Ruangan itupun akhirnya penuh dengan bertambahnya keluarga Gilang.Mereka saling bertegur sapa , Gilang yang baru pertama kali bertemu dengan Irma menghampiri adik dari Ayahnya itu. "Tante Irma." sapa Gilang. "Ini Gilang?" Gilang mengangguk dan langsung memeluk Irma. "Tante, kenalkan ini istri dan anak anak Gilang." "Saya Hanifah Tante, ini Zaina dan Zein." "Salam kenal juga Hanifah.Hai sayang..ini Oma Irma." Irma tersenyum kearah Zaina dan Zein. "Oma Irma ini siapa Mi?" tanya Zaina dengan polos. "Oma Irma ini adiknya Kakek Irfan." jawab Hanifah. Mungkin mendengar keramaian di ruang keluarga , akhirnya empat manusia yang berada di kamar sejak tadi keluar.Tristan lebih dulu keluar denagan menggendong Sakinah. "Ramai sekali." gumannya. "Kalian disini juga rupanya?" kata Gilang begitu melihat Tristan dan Raihan muncul dari dalam. "Dari tadi Kak." jawab Raihan. "Paman Gilang!" Sakhiy menghampiri Pamannya dan mereka pun berpelukan. "Bang Sakhiy semakin tinggi ya." Gilang melihat Sakhiy memang cukup tinggi bila dilihat dari umurnya yang baru menginjak sepuluh tahun. "Tiap hari diajak olah raga sama Ayah." mata Sakhiy melirik kekanan dan kekiri seperti mencari sesuatu. "Zaina sama Nenek di teras." kata Gilang karena tahu siapa yang dicari Sakhiy. Dhiya yang selesai menyiapkan makanan , menghampiri Tristan untuk mengambil Sakinah. "Sakinah sudah minum belum?" tanya Dhiya pada kedua adiknya. "Sudah." jawab keduanya serempak. "Kak..Fatimah ikut kesini nggak?" tanya Tristan dengan menyunggingkan senyum. "Kamu kenal Fatimah?" Dhiya balik tanya. "Mereka berkenalan waktu Tristan ikut Aby ke rumah Ummi.Sepertinya adikmu sudah jatuh cinta sama Fatimah." kata Gilang sambil melirik Tristan. "Kak Gilang jangan buka rahasia dong." "Rahasia apa nih?" Yoga tiba tiba sudah ada diantara mereka. "Tristan menyukai keponakannya Ummi Salma Om." celetu Raihan yang dari tadi menyimak. "Masa sih?" Yoga melrik Tristan. "Iya Pa. Fatimah itu calon istri dan ibu yang ideal untuk Tristan." jawab Tristan denga percaya diri. "Kamu ini, ngelap ingus saja belum bersih sudah mikirin istri." celetuk Dhiya "Dhi." Yoga menatap Dhiya. "Ups..sorry." Dhiya nyengir dengan tatapan Yoga. "Kamu ini kalau ngomong selalu benar Dhi." kata Yoga lagi dan sontak membuat yang ada disitu tertawa, tapi tidak dengan Tristan.Mukanya cemberut seperti Sakhiy yang tidak dituruti keinginannya. "Idih..sok sokan ngambek.Malu sama gebetan. Tuh lihat, yang bersangkutan ada di belakang Tante Irene." Raihan memutar kepala tristan agar menoleh kearah yang dimaksud. Fatimah yang tahu dirinya jadi bahan obrolan hanya menundukkan pandangan, tidak berani mengangkat kepalanya. "Pa..lamarin Fatimah untuk Tristan ya." pinta Tristan pada Yoga. "Selesaikan kuliahmu dulu." "Kelamaan Pa." Yoga memijat pelipisnya karena pusing dengan permintaan Tristan. "Raihan nggak sekalian?" tanya Yoga Raihan terkekeh pelan sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Gebetan Raihan itu Aisyah, keponakannya Ummi Salma yang lain juga sepupunya Fatimah." kata Aby yang sudah bergabung. "Astaga..dasar ABG." Yoga beranjak dari duduknya menghampiri Irfan dan Haris yang asyik mengobrol. "Benar bee?" tanya Dhiya pada suaminya. "Hem." Aby mengambil Sakinah dari pangkuan Dhiya dan memberikan banyak ciuman untuk putri kecilnya.Sakinah tertawa geli karena ulah Ayahnya. "Sepertinya tidak sia sia kamu mengajak dua abg itu bee." "Umurku sudah 22 tahun Kak, jadi tidak bisa dibilang abg lagi." protes Tristan. "Tapi tingkahmu tidak jauh beda sama anak seumuran Sakhiy." ucap raihan. "Sudah...sudah..nanti Mama lamarkan Fatimah dan Aisyah untuk kalian." sela Irene diantara perdebatan mereka. "Yeai." teriak Tristan dan Raihan serempak. Kehidupan Dhiya semakin ramai dengan bertambahnya anggota keluarganya. Irma dan Yoga tiap minggu akan mengunjungi rumahnya secara bergantian. Tristan dan Raihan juga sudah melamar Fatimah dan Aisyah , tinggal menunggu masing masing menyelesaikan kuliah nya baru melaksanakan pernikahan. Kondisi Raina, juga sudah mulai stabil, ia sudah mau menerima bayi yang dikandungnya. Tapi ia masih belum mau keluar rumah, waktunya ia habiskan untuk melukis. Haris , Irma dan Raihan terus memberi semangat dan perhatian agar Raina bisa keluar dari keterpurukannya. Dan satu lagi..akhirnya Aby mencukur rambut gondrongnya. Tiap kali bermain dengan Sakinah , rambutnya selalu ditarik dan dijambak oleh putri kecilnya. TAMAT