
Aby kegirangan dengan permintaan Sakhiy,ia langsung mengiyakan dan tidak meminta persetujuan Dhiya. Baginya yang utama saat ini kebahagiaan Sakhiy.Ayah dan anak tersebut larut dalam obrolan,mereka saling tertawa.Dhiya yang merasa diabaikan Sakhiy memilih duduk disofa dan membuka ponselnya.Ia megirim pesan pada pegawainya agar dikirim makanan. "Kata Ibu tempat kerja Ayah jauh,Sakhiy ingin lihat tempat kerja Ayah?" "Benarkah?Nunggu Sakhiy libur sekolah ya,Ayah janji akan mengajak Sakhiy ke tempat kerja Ayah.Tapi minta izin ke Ibu dulu." "Bu, Sakhiy boleh ya ikut Ayah lihat tempat kerjanya Ayah?" "Boleh...emang tempat di mana?" Dhiya tersenyum pada putranya.Biarlah Sakhiy mendapatkan haknya merasa kan kasih sayang ayahnya. "Asyik...tempatnya di mana Yah?" "Di Amerika.Nanti selama liburan sekolah Ayah akan ajak Sakhiy kesana.Tanya ke Ibu, mau ikut nggak?" kata Aby sambil melirik ke arah Dhiya. "Bu..nanti Ibu ikut ya?" Dhiya mengangguk. Tak berapa lama,pegawai Dhiya datang membawa makanan juga keperluan untuknya dan Sakhiy.Ia menata makanan diatas meja dan menyimpan barang barang keperluan Dhiya dan Sakhiy kedalam lemari,setelah itu ia berpamitan pada Dhiya. "Sakhiy makan dulu Nak." Dhiya menghampiri Sakhiy dengan membawa makanan kesukaan putranya. "Biar aku yang suapin Dhi,kamu makanlah,pasti kamu lapar." Dhiya mengangguk dan menyerahkan makanan untuk Sakhiy pada Aby.Dengan telaten Aby menyuapi Sakhiy,senyum bahagia menghiasi wajah tampannya. "Apa makanan kesukaan Ayah?" tanya Sakhiy setelah selesai makan.Aby tersenyum dan mengusap rambut hitam putranya. "Ayah suka rendang buatan Ibu." UHUK UHUK Dhiya tersedak mendengar ucapan Aby. "Minum Dhi.. ."kata Aby dengan senyum smirknya.Dhiya mengalihkan pandangan menghindari tatapan Aby. "Kita sama Yah..Sakhiy juga suka rendang buatan Ibu." mereka berdua bertos ria.Sakhiy menguap beberapa kali. "Sakhiy mau tidur?" tanya Aby,tapi wajah Sakhiy berubah murung. "Sakhiy ngantuk,tapi...Sakhiy takut nanti Ayah pergi saat Sakhiy tidur." Aby terenyuh mendengar mendengar uacapan putranya.Ia tersenyum dan memeluk erat Sakhiy. "Ayah akan menemani Sakhiy,tidurlah.Ayah janji tidak akan pergi lagi." tak berapa lama Sakhiy tertidur begitu juga Aby.Mereka tidur sambil berpelukan.Dhiya menatap kedua lelaki beda usia dengan tersenyum. TOK TOK Dhiya berjalan kearah pintu. CEKLEK "Pak Hanif." "Saya diminta Pak Aby untuk mengantarkan keperluan Bapak." "Oh iya,biar saya bawa masuk." "Terimakasih Bu, kalau begitu saya langsung balik ke kantor." Dhiya mengangguk dan Hanif pun segera berlalu dari hadapan Dhiya.Sebenarnya banyak pertanyaan dalam hatinya mengenai bos nya juga Dhiya. Dhiya meletakkan tas milik Aby diatas sofa.Ia ingin membangunkan Aby,tapi ia merasa canggung. Setelah menunggu 30 menit dan Aby belum juga bangun,akhirnya ia memberanikan diri membangunkan laki laki tersebut. "By..Aby...bangunlah." Dhiya memelankan suaranya agar tidak menganggu tidur Sakhiy. "Hem...ada apa Dhi?" kata Aby dengan suara parau. "Makanlah dulu." "Iya baiklah.Apa Hanif sudah datang?" "Sudah,barangmu aku letakkan disofa." Aby mengambil baju gantinya dan masuk kamar mandi,sedangkan Dhiya menyiapkan makanan untuk Aby. Sekitar 15 menit Aby keluar dari kamar mandi dengan wajah yang segar,ia biarkan rambutnya acak acakan yang belum begitu kering. "Makanlah,aku sudah siapkan." "Terimakasih,apa kamu sudah makan?" "Sudah." Aby makan dengan lahab,selain karena makanan kesukaannya juga karena dilayani oleh wanita yang amat ia cintai.Dalam hati ia berharap ia dan Dhiya disatukan dalam ikatan halal. ******* "Dhi,aku sangat berterimakasih kamu memperkenalkan aku pada Sakhiy kalau aku ayahnya." "Berterimakasihlah pada Mas Alif,karena dia yang melarangku untuk memutus hubungan darah."kata Dhiya dengan wajah sendu. "Iya,aku akan sangat berterimakasih pada Pak Alif.Aku akan memprioritaskan pembangunan sekolah agar cepat selesai." Aby dapat melihat kesedihan diraut wajah Dhiya.Ia pasti sangat kehilangan suaminya. "Dhi..soal kejadian di kantor tadi,itu tidak seperti yang kau kira.Aku sengaja pesan pada Lani supaya kalau ada tamu yang hendak menemuiku agar mengatakan kalau aku ada meeting,agar kita bisa leluasa bicara tampa gangguan.Tapi tiba tiba Rania datang,aku tidak tahu kalau kamu datang Dhi." "Kalau kamu menikah carilah wanita yang mau menerima Sakhiy dengan tulus." "Apa maksudmu Dhi?" "Wanita diruanganmu tadi kekasihmu kan?" "Aku tidak ada hubungan apa apa sama Rania.Hatiku tidak bisa berpaling dari kamu Dhi,saat Pak Alif masih hidup aku bertekad tidak akan membuka hati untuk wanita lain." Dhiya tidak berani menatap Aby,ia takut pertahanannya akan goyah lagi. "Aku tidak pernah tunangan dengan Pamela,aku memilih untuk menghabiskan waktuku untuk belajar dan bekerja,mengurus perusahaan Kakek di Amerika.Kamu tahu Dhi..aku begitu tersiksa dan menderita menjalani hidupku.Waktu itu bukannya aku sengaja mengabaikanmu,tapi aku melakukannya untuk kebaikanmu.Mama mengancam akan menganggumu juga keluargamu kalau aku tidak menuruti kemahuannya.Aku tidak ingin terjadi apa apa sama kamu Dhi.Aku begitu takut waktu itu." Dhiya menghapus air matanya, ia menyesal telah menuduh Aby yang tidak baik.Tapi semua telah terjadi tidak mungkin dapat mengulang masa lalu.Ia ingat pesan yang sering diucapkan Alif,bahwa segala kejadian pasti ada hikmahnya. "Bagaimana keadaan Mamamu?" Aby menghela nafas, wajahnya menjadi muram. "Banyak yang terjadi dalam kehidupanku selama 4 tahun tinggal di Amerika.Aku begitu frustasi tapi aku juga harus menepati janjiku padamu untuk tidak menemui kalian.Tiap malam aku lewati dengan minuman beralkohol,hingga satu malam aku mabuk berat nyaris tertabrak mobil,dan Rania yang menyelamatkan aku.Bisa dikatakan aku berhutang nyawa padanya. Dan Mama Yonna ternyata bukan wanita yang melahirkan aku." "Maksudmu kamu bukan anak Tante Yonna?" "Benar, Mamaku meniggal saat aku masih bayi dan Papa menikah lagi dengan Tante Yonna.Setelah Papa meniggal,Tante Yonna menjalin hubungan dengan salah satu orang kepercayaan diperusahaan.Ternyata kekacauan di perusahaan Kakek beberapa waktu lalu karena perbuatan Tante Yonna juga kekasihnya." Aby menghentikan ucapannya,ia minnum beberapa teguk air dari gelasnya. "Mereka melakukan pencucian uang diperusahaan selama bertahun tahun,dan baru terbongkar beberapa tahun lalu." "Sekarang bagaimana nasib Tante Yonna?" "Ia dan kekasihnya harus mengembalikan uang yang sudah mereka ambil dan jumlahnya tidak sedikit. Karena tidak bisa mengembalikan seluruhnya,jadi mereka akan menghabiskan masa tuanya dipenjara." "ASTAGFIRULLAH..."Dhiya menutup mulutnya dengan telapak tangannya,ia tidak menyangka wanita angkuh yang menghinanya beberapa tahun lalu sekarang tinggal dipenjara.