
Dhiya tengah asyik membaca novel online di kamarnya , hingga tidak menyadari Aby sudah berada didepannya. "Hem..hem.. ." Aby berdehem untuk menarik perhatian Dhiya , dan benar saja istrinya itu tenyata tidak menyadari kedatangannya. "Eh..sudah pulang." Dhiya mematikan ponselnya dan menaruhnya diatas meja. "Dari tadi..kamu saja yang fokus dengan ponsel." Dhiya hanya nyengir. "Mau di buatkan jus?" "Nggak usah..kamu siapkan saja baju ganti. Aku mau mandi." Aby berjalan menuju Kamar mandi dan Dhiya membuka lemari mengambilkan baju ganti untuk Aby. TOK TOK Dhiya berjalan menuju pintu dan membukanya. Ternyata Sakhiy yang mengetuk pintunya. "Bu..ada tamu mencari Ibu." kata Sakhiy dengan senyum mengembang. "Siapa?" "Ibu keluar dulu , nanti juga tahu." "His...pakai rahasia ya sama Ibu." Dhiya tersenyum sambil menoel hidung mancung anaknya. "Siapa sih? Ibu penasaran." lanjut Dhiya dan melangkahkan kakinya ke depan diikutu Sakhiy dibelakang. Dhiya terpaku di tempat melihat siapa yang bertamu ke rumahnya , seketika matanya berkaca kaca. Dengan langkah cepat ia menghambur kepelukan orang tersebut. "Ummi!" Dhiya terisak dipelukan Ummi Salma , menumpahkan rindu juga beban yang dalam hatinya. Ia sangat merindukan wanita yang saat ini tengah memeluknya . "Menangislah , jangan ditahan. "kata Ummi Salma lembut,tangannya menepuk pelan punggung Dhiya. "Dhi..Kakak juga kangen lho!" celetuk Hanifah. Dhiya melerai pelukannya , dan bergeser memeluk Hanifah erat. "Bagaimana kabarnya Kak?" tanya Dhiya setelah melepas pelukannya. "Seperti yang kamu lihat , sehat tidak kekurangan suatu apapun." jawab Hanifah sambil tersenyum. "Kakak juga kangen." sela Gilang. Dhiya menoleh kearah Gilang , air matanya mengalir deras , ada rasa sesak dalam hatinya mengetahui fakta bahwa laki laki yang dihadapannya saat ini bukanlah saudara kandungnya. Tubuhnya terasa lemas dan berat untuk bergerak , ia menundukkan kepala denga air mata yang terus menetes. GREP Gilang memeluk Dhiya dengan erat , mereka sama sama menangis. "Sampai kapan pun kamu tetap adik Kakak , tidak ada yang berubah. Kita tetap saudara." kata Gilang disela isak tanginya. Semua yang ada di ruangan itu tidak kuasa menahan air mata . Aby beberapa kali menengadahkan wajahnya keatas agar air matanya tidak turun. Gilang melerai pelukannya , ia menghapus air mata Dhiya dan mengecup puncak kepala Dhiya dengan lembut. "Kakak menyayangimu kamu sampai kapan pun." Dhiya mengangguk. "Bagaimana kejutannya? Kamu terkejut nggak?" kata Gilang menggoda Dhiya. "Tentu saja terkejut , pagi pagi sudah bertamu." Gilang terkekeh dan menarik hidung Dhiya pelan. "Kejutannya belum selesai." Dhiya mengerutkan kedua alisnya. "Lihatlah kearah pintu." Dhiya mengikuti ucapan Gilang dan menoleh kearah pintu. Tampak Yoga berdiri dengan mata sembab , ia perlahan berjalan mendekati Dhiya . Ia bersimpuh didepan Dhiya dan menggenggam tangan Dhiya. "Maaf..saya tidak mengetahui kehadiranmu di dunia ini." Dhiya menatap satu persatu orang yang ada di ruangan itu. Irfa dan Maharani ter senyum dan menganggukkan kepala. "Papa!" satu kata yang mampu Dhiya ucapkan , ia kembali terisak dalam pelukan Yoga. Pelukan pertama kali antara anak dan Ayah. Yoga memberikan kecupan berkali kali di kening Dhiya , sungguh perasaannya tidak bisa dilukiskan saat ini. Bahagia yang tiada tara, tak pernah terbayangkan ia mempunyai seorang putri. "Putriku Dhiya..kamu putriku Nak. Papa bahagia sekali. Maafkan Papa sayang." hati Dhiya menghangat mendengar ucapan Yoga.Sungguh, ia begitu bersyukur dikelilingi orang orang yang begitu menyanginya. "Terimakasih Pa." "Kak!" semua menoleh kesumber suara , dimana dua remaja berdiri dipojokan. "Ini kejutan terakhir." kata Gilang. "Tristan , Raihan. Sini!" Dhiya melambaikan tangannya menyuruh Tristan dan Raihan mendekat kearahnya. Kedua remaja yang beda satu tahun serentak melangkah ke tempat Dhiya duduk. "Peluk Kakak." Dhiya merentangkan tangannya , tapi dua remaja itu bergeming dan justru menatap Aby yang memberikan tatapan tajam pada keduanya. Dhiya yang mengerti keraguan dua remaja itu pun ganti menatap tajam pada Aby , sontak saja membuat Aby langsung memasang senyum terbaiknya. "Nggak mau peluk ya sudah." Dhiya menurunkan tangannya kembali. "Mau.. Mau!" jawab dua remaja itu serempak dan membuat semua orang yang ada di ruangan itu tertawa kecuali Aby. Sungguh ia tidak rela istrinya dipeluk oleh dua remaja sekaligus , meskipun keduanya adik Dhiya. "Kalian ini nakal ya..sudah tahu kita bersaudara , mengapa tidak memberitahu Kakak." keduanya hanya nyengir dan masih memeluk Dhia. "Sudah pelukannya..Mama dianggurin dari tadi." Irene tiba tiba sudah ada dihadapan Dhiya. "Tante disini juga?" tanya Dhiya karean sedari tadi ia tidak melihat kehadiran Irene. "Mama sayang..jangan panggil Tante lagi." Irene pun memeluk Dhiya. "Mama tadi menemani anak anak bermain , agar tidak mengganggu." "Pelukan dan tangis tangisnya sudah ya..sekarang waktunya makan." kata Maharani yang keluar dari ruang makan. Ia menggendong cucu laki lakinya dari Gilang dan diikuti Sakhiy dan Zaina dibelakangnya.