
Dhiya sudah berada di Palembang.Ia begitu bersemangat memulai kehidupan barunya di sini, di sebuah pondok pesantren yang dikelola Ummi Salma juga suaminya,Abah Zahid.Ia diberi tanggung jawab ole Ummi Salma untuk mengurus makannya anak anak pondok.Bukan tanpa alasan Ummi Salma memberikan tanggung jawab tersebut kepada Dhiya.Beberapa kali Ummi Salma makan masakan Dhiya,merasa pas dilidahnya begitu juga dengan anggota keluarga yang lain. Sementara itu ,Irfan juga Maharani begitu kehilangan putrinya.Terutama Irfan,ia sangat menyesal telah mendiamkan putrinya selama beberapa hari hingga mengakibatkan putrinya pergi dari rumah.Lain halnya dengan Gilang, ia lebih bisa mengendalikan emosinya, karena ia yakin adiknya pasti baik baik saja.Dan akan pulang suatu saat dengan keadaan yang jauh lebih baik. Di belahan bumi lain, tanpak seorang pria bertubuh tegap dan tampan berdiri di balkon kamarnya.Ia tengah menatap ribuan bintang yang berkerlap kerlip.Ia sangat merindukan wanita yang selama 3 tahun ini mengisi hati juga mewarnai hari harinya.Dan bodohnya ia sudah menyakiti wanitanya begitu dalam.Buliran air mata turun membasahi pipinya. 'MAAF' gumannya. ******* Kandungan Dhiya sudah berusia 9 bulan.Ia di bantu Ummi Salma juga Hanifah mempersiapkan segala keperluan calon bayinya.Abah Zahid yang paling antusias di antara Ummi Salma juga Hanifah.Ia sudah sangat menginginkan cucu, tapi Alif putra satu satunya hingga saat ini belum ada keinginan berumah tangga.Alif masih giat belajar di negeri orang. Dhiya, karena dukungan juga sedikit paksaan dari Ummi Salma,ia mau melanjutkan kuliah.Mengambil jurusan tata boga sesuai bakatnya di bidang kuliner.Ia juga membuka usaha catering makanan sehat dan sudah bisa mengontrak rumah yang bersebelahan dengan pondok.Karena Ummi Salma memperkenalkan Dhiya sebagai salah satu keponakannya,jadi tidak ada yang mengusik Dhiya soal kehamilannya. Hari ini selesai mengontrol makanan untuk para santri,Dhiya mengunjungi Ummi Salma di rumahnya. "Assalamualaikum." ucap Dhiya ketika sampai di depan pintu. "Waalaikumsalam,masuk bumil."sahut Hanifah dari dalam rumah ketika tahu siapa yang bertamu.Ia terkekeh melihat Dhiya yang berjalan sambil memegangi pinggannya. "Kenapa? Perutnya tambah berat ya?"tanya Hanifah serasa mengelus perut Dhiya. "Hem..makin hari makin payah rasanya.Aku mau izin ke Ummi kalau tidak bisa sering sering ke pondok." "Nggak apa apa, cukup kamu buatkan menu harian saja, biar Kakak yang bantu kontrol.Lagian Ummi juga sudah berkali kali pesan kalau kamu jangan memaksakan diri,persiapkan diri saja menjelang lahiran." "Terimakasih Kakak cantik." ucap Dhiya seraya mencubit kedua pipi Hanifah dengan gemas.Keduanya pun tertawa. "Kak, aku dapat tawaran menyiapkan makan siang untuk para dosen juga staf di kampusku, diterima nggak ya?" "Alhamdulillah Dhi,ini kesempatan buat kamu untuk melebarkan usahamu.Tapi kamu sebentar lagi kan lahiran?" "Itu masalahnya.Tapi sudahlah,mungkin setelah lahiran baru dibicarakan lagi.Ngomong ngomong Ummi kemana Kak?" "Ummi menjemput Kak Alif,berangkat sehabis subuh tadi." "Katanya pulang minggu depan?" "Kak Alif memang seperti itu, suka buat kejutan.Bahkan pernah ia digebukin Ummi saking jengkelnya sama Kak Alif." "Kalau gitu aku pulang Kak." "Perlu di antar ?" "Terimakasih, aku jalan saja." Dhiya berjalan meniggalkan rumah Ummi Salma.Beberapa orang yang bekerja di rumahnya sedang sibuk mempersiapkan bahan masakan untuk acara besok pagi.Dalam hati Dhiya mengucapkan banyak syukur atas kehidupannya saat ini. Sebenarnya ia sangat merindukan keluarganya,tapi rasa rindu hanya bisa ia tahan untuk saat ini.