KEMBALINYA CINTA PERTAMA

KEMBALINYA CINTA PERTAMA
BAB 44 CERITA YOGA


__ADS_3

Sudah dua hari Sakhiy menginap di rumah Yoga,bocah laki laki itu menolak pulang ketika dijemput Aby.Karena merasa tidak enak hati,hari ini Aby mengajak Dhiya menjemput Sakhiy. Sampai di kediaman Yoga,mereka disambut oleh Irene yang sedikit kaget dengan tiba tiba datang tanpa memberi kabar sebelumnya. "Siang Tante,kedatangan kami kesini mau menjemput Sakhiy." kata Dhiya setelah dipersilahkan duduk oleh Irene. "Hiss..kalian ini.Biar aja kenapa sih Sakhiy disini." "Takut merepotkan Tan." "Merepotkan apanya By..justru kami senang Sakhiy tinggal disini.Om Yoga saja rela tidak ngantor sejak kemarin,katanya mau ngajak Sakhiy main.Seperti jadi opa beneran katanya." Irene tersenyum teringat ucapan suaminya kemarin kalau ia sudah menganggap Sakhiy seperti cucunya sendiri. "Sampai segitunya Om Yoga.Makanya saya tidak enak kalau Sakhiy lama lama disini bisa bisa Om Yoga melalaikan pekerjaannya." "Kalian kapan balik ke Indo?" "Mungkin tiga hari lagi,Sakhiy sudah waktunya masuk sekolah." "Mereka ada di mini zoo.Kalian susul saja..lewat dalam lebih cepat .' mereka berdua mengikuti langkah kaki Irene menuju belakang rumahnya. Ketika sampai di ruang keluarga,mata Dhiya tak sengaja melihat deretan foto keluarga Yoga.Dan tatapannya berhenti pada foto laki laki yang masih muda yang ia pastikan itu foto mudanya Yoga karena mirip dengan Tristan. "Kenapa hon?" tanya Aby karena Dhiya berhenti fokus pada foto didepannya dan terlihat sedang berfikir. "Aku seperti pernah melihat foto ini bee." "Di mana Dhi?" Irene ikut penasaran. "Sepertinya di rumahku yang lama Tan.Iya benar..aku menemukannya waktu ke gudang mau pindahan." Dhiya sangat yakin kalau yang foto yang ditemukan di gudang waktu itu adalah fotonya Yoga. "Ibu..Ayah." terdengar suara Sakhiy dari arah luar bersama Yoga berjalan masuk rumah.Sakhiy tersenyum bahagia sambil menggendong seekor kucing gemuk berwarna putih denga bulu yang lebat. "Hem..anak ini ya kalau main sampai lupa pulang." Dhiya mengacak acak rambut putranya dan Sakhiy pun terkekeh. "Opa Yoga sampai nggak kerja gara gara nemani Sakhiy main." tambah Aby. "Nggak papa By,,lagian Om sudah lama nggak ambil libur." "Huh..ada Sakhiy aja mendadak ambil cuti.Biasanya By,Tante sampai merengek seperti anak kecil kalau pengen pergi berdua sama papanya Tristan." Yoga hanya mencebik mendengar ucapan istrinya. "Pa,Dhiya bilang pernah lihat foto Papa di rumahnya.Jangan jangan Dhiya ini anak salah satu dari teman Papa." lanjut Irene. "Masa Dhi?Siapa nama orang tuamu barangkali Om kenal." Yoga pun juga penasaran dengan orang tua Dhiya. "Nama ayah saya Irfan Kurniawan dan ibu saya Maharani,kakak saya Gilang." Yoga dan Irene saling berpandangan dan raut muka mereka berubah serius.Aby yang menyadari perubahan Yoga dan Irene pun tanggap dan mengajak Sakhiy kembali keluar. "Kita bicara di ruang tengah Dhi." Dhiya mengangguk dan mengikuti dua orang didepannya. Yoga menarik nafas panjang dan menghembuskan perlahan. "Kalau memang benar yang kamu lihat itu foto saya,memang pernah ada hubungan antara saya dan ayah kamu mas Irfan. Sebelum saya menikah denga ibunya Tristan,saya pernah menikah denga seorang wanita yang tak lain adiknya mas Irfan.Tapi pernikahan saya tidak bertahan lama..hanya sekitar lima bulan.Waktu itu perusahaan keluarga saya sedang mengalami masa sulit,jadi saya terpaksa merantau ke luar pulau. Rupanya wanita yang saat itu menjadi istri saya tidak kuat dengan hubungan jarak jauh juga perekonomian saya waktu itu berubah drastis jadi dia menceraikan saya." Irene mengusap lengan suaminya karena ia juga tahu kisah masa lalu suaminya dengan istri pertamanya. "Ayah tidak pernah cerita kalau beliau punya adik. Namanya siapa adiknya ayah?" "Namanya Irma Kurniawati." "Di keluarga besar juga tidak ada yang namanya seperti itu." Dhiya merasa ada yang sesuatu yang terjadi pada masa lalu keluarganya. "Kalau Gilang pasti ingat..waktu itu ia sudah seumuran Sakhiy dan kamu belum lahir." "Om benar,saya sama Kak Gilang selisih sembilan tahun." "Bagaimana kabar Gilang saat ini?" "Kak Gilang sudah memiliki dua anak dan sekarang tinggal di Palembang ." "Jadi kamu tinggal di Jakarta sama Mas Irfan?" "Benar Om,tapi sekarang Ayah dan Ibu sedang di Palembang." "Kapan kapan kalau ke Jakarta Om main ke rumahmu.Sudah puluhan tahun tidak bertemu Mas Irfan." "Kita pulang bareng mereka saja Pa...Mama juga kangen sama keluarga di Jakarta." "Nggak bisa Ma..satu bulan kedepan Papa sibuk." "Tuh kan Dhi..Tante nggak bohong.Selalu seperti itu kalau diajak ke Indonesia. Seperti punya trauma." Irene melirik suaminya sedangkan Dhiya menahan senyum melihat dua orang didepannya. "Ngomong apa sih,nggak penting banget." ucap Yoga sambil memalingkan mukanya. Sore hari mereka baru pulang karena agak susah membujuk Sakhiy agar mau diajak pulang. Aby harus rela setengah hari menemani Sakhiy bermain main dengan beberapa binatang kesukaan putranya itu hingga Sakhiy puas dan mau pulang. Ia juga membawa satu koleksi robot milik Tristan. "Capek bee?" tanya Dhiya karena melihat Aby langsung merebahkan tubuhnya dikasur begitu selesai mandi. "Hem.Mau dong dipijat." jawab Aby dengan mata terpejam. "Baiklah,bagian mana yang mau dipijat?" Dhiya sudah memposisikan diri duduk disamping Aby. "Kaki." Dhiya mulai memijat kaki Aby dimelai dari telapak,cukup lama dua tangannya berada ditelapak kaki dan bergantian kiri kanan. Dirasa cukup akhirnya pindah ke betis dan dilakukan seperti waktu memijat telapak kaki. "Naik lagi honey." Dhiya menurut dan tangannya pindah kepaha dan mulai memijat lagi tidak menyadari kalau lelaki yang tengah dipijat saat ini sedang menahan sesuatu. "Agak naik sedikit." suara Aby sudah mulai serak tapi Dhiya juga belum menyadari juga hingga tiba tiba tangannya menyentuh sesuatu yang sangat keras. "Hih..Bee kamu sudah hemp.."belum menyelesaikan ucapannya bibirnya sudah disambar oleh Aby karena dengan tiba tiba laki laki itu bangun dari posisinya yang terlentang. "Tanganmu ini nakal sekali hem..membangunkan singa jantan yang sedang tidur." kembali Aby ******* bibir istrinya dan mengungkungnya. Dhiya tak mau kalah ia mengalungkan tangannya dileher Aby dan membalas ciuman panas suaminya. Entah siapa yamg memulai,tubuh keduanya sudah sama sama polos dan berserakan di lantai.Keduanya saling menatap dengan senyum penuh cinta sebelum akhirnya penyatuan dua insan pun terjadi.Suasan malam yang sunyi terganggu oleh suara erotis wanita yang memenuhi kamar dan membuat Aby semakin kuat menghentakkan pinggulnya dan membuat wanita cantik dibawahnya merasakan puncaknya. "Gantian kamu diatas hon." Dhiya mengambil posisi dan sekarang ia yang menggerakkan pinggulnya naik turun dan membuat Aby tak berhenti mendesah merasakan miliknya digoyang Dhiya.Tangannya tak tinggal diam meraih sesuatu yang bergelantungan dan sesekali menghisapnya layaknya bayi yang menyusu. Setelah satu jam kegiatan panas pun berakhir dengan junior Aby yang menyemburkan benih di rahim sang istri.Keduanya tersenyum puas untuk kesekian kalinya.Mereka saling berpelukan dengan masing masing mengatur nafas. "Makin hari kamu goyanganmu semakin mantap hon." "Sudah kewajibanku menyenangkan suami." Dhiya mendongakkan kepalanya menatap Aby sambil mengelus lembut pipi suaminya dan mengecup singkat bibir Aby.


__ADS_2