
Hari yang ditunggu akhirnya tiba.Akad nikah akan dilaksanakan di rumah Abah Zahid dan dihadiri oleh para santri juga warga sekitar pondok.Tidak ada resepsi pernikahan,sesuai keinginan Alif juga Dhiya. Alif sudah siap di depan penghulu,juga Irfan yang akan menjadi wali nikah Dhiya.Sementara Dhiya di kamar ditemani Maharani dan Hanifah.Telapak tangan Dhiya terasa dingin.Maharani dan Hanifah tersenyum melihat Dhiya gugup. "Kamu gugup Dhi?" tanya Hanifah sambil menggenggam tangan Dhiya. "Iya nih,aku deg degan." "Itu biasa bagi pengantin baru,Ibu rasa Alif jauh lebih gugup didepan sana." "He..he..Ibu benar,Kak Alif pasti saat ini panas dingin." "Bu,Kak Gilang apa belum punya calon istri?" Dhiya berusaha mengalihkan rasa gugupnya. "Sepertinya belum ada,ia sibuk dengan tokonya." CEKLEK! Gilang masuk sambil tersenyum.Ia berjalan mendekati Dhiya. "Adikku,sekarang kamu sudah sah menjadi istri Alif Alfisyahrin,sekarang kamu bisa keluar." Gilang menggandeng tangan adiknya keluar kamar diikuti Maharani dan Hanifah. Dhiya menghampiri Alif,laki laki yang sudah menjadi suaminya itu menoleh dan tersenyum kearahnya.Mereka menandatangani beberapa berkas yang diberikan petugas KUA. ******* Saat ini Alif dan Dhiya berada di kamar hotel yang dipesan khusus ole Ummi Salma.Ia dan suaminya sudah merencanakan ini jauh jauh hari.Ternyata Irfan dan Maharani setuju dengan usul mereka,lagian Sakhiy sudah putus ASI dan juga sudah biasa ditinggal Dhiya. Dhiya selesai mandi,ketika Alif selesai menerima panggilan dari sekretarisnya.Jakun Alif naik turun meliahat istrinya hanya memakai kimono mandi dengan kepala yang terbungkus handuk.Terlihat jelas kaki jenjang Dhiya yang mulus.Dhiya yang sedang memilih baju tidak sadar kalau ada yang memperhatikan. Tiba tiba sepasang tangan kekar sudah melingkar diperutnya . "Cari apa hem..?" Alif mengendus leher Dhiya menciumi aroma vanila.Tubuh Dhiya seketika meremang. "Eh...Mas.Aku...cari baju ganti."jawab Dhiya gugup. Alif memutar tubuh Dhiya,kini mereka saling berhadapan. Alif mengangkat dagu Dhiya dengan telunjuknya.Mata mereka saling bertatapan. "Mengapa harus pagi baju,toh bakalan Mas buka bajunya."kata Alif dengan suara serak.Ia menggendong Dhiya menuju ranjang,ia rebahkan tubuh istrinya perlahan.Dengan telunjuknya,ia belai wajah Dhiya dan berhenti dibibir merah yang menggoda jiwa laki lakinya. "Boleh Mas minta sekarang?" Dhiya mengangguk pelan.Alif tersenyum,ia mulai bekerja menuntaskan hasratnya yang sudah tak terbendung.Dhiya yang mendapatkan perlakuan lembut dari sang suami hanya mampu mendesah.Ia dibuat terbang kenirwana.Alif yang melihat istrinya menikmati permainannya tersenyum puas.Penyatuan dua insan terjadi berulang kali. Tengah malam mereka baru mengakhiri penyatuan itu.Alif memeluk istrinya dan menghujami banyak kecupan.Dhiya yang sudah kelelahan,memejamkan matanya meski juga menikmati kecupan dari suaminya. "Terimakasih sayang,ini nikmat sekali." "Tapi aku bukan yang pertama untukmu Mas." "Tapi aku tadi cukup kesulitan saat masuk.Masih sempit he..he..." "His..mesum.Sudah ah,aku ngantuk juga capek Mas."Dhiya kambali memejamkan matanya.Kali ini ia benar benar tidak sanggup meskipun sekedar membuka matanya. "Sayang..lagi ya." "Hem..." Alif mulai aksinya.Ia menjelajahi setiap inci tubuh istrinya. "Apa kau menikmatinya sayang?" "Hem..." "Apakah begini enak?" "Diamlah Mas,nikmati saja tubuhku." Alif terkekeh.Ia memacu tubuhnya lebih cepat,tak berapa lama ia ambruk diatas tubuh Dhiya.Nafasnya terengah engah,sementara Dhiya sudah berada didunia mimpi.Alif menyelimuti tubuh polos istrinya dan membawa kedalam pelukannya.