KEMBALINYA CINTA PERTAMA

KEMBALINYA CINTA PERTAMA
BAB 50 KEBENARAN YANG SEDIKIT TERUNGKAP


__ADS_3

Sejak kedatangan Yoga beberapa hari lalu , Irfan dan Maharani menjadi tidak tenang. Mereka selalu dihantui rasa bersalah. "Bu..Ayah sangat tertekan dengan semua ini. Andai yang datang Irma , mungkin akan lai ceritanya. Tapi ini Yoga Bu." "Ibu juga sama ...Ibu takut Dhiya akan marah dan meninggalkan kita. Ibu tidak bisa membayangkan kalau sampai Dhiya pergi, apa lagi membawa Sakhiy." "Ayah yakin Dhiya bisa bersikap bijak Bu, ia anak yang berbakti. Ayah berfikir untuk menceritakan ini pada Aby." "Ibu setuju , sebaiknya kita menceritakan yang sebenarnya pada Aby juga pada Gilang Yah." "Iya, Ayah ingin tahu apa pendapat Gilang." "Pendapat apa Yah?" tiba tiba Dhiya muncul dari ruang tengah. Irfan dan Maharani sama sama menelan salivanya, berharap Dhiya tidak mendengar perbincangan mereka. "Itu..mengenai apa sih tadi Bu?" Irfan memberikan kode pada Maharani. "Minggu depan Ayah dan Ibu berencana ke Palembang. Sudah kangen sama Zein." Maharani akhirnya berbohong pada Dhiya. "Kan baru dua minggu yang lalu Ayah dan Ibu dari sana, bukannya apa apa sih . Dhiya cuma takut kalian kelelahan , ingat umur." Maharani mengelus kepala Dhiya denga penuh kasih sayang, air matanya sudah berembun. "Kamu ini mau mengatakan kalau Ayah dan Ibu tua begitu?" Irfan berusaha mencairkan suasana agar istrinya tidak terlarut oleh keadaan. "Emang Ayah nggak merasa apa?" "Nggak tuh, Ayah masih merasa tetap muda. Statusnya saja yang naik, sudah jadi kakek dari tiga cucu mau empat malah." DERT DERT "Aby Yah." "Angkat , siapa tahu ada yang penting." {ya bee} {lagi dimana} {di rumah} {ayah di rumah} {ada, emang kenapa sih?} {raihan mau main ke rumah} {benarkah?kapan?} {kamu senang sekali anak tengil itu mau datang} {his...dia itu aku anggap adik sendiri} {kasih ponselmu ke ayah} {hem} "Aby mau ngomong sama Ayah." Dhiya menyerahkan ponselnya pada Irfan. {ada apa By?} {temannya dhiya mau datang , tolong ayah awasi mereka} {emang kenapa by?} {pokoknya ayah awasi saja, nanti juga ayah tahu temannya dhiya.aby tutup yah.} "Temanmu siapa sih Dhi?" tanya Maharani. "Dia itu pelanggan di restoranku Bu, hampir tiap hari datang. Kebetulan kampusnya tepat di depan restoran." Dhiya pun menceritakan mengenai Raihan. TING TONG "Bu, ada tamu mencari Bu Dhiya." kata art Dhiya. "Siapa Mbak?" "Namanya Raihan Bu." "Suruh masuk Mbak." Tak berapa lama Raihan sudah ada di depan pintu dengan membawa kotak mainan. Dhiya ingin tertawa melihat maina yang dibawa Raihan. "Hai Kak, boleh masuk?" "I..iya. Masuklah, kamu bawa apa itu?" "Ini mobil remot keluaran terbaru, sengaja akau beli untuk Sakhiy." Raihan meletakkan mainan yang dibawanya ke atas meja. "Terimakasih ya, lain kali kalau mau main kesini nggak pelu repot repot bawa maina lagi. Kamu kalau mau datang agak sore sedikit, segini anaknya belum datang." "Yah...Kak Aby nggak bilang sih." "Tamunya sudah datang Dhi?" tanya Irfan muncul dari dalam bersama Maharani, mereka penasaran dengan tamu Dhiya yang membuat menantunya sewot. "Kenalkan Yah..ini Raihan." "Siang Paman, saya Raihan." Raihan tersenyum dan memperkenalkan dirinya. DEG Jantung Irfan berdetak lebih cepat, ketika Raihan mengulurka tangannya dan mencium punggung telapak tanganny. 'ya Tuhan, apalagi ini? senyum itu sama persis dengan senyum dhiya, apa mungkin dia itu?, batin Irfan. "Ayah kenapa?" Dhiya menepuk lengan Ayahnya, karena Irfan malah bengong. " Iya Nak, saya Irfan ayahnya Dhiya, dan ini ibunya." "Siang Bibi." Raihan juga tersenyum kearah Maharani. "Siang juga Nak." Maharani pun tak mampu berkata kata lagi, pikirannya benar benar kacau saat ini. "Nak Raihan sudah lama kenal Dhiya?" Irfan membuka obrolan. "Belum lama Paman,beberapa minggu lalu saya baru ketemu Kak Dhiya di restorannya. Kebetulan kampus saya tepat berhadapan dengan restoran Kak Dhiya." "Umur Nak Raihan berapa sekarang?" "Sudah dua puluh tahun Paman." "Saudaranya berapa? " "Dua Paman, saya anak bungsu." "Nama orang tuanya siapa kalau boleh tahu?" bukan tanpa alasan Irfan bertanya seperti itu, ia hanya ingin memastikan sesuatu. "Ayah." Dhiya menjawil lengan Ayahnya. "Nggak papa Kak , siapa tahu Paman atau Bibi kenal dengan orang tua saya. Papa saya bernama Haris , sedang Mama bernama Irma." Irfan dan Maharani lemas seketika, tubuh mereka panas dingin. 'Hubungan darah tidak bisa dibohongi, pantas saja Raihan kekeh minta Dhiya menganggapnya adik, ternyata ini jawabannya' irfan terus bermonolog dalam hati. "Ayah kelihatan pucat, apa sakit?" "Iya..tiba tiba kepala Ayah agak pusing." "Kalau begitu Ayah istirahat saja." "Nak Raihan, Paman ke dalam ya. Maaf Paman tidak bisa menemani." "Silahkan Paman." "Dhi, tamunya kok di anggurin sih." "He..he..maaf ya Rai. Kamu mau minum apa?" "Apa aja Kak, yang penting dingin?" "Kopi dingin mau?" "Jangan dong, aku nggak ngopi.Perutku kembung kalau minum kopi , meskipun sedikit." "Sama, Kakak juga." "Sudah Dhi, buatkan jus jeruk saja." "Wah..Bibi tahu saja kalau saya suka jus jeruk." lagi lagi Maharani dibuat senam jantung. "Ibu mau juga?" "Nggak terimakasih." Dhiya beranjak dari duduknya menuju dapur. "Mamanya kerja Nak?" "Nggak Bi, Mama nggak kerja. Tapi cukup sibuk dengan teman teman arisannya." Raihan terkekeh mengingat hobi Mamanya. "Nama Mamanya siapa tadi?" "Irma Kurniawati, Bi.Apa Bibi kenal?" "Nggak lah , Bibi ini nggak pernah bergaul dengan para ..apa tu namanya ?" "Sosialita." "Nah itu maksud Bibi" Raihan tergelak dengan ucapan Maharani. Sepertinya ia mulai menyukai keluarga ini. Ia bisa merasakan kedekatan antar anggota keluarga ini. "Malah saya itu lebih suka kalau Mama itu di rumah Bi , tidak pergi pergi dengan kegiatan nggak jelasnya." raut muka Raihan berubah murung, Maharani merasa iba dengan nasib remaja di depannya saat ini . "Kamu bisa sering sering kesini kalau lagi nggak sibuk." Dhiya muncul dari dalam dengan membawa dua gelas jus jeruk dingin. "Kok dua Kak?" "Satu buat Kakak." Dhiya dan Raihan asyik ngobrol, sesekali terdengar gelak tawa dari keduanya . Maharani memperhatikan interaksi keduanya, ia tersenyum dan baru dua kali ia melihat Dhiya bebas tertawa dengan lawan jenis , bersama Tristan dan sekarang dengan Raihan, mungkin Dhiya belum menyadari dengan perasaannya , beda dengan Tristan dan Raihan yang berusaha mencari perhatian Dhiya.


__ADS_2