KEMBALINYA CINTA PERTAMA

KEMBALINYA CINTA PERTAMA
BAB 56 RAHASIA YANG TERKUAK


__ADS_3

"Apa kalian menyembunyikan sesuatu?" Dhiya mengulangi pertanyaannya , dan menatap tajam pada tiga orang didepannya. Aby , Irfan dan Maharani sangat terkejut dengan kedatangan Dhiya yang tiba tiba, mereka sampai susah menelan ludah. "Honey..tidak ada yang kami sembunyikan dari kamu." Aby tersenyum canggung untuk menutupi kegugupannya. Dhiya tersenyum kecut , dan tatapannya berubah sendu. "Aku dengar apa yang kalian bicarakan tadi. Siapa yang akan menjelaskan padaku?" Dhiya menatap Irfan dan Maharani menunggu jawaban dari keduanya. Maharani meremas kedua tangannya sedang Irfan menundukkan kepalanya. "Ayah ..Ibu." lanjut Dhiya dengan suara lebih pelan. "Sayang..kamu salah dengar." Aby memegang tangan Dhiya. "Selama ini aku diam bukan aku tidak menyadari bee... . Banyak kejanggalan yang aku rasakan. Pertama kamu bee..kemu memberikan kebebasa Tristan dan Raihan sering datang kesini , padahal dulu kamu sangat keberatan mereka main kesini. Kemudian Ayah...begitu dekat dengan Raihan dan juga waktu kejadian di restoran , wanita itu mengenal Ayah." Dhiya mengatur nafasnya. "Apa wanita itu adik Ayah?" lanjut Dhiya. "Aku akan melihat Sakhiy." Aby beranjak dari duduknya, tapi sebelum pergi ia menggenggam tangan Dhiya denga lembut dan menatap Irfan sambil menganggukkan kepalanya.Irfan pun faham dengan kode yang diberikan Aby, ia mengambil nafas panjang dan menghembuskan dengan perlahan. Maharani berpindah posisi duduknya, kini posisi Dhiya diapit oleh Irfan dan Maharani. "Dhi..kamu tahu kan Ayah , Ibu juga Kak Gilang sangat menyayangi kamu. Tidak akan berubah sampai kapanpun selama kami masih bernafas ." ucap Irfan dengan suara bergetar. Maharani menggenggam tangan Dhiya dengan lembut. "Ayah akan bercerita , tapi jangan disela. Kamu cukup mendengarkan dulu." lanjut Irfan dan diangguki oleh Dhiya. Irfan mulai bercerita , Dhiya menepati janjinya untuk tidak bertanya apapun. Maharani sesekali melanjutkan cerita Irfan kalau suaminya itu memintanya untuk menggantikan nya bicara. Tidak ada air mata yang keluar , muka Dhiya tetap datar sampai Irfan menyelesaikan ceritanya. "Jadi wanita itu yang telah melahirkan aku." Maharani memeluk Dhiya erat , ia tahu Dhiya tidak baik baik saja. "Kamu tetap putri kami Dhi." kata Maharani terisak. "Jangan tinggalkan Ibu..jangan pergi dari kami." Dhiya menghapus air mata Maharani, menatapnya dalam pada wanita yang telah memberinya kasih sayang yang berlimpah. " Ibu benar..kamu boleh marah dengan kami , tapi Ayah mohon jangan tinggalkan kami. Ayah tidak sanggup kalau kamu pergi dari kami lagi. Cukup sekali kamu pergi Nak." tubuh Irfan bergetar menahan tangis , Dhiya beralih ke Irfan, memeluk laki laki yang sudah memperjuangkan nya untuk bisa menatap dunia. "Kalian tetap keluargaku , aku tidak akan meninggalkan kalian." Dhiya menekan perasaannya agar tetap tenang. "Aku mau istirahat." lanjutnya tampa ekspresi. Irfan dan Maharani saling beradu pandang , merasa cemas . Aby baru keluar dari kamar Sakhiy , ia mendekati istrinya. "Aku temani ya." Dhiya tidak memberi jawaban , ia berlalu dari mereka bertiga. "Ibu takut By . Dhiya tidak berekspresi sama sekali." "Dhiya perlu waktu Bu. Aby ke kamar dulu." Maharani mengangguk, dan Irfan pun juga beranjak dari duduknya. Ia masuk kamar dan menutupnya. Tinggallah Maharani sendiri , ia menyandarkan kepalanya disofa,menatap langit langit ruang tamunya. 'akhirnya waktu itu tiba juga' gumannya pelan. "Nenek bicara sendiri?" tanya Sakhiy yang sudah berada tepat didepan muka Maharani. "Aduh...cucu Nenek ini mengagetkan saja." Maharani mencubit kedua pipi Sakhiy pelan dan gemas dengan anak Aby dan Dhiya yang semakin tampan. Sakhiy ikut duduk disamping Maharani dengan posisi yang sama. "Nek!" "Apa?" "Jalan jalan yuk! Naik motor." Maharani menoleh kesamping. "Ke gang depan, makan bakso." lanjut Sakhiy, Maharani berfikir sejenak kemudian tersenyum. "Baiklah." jawabnya. ******* CEKLEK Aby membuka pintu kamarnya dengan pelan dan menutupnya kembali. Ia menyapu pandangannya keseluruh penjuru kamar mencari keberadaan Dhiya. Suara gemericik air dari kamar mandi menandakan orang yang dicari tengah berada di dalam. Aby duduk ditepi ranjang menunggu Dhiya sambil memainkan ponselnya. Dhiya keluar kamar mandi dengan muka sembab , dan Aby tahu kalau istrinya itu baru saja menangis. Sungguh Aby tidak tega melihat keadaan Dhiya. Ia beranjak dari duduknya dan menghampiri Dhiya yang sedang menyisir rambut panjangnya didepan meja rias. Aby mengambil sisir yang dipegang Dhiya dan mulai menyisir rambut istrinya. "Aku yang meminta untuk merahasiakan ini darimu hon , setidaknya sampai kamu melahirkan. Aku tidak ingin kamu stres dan terjadi sesuatu dengan bayi kita." Dhiya masih bergeming dan membiarkan Aby mengikat rambutnya. Selesai mengikat rambut Dhiya , Aby berjongkok menghadap perut Dhiya dan menciumnya. "Kalau mau marah , marahlah padaku." "Aku tidak marah bee, aku cuma butuh waktu untuk sendiri." Dhiya menjeda kalimatnya. "Setidaknya aku bisa membela putraku kalau aku lebih dulu tahu kebenarannya saat wanita itu menghina Sakhiy." Dhiya beranjak dari duduknya menuju ranjang dan merebahkan tubuhnya. Aby menyugar rambutnya kemudian menyusul Dhiya , ia meletakkan kepalanya diceruk leher Dhiya menghirup aroma tubuh istrinya. "Apa kamu ingin dengar ceritaku?" "Hem." "Aku sudah membebaskan Tante Yoona dan Om Raka dari penjara, tapi dengan syarat mereka harus pergi jauh dari kota ini. Mereka menyanggupinya dan informasi dari orang yang aku tugaskan untuk mengawasi mereka , sekarang mereka tinggal jauh di sebuah desa. Mereka bertani juga beternak ikan." "Sejak kapan?" "Saat tahu kamu hamil. Aku tidak ingin ada dendam , aku ingin hidup tenang. Harapanku , dengan memaafkan hati kita akan lebih lapang. Dan juga saat kamu melahirkan nanti diberikan kemudahan juga keselamatan untuk kalian." "Terimakasih sudah hadir dihidupku bee , aku cinta kamu." Dhiya mengacak acak rambut Aby dengan kasar. "Dhi...kamu nggak bisa ya romantis sedikit." Aby duduk dan merapikan rambut gondrongnya yang berantakan karena ulah Dhiya. Bukannya merasa bersalah Dhiya justru mencubit kedua pipi Aby dengan gemas. "Ala..ala suami siapa sih ini? ganteng banget, hem." Dhiya tertawa cukup keras melihat Aby yang cemberut. "Awas kamu Dhi.." satu tangan Aby mendekap tubuh Dhiya dan sebelahnya lagi mengerjai bagian sensitif tubuh istrinya. "Cukup By..curang kamu." Dhiya sekuat mungkin menahan untuk tidak mengeluarkan suara merdunya. Aby menyeringai, takkala bagian sensitif itu sudah basah. "Kamu basah sayang...aku tidak akan berhenti sebelum kamu menyerah." tangan Aby semakin jahil. "Baiklah...aku nyerah." "Telat...dia sudah bangun." Dhiya mencebikkan bibirnya. Aby mengungkung Dhiya dan menjadikan kedua tangannya untuk menyangga tubuhnya. "Mau dilanjut atau tidak hem?"


__ADS_2