KEMBALINYA CINTA PERTAMA

KEMBALINYA CINTA PERTAMA
BAB 35 KE PALEMBANG


__ADS_3

"Sakhiy ngantuk Bu.." kata Sakhiy sembari menutup mulut dengan telapak tangannya karena sudah tak tahan untuk tidak menguap. "Ayah antar pulang ya?" "Sakhiy mau pulang nanti saja sama Ibu." Sakhiy berjalan menuju ruangan Dhiya meninggalkan orang tuanya. "Dhi..tadi tidak sengaja aku bertemu Raina direstoran tempat aku meeting.Sebenarnya dia datang bersama temannya, tiba tiba temannya ada urusan jadi pergi lebih dulu.Ia memintaku untuk menemaninya makan, aku fikir masih ada waktu untuk menjemput Sakhiy jadi aku temani. Dan aku lupa kalau ponselku aku mode silent." "Siapa yang nanya." jawab Dhiya dengan cuek, sedangkan Aby mengusap usap tengkuknya. "Em...untuk menebus kesalahannku, aku akan menunggumu disini sampai pulang.Tapi jangan marah lagi ya." kata Aby dengan nada penuh permohonan. "Memang kamu tidak ada kerjaan apa?" tanya Dhiya masih dengan muka ditekuk. "Beberapa sudah aku kerjakan semalam karena aku ingin lusa sudah bisa ke Palembang.Dhi..apa aku sudah dimaafkan?" "Memang kamu melakukan kesalahan?" "Ayolah Dhi ...aku sangat tahu kamu sekarang sedang marah." Dhiya menghela nafas panjang, sebenarnya ia tidak marah hanya cemburu karena Aby menemani wanita lain juga berniat mengantarkan pulang. "Aku nggak marah..hanya sebel sama kamu." Aby tersenyum simpul dan terbesit ide untuk menggoda Dhiya. "Apa kamu cemburu Dhi? Aku senang kalau kamu cemburu..tandanya kamu sudah jatuh cinta lagi sama aku." PLAK Dhiya memukul lengan Aby dengan kertas yang ia gulung dan Aby terkekeh. "Iya..aku cemburu puas kamu.Lagian sudah waktunya ke sekolah Sakhiy bisa bisanya malah menemani orang makan.Memangnya kenapa kalau makan sendiri pakai mau diantar pulang segala." "Rumahnya searah sama sekolah Sakhiy." "Dari sikapnya sudah kelihatan kalau dia mencari perhatianmu, perhatian sekecil apapun yang kamu berikan akan menumbuhkan harapan dihatinya." "Aku akan lebih tegas lagi kedepannya..jadi kita sudah baikan." "Hem." Aby tergelak dengan sikap juteknya Dhiya, semakin imut kalau lagi mode ngambek. Sekarang ia sudah bisa tenang karena singa betinanya sudah jinak lagi. "Permisi Bu..Chef Marinka ingin bertemu dengan Bu Dhiya." kata salah satu karyawan Dhiya. "Oh ya..suruh tunggu sebentar saya akan segera ke dalam." "Baik Bu." "Aku temani Sakhiy tidur saja, kamu selesaikan urusanmu." Dhiya mengiyakan dan mereka sama sama masuk kedalam. ****** Aby menyusul Sakhiy keruang pribadi wanita pemilik restoran itu dan mendapati putranya tengah terlelap dalam tidur siangnya.Ia tersenyum dan ikut merebahkan tubuhnya disamping anak laki lakinya. CUP CUP Dengan gemas Aby memberikan banyak ciuman dipipi Sakhiy, merasa tidurnya terusik Sakhiy menggeliat walau mata masih terpejam. Setelah Sakhiy tenang, Aby kembali mendaratkan ciumannya. "By...kamu ini jahil banget sih." tiba tiba Dhiya sudah berada di kamar karena ia hendak mengambil berkas dan melihat Aby sedang mengganggu tidur Sakhiy.Aby menoleh dan terkekeh pelan, kemudian ia bangun mendekati Dhiya sambil melipat lengan kemejanya beberapa kali dan membuka dua kancing atas kemejanya. "Anaknya saja semenggemaskan itu bagaimana ibunya?" Aby menyeringai menatap lekat Dhiya. "Ngomong apa sih kamu ini?" Dhiya mengambil berkas yang berada diatas meja dan hendak keluar kamar tapi ia urungkan saat melihat Aby membuka kemejanya dan melemparkan tepat dimukanya.Dhiya mematung menghirup aroma kemeja Aby,aroma yang sangat disukai Dhiya beberapa tahun silam. "Nggak sopan!" kata Dhiya tapi tangannya bergerak mengambil kemeja Aby dan meletakkan di gantungan baju. "Apa kamu masih suka dengan aroma itu?" "Kenapa ganti parfum ini?" "Pengen saja, mengingatkan masa lalu." Aby naik keranjang dan memeluk Sakhiy sambil memejamkan matanya.Dhiya tersenyum samar. "Jangan diganggu anaknya By..aku keluar." Dhiya menutup pintu dengan pelan agar tidak menimbulkan suara. ******** "Berapa lama Bos di Palembang?" tanya Hanif . "Belum tahu...untuk proyek dengan mister Smith tunda dulu sampai aku kembali." "Baik Bos." saat ini mereka dalam perjalanan menuju rumah Dhiya. Sementara itu Dhiya juga yang lain sudah siap berangkat dan menunggu kedatangan Aby. Sakhiy beberapa kali melihat kedepan rumah ia tidak sabar ingin segera bertemu Zaina juga Zein anaknya Gilang.Irfan yang melihat Sakhiy keluar masuk rumah jadi ikut pusing. "Sakhiy...Kakek pusing lihat kamu.Sini duduk sama Kakek." Irfan tekekeh karena karena Sakhiy malah celingak celinguk didepan pagar. "Ayah lama sekali sih..." Sakhiy duduk disebelah Irfan. "Ayahmu masih diperjalanan...kenapa nggak kamu telpon saja?" "Nggak boleh sama Ibu..." TIN TIN Sakhiy berlari membuka pagar melihat siapa yang datang dan mengamati mobil yang tidak dikenalnya.Ia bersorak kegirangan ketika tahu siapa yang ada didalam mobil.Aby keluar mobil demikian juga Hanif. "Ayah lama sekali?" "Oh ya? " Aby melihat arlojinya dan tersenyum mengusap kepala putranya. "Sakhiy kali yang sudah tidak sabar ingin segera berangkat." imbuhnya. "Iya..Sakhiy sudah tidak sabar mau gendong Zein." "Zein?" Aby mengerutkan keningnya karena tidak tahu yang dimaksudkan Sakhiy. "Anak kedua Gilang." Aby beroh ria. "Zein itu lucu Yah...gembul banget.Kek...nanti Zein mau digendong Sakhiy nggak?" "Tau...!" celetuk Irfan mengangkat bahunya menggoda Sakhiy . "Yaa...kata Kakek Zein pasti mau digendong Sakhiy?" "Siapa tahu Zein berubah pikiran." Aby dan Hanif tergelak mendengar obrolan kakek dan cucu itu. "Apa kabar Om?" Hanif menyapa Irfan dengan ramah. "Baik Nak Hanif.Om kedalam dulu ." Aby dan Hanif mengangguk . Tak berapa lama Dhiya keluar bersama Maharani juga art mendorong koper. "Sudah siap semua?Barangkali ada yang ketinggalan?" kata Aby. "Kayaknya sudah semua.Sakhiy oleh oleh buat Zaina sama Zein kamu taruh mana?" tanya Dhiya mengingatkan Sakhiy. "Sudah Sakhiy masukkan mobil." "Ya sudah.Ayo berangkat." pungkas Maharani.Mereka pun akhirnya berangkat menuju bandara.


__ADS_2