KEMBALINYA CINTA PERTAMA

KEMBALINYA CINTA PERTAMA
BAB 27 MUSIBAH MEMBAWA BERKAH


__ADS_3

Dhiya dan Aby bergegas menuju ruangan di mana Sakhiy dirawat.Nampak wali kelas Sakhiy menunggu di luar ruangan.Ia segera beranjak dari duduknya saat melihat kedatangan Dhiya. "Bagaimana putra saya Bu?" tanya Dhiya . "Sakhiy sedang ditangani dokter Bu.Tadi dia sedang bermain dengan teman temannya dan tidak sadar kalau dekat tangga.Kami selaku pihak sekolah mohon maaf karna telah teledor mengawasi anak anak." kata wali kelas dengan penuh penyesalan. "Sudahlah Bu,bagi saya yang penting saat ini kondisi putra saya.Sekiranya Ibu mau kembali ke sekolah silahkan." "Iya Bu,semoga Sakhiy tidak mengalami cedera yang serius.Kalau begitu saya permisi." Setelah wali kelas Sakhiy pergi,Aby mendekati Dhiya.Ia duduk disebelah Dhiya. "Apa tidak ada sesuatu yang ingin kamu jelaskan padaku." kata Aby dengan suara pelan. "Apa?" tanya Dhiya yang tidak mengerti maksud Aby. "Sakhiy anakku kan?" kata Aby yang sudah tidak bisa menahan diri lagi.Dhiya tercengang dengan kata kata Aby. "Kalau iya,lantas kau mau apa?" kata Dhiya dengan dingin.Pandangannya menerawang jauh.Aby menghela nafas panjang,ia sadar kesalahannya. "Aku juga ingin memberikan kasih sayangku untuknya Dhi.Izinkan aku dekat dengan putraku Dhi." kata Aby penuh permohonan.Dhiya memalingkan wajahnya,ia tahan air matanya agar tidak menetes. CEKLEK Dokter keluar dari ruang perawatan,Aby dan Dhiya beranjak dari duduknya. "Keluarga pasien yang bernama Sakhiy." kata dokter. "Benar Dok,kami orang tuanya." jawab Aby.Ia tidak memperdulikan tatapan tajam Dhiya. "Kalau begitu Papa atau Mamanya ikut ke ruangan saya." kata dokter sambil menatap Aby dan Dhiya bergantian. "Biar Mamanya saja Dok.Apa saya boleh melihat putra saya?" "Boleh.Tapi tunggu dipindahkan ke ruang rawat ya.Mari Mamanya Sakhiy." ajak dokter dengan ramah.Dhiya pasrah mengikuti langkah dokter. Aby mengikuti perawat mendorong brankar Sakhiy.Ia menatap putranya dengan kasih.Setelah beberapa tahun akhirnya ia bisa sedekat ini dengan darah dagingnya.Setelah perwat keluar dari ruangan,Aby mendekati Sakhiy yang masih tertidur karena pengaruh bius.Ia duduk disamping brankar,menatap putranya dari dekat. 'maafkan ayah nak,ayah selau tidak ada disisi kalian tiap kali kalian butuhkan.tapi sekarang ayah tidak akan meninggalkan kalian lagi.bantu ayah mendapatkan hati ibumu,dia sekarang menjadi galak' batin aby. CEKLEK Aby menoleh kearah pintu,tapi ia cuek dan memandangi wajah Sakhiy kembali sambil menggenggam tangan putranya.Dhiya masuk ruangan menuju nakas meletakkan bungkusan obat.Ia mengusap lembut kepala Sakhiy. "Apa kata dokter?"tanya Aby dengan pelan. "Tidak ada luka yang serius,cuma memar dibagian kepala dan kening.Mungkin lusa sudah bisa pulang kalau lukanya sudah kering." selesai dengan ucapannya,Dhiya berlalu menuju kamar mandi. Aby lega bahwa Sakhiy tidak mengalami luka yang serius.Ia mengelus pipi Sakhiy dengan ibu jarinya,ia cium keningnya cukup lama.Perlakuan Aby ke Sakhiy membuat Dhiya merasa bersalah karna merahasiakan kehadiran Sakhiy pada Aby.Tapi semua ia lakukan karena tdak ingin Sakhiy mengalami penolakan dari orang tua Aby seperti yang ia alami dulu. "Kamu bisa kembali ke kantor,aku yang akan menjaga Sakhiy."kata Dhiya. "Aku akan tetap disini menemani putraku.Mengapa kamu merahasiakan keberadaannya Dhi.Apa aku tidak berhak mendapat kesempatan lagi?" "Karna aku tidak ingin Sakhiy mengalami penolakan seperti yang kurasakan.Dan aku harap kamu tidak lupa bagaimana orang tuamu menolakku dan juga aku tidak akan memberi kalian kesempatan meskipun kalian memohon." "Tapi Dhi,waktu itu aku tidak tahu kalau kamu hamil." "Andai pun aku tidak hamil,apa kamu pantas memperlakukan aku seperti itu setelah apa yang kamu lakukan?" kata Dhiya berusaha menekan perasaannya.Tubuh Aby melemas,ingatannya kembali kemasa lalu.Dhiya benar,ia tak pantas mendapatkan maaf apalagi kesempatan kedua.Tangannya mengepal menahan amarah,rahangnya mengeras. EUGH! Aby hendak beranjak dari duduknya ketika Sakhiy terbangun. "Ibu.." ucap Sakhiy pelan.Aby mendengar suara putranya tapi tak berani mengangkat kepalanya.Matanya sudah berkaca kaca. "Ya,ibu disini.Apa yang Sakhiy rasakan sekarang?" "Sedikit pusing." jawab Sakhiy sambil pandangannya mengitari sekitar ruangan. "Bu..." "Sakhiy saat ini di rumah sakit." jawab Dhiya seakan faham ucapan Sakhiy. "Maaf Bu,Sakhiy tidak hati hati." "Lain kali hati hati kalau bermain,apalagi sambil bergurau." Pandangan Sakhiy tertuju pada Aby,kemudian berganti menatap Dhiya. "Paman ini siapa?" Dhiya tercekat,ia tidak menyangka waktu pertemuan ayah dan anak akan secepat ini.Sedang Aby jantungnya berdetak kencang. "Dia..."Dhiya menarik nafas panjang dan menghembuskan pelan."Dia ayah Aby."jawab Dhiya dengan cepat. "Ayah Abi!Benarkah ini Ayah Sakhiy?" Aby yang mendengar Sakhiy menyebutnya ayah mengangkat kepalanya. Ia melihat Sakhiy tersenyum kearahnya,dengan canggung ia membalas senyum putranya.'ya Tuhan hampir saja mengulangi kebodohanku lagi'batinnya. "Apakah paman Ayah Aby,ayah ku?" tanya Aby dengan polos.Aby mengangguk,tidak mampu berkata kata.Ia tidak menyangka Dhiya akan memperkenalkan nya sebagai ayahnya Sakhiy. "Ayah,bolehkah Sakhiy memeluk Ayah?Sakhiy sangat merindukan Ayah Aby." Sakhiy berusaha bangun dari posisi berbaringnya.Dhiya membantu Sakhiy duduk,ia memberi bantalan untuk Sakhiy bersadar dikepala ranjang. Aby tersentak dengan ucapan anak kecil didepannya,tampa menunggu lama ia langsung memeluk Sakhiy. Ia menangis bahagia juga terharu sedangkan Sakhiy tampak bahagia dipeluk orang yang dirindukannya sepe ninggal Alif. "Ayah juga sangat merindukan Sakhiy.Maaf kan Ayah ya." "Iya Sakhiy maafkan tapi, Ayah janji kerjanya jangan jauh jauh lagi,biar cepat pulang." mendengar ucapan polos Sakhiy,Aby melirik Dhiya.'rupanya selama ini sakhiy mengira aku kerja di tempat jauh,hah! ini semua pasti karangan dhiya' batinnya.Dhiya melengos kesamping ketika menyadari Aby tengah menatapnya. "Ayah janji,tidak akan pergi jauh lagi.Ayah akan selalu ada untuk Sakhiy, ayah sayang Sakhiy." Aby menghujami bagian wajah juga kepala Sakhiy dengan ciuman.Sakhiy tertawa karena merasa geli. "Ha..ha..geli Yah." ayah dan anak tertawa bersama,Dhiya tersenyum samar.Aby memperhatikan tawa putranya. Meskipun wajah Sakhiy hampir 90% mirip dengannya tapi kalau tertawa sama persis dengan wanita dihadapannya yang tetap memasang wajah juteknya kalau berhadapan dengannya. "Sakhiy minum obat dulu ya." mendengar ucapan Ibunya Sakhiy mengangguk. "Dhi,obatnya pahit nggak?Kasihan Sakhiy kalau harus minum obat yang rasanya pahit." tanya Aby yang mulai posesif.Dhiya memutar bola matanya. "Nggak papa Yah,Sakhiy sudah biasa minum obat yang rasanya pahit." Aby mengenggam tangan Sakhiy ketika Dhiya memasukkan obat kemulut Sakhiy.Dengan tenang Sakhiy menelan obatnya. "Ayah nanti tidur disini ya,Sakhiy ingin tidur sama Ayah." kata Sakhiy memohon.Dhiya terkejut dengan permintaan Sakhiy tapi,ia segera sadar pasti Sakhiy sangat merindukan sosok seorang ayah.


__ADS_2