
Dhiya dan Alif mengantarkan Irfan,Maharani juga Gilang ke bandara.Mereka hendak pulang ke Jakarta.Sebenarnya Dhiya meminta kedua orang tuanya agar tinggal lebih lama di Palembang,karena masih sangat merindukan kebersamaan dengan ke luarganya.Apalagi Sakhiy yang sudah dekat dengan kedua orang tuanya juga Gilang. Sampai di bandara,mereka saling berpelukan,tidak ada tangis apalagi drama perpisahan.Yang ada hanya kebahagiaan, karena keluarga mereka sudah kembali meskipun terpisah jarak. "Ayah,jangan lupa janjinya bulan depan ke Palembang.Sakhiy pasti sangat meridukan Kakek dan Neneknya." "Sama Pamannya nggak kangen nih?" "Iya,sama Paman juga." "Sakhiy ikut Paman Gilang." kata Sakhiy dengan bahasa khas anak kecil. "Nanti ya sayang,kalau Paman nggak sibuk,Paman akan mengajak Sakhiy jalan jalan." seperti faham ucapan Gilang Sakhiy lonjak lonjak kegirangan. "Nak Alif,kami pamit pulang,terimakasih sudah diantar." "Iya Bu,sama sama dan jaga kesehatan.Kami menunggu kedatangan kalian." ******* Setelah menikah,Alif punya tugas baru mengantar Dhiya ke tempat cateringnya.Sebenarnya Dhiya keberatan kalau harus diantar Alif karena berlawanan arah.Alif juga melarang Dhiya membawa kendaraan sendiri. "Nanti sore Mas ada pertemuan dengan relasi." "Jadi?" "Jadi,nanti Mas jemput kamu terlebih dahulu,terus ikut ke tempat pertemuan." "Apa aku nggak ganggu?" "Nggak lah,justru Mas akan sangat senang kalau kerja ditemani istri." Dhiya tersipu dengar ucapan Alif.Entahlah suaminya selalu bisa membuat hatinya berbunga bunga. "Memangnya di mana sih Mas tempatnya?" "Masih rahasia,tapi Mas yakin kamu akan menyukai tampat itu." "Jadi penasaran." "Penasarannya buat nanti malam saja.Mas punya gaya baru untuk kita." Alif terkekeh melihat istrinya mencebikkan bibir. "Dasar mesum." "Mesum sama istri sendiri nggak dilarang,asal jangan sama istri orang." "Awas saja kalau berani." kata Dhiya sambil mencubit perut Alif . "AUGH! Sakit Yang." Alif meringis kesakitan. "Apaan sih!Lebay banget,Sakhiy aja nggak kesakitan kalau aku cubit seperti itu." "Ha...Ha...ketahuan deh.Pagi ini sarapan apa Yang?" "Makanan kesukaanmu." mendengar jawaban Dhiya,Alif menyeringai.Ia mendekati istrinya yang sedang menyisir rambutnya. "Mau ngapain Mas?" Dhiya merinding melihat senyum Alif. "Mau sarapan ." Alif mengambil sisir Dhiya dan meletakkan di meja.Ia memeluk Dhiya dari belakang dan menghirup aroma vanila dari tubuh istrinya. "Mas.."tubuh Dhiya meremang oleh perlakuan suaminya.Mengetahui tubuh istrinya merespon dengan baik,Alif membalikkan tubuh Dhiya,hingga tubuh keduanya berhadapan. "Ini makanan kesukaan Mas." kata Alif dengan suara berat.Ia merapatkan tubuhnya sehingga Dhiya dapat merasakan sesuatu yang sudah mengeras. "Jangan ngadi ngadi Mas,pagi ini aku ada janji dengan orang." kata Dhiya berusaha melepaskan diri.Ia sangat tahu apa yang diinginkan suaminya.Bukan ia menolak suaminya tapi,ia harus segera berangkat. "Sebentar saja,Mas janji." "Mana bisa kamu sebentar Mas." Alif terkekeh dan melepas bajunya.Akhirnya Dhiya pasrah,ia tidak mau berdosa karna menolak suaminya.Alif tersenyum penuh kemenangan,tak menunggu lama ia membawa istrinya ke kamar mandi. ******* Alif menjemput istrinya dan membawa ke tempat pertemuan dengan relasi bisnisnya.Dhiya takjub dengan tempat yang dipilih suaminya.Sebuah cafe yang dikelilingi dengan taman taman yang penuh dengan bermacam macam bunga.Juga ada beberapa kolam mini berisi berbagai jenis ikan hias. "Bagus sekali,aku kesana ya Mas?" kata Dhiya sambil mengarahkan telunjuknya keujung taman yang terdapat berbagai warna bunga krisan. "Jangan lama lama,Mas tunggu disini." Dhiya mengangguk dan meniggalkan suaminya.Alif menghela nafas menatap langkah istrinya yang semakin jauh.Ia memilih tempat duduk agak pinggir,agar bisa mengawasi istrinya. Tak berapa lama,orang yang ditunggu datang. "Selamat sore Pak Alif,maaf sudah menunggu." "Saya juga baru sampai Pak Aby.Saya juga mengajak istri tapi sepertinya ia sedang asyik dengan bunga bunga." "Wanita memang kebanyakan menyukai bunga." "Anda benar.Langsung saja ya Pak Aby,untuk nama hotelnya saya ganti menjadi DHIYA HOTEL." DEG! Jantung Aby seketika berdetak kencang.Dhiya, nama yang tidak pernah ia lupakan.Seseorang yang ia cari hingga saat ini. "Ada apa Pak Aby?Kenapa muka anda tampak pucat?" "Saya nggak apa apa.Silahkan dilanjutkan." "Untuk warna, saya mau tidak ada warna yang mencolok.Istri saya tidak menyukai warna warna yang terlalu terang." "Apakah Dhiya nama istri Pak Alif?" "Benar,saya juga ingin menambahkan bunga krisan disekitar taman.Istri saya sangat menyukai bunga krisan." Aby menelan ludahnya ,mengapa banyak kesamaan dengan Dhiya yang ia cari.Apa mungkin Dhiya pergi ke Palembang? batinnya. "Ada lagi Pak Alif?" "Saya rasa itu dulu,saya akan menghubungi Pak Aby kalau ada perubahan.Saya sudah pesankan makanan." "Saya permisi ke toilet sebentar." "Silahkan." sepeninggal Aby,Alif menghubungi Dhiya.Tak berapa lama,Dhiya sudah berada dihadapannya. "Sudah selesai Mas?" "Beliau masih ke toilet,kita tunggu sebentar." Aby yang sudah selesai dengan urusannya di toilet hendak menuju mejanya,tapi ia urungkan karena pandangannya tertuju pada seorang wanita yang sedang berbincang dengan Alif. 'apakah itu istrinya pak alif? batinnya. Ia terus memperhatikan wajah dari wanita yang memakai jilbab dan gamis dengan warna senada.' mirip sekali, kalau dhiya pakai jilbab pasti mirip dengannya.dhiya? jangan jangan mereka adalah dhiya yang sama?' DERT DERT Ponse Aby bergetar, seketika wajah merah menahan marah setelah membaca pesan dari seseorang. Ia mengirim pesan untuk Alif. 'Pak Alif saya mohon maaf,saya harus segera ke perusahaan,ada sedikit masalah.' "Iya Pak Aby,nggak apa apa.Semoga semua baik baik saja.' "Kenapa Mas?" "Pak Aby pulang lebih dulu,ada masalah di perusahaannya.Kita makan saja." Dhiya mengangguk dan segera menghabiskan makanannya.