
Aby memenuhi janjinya pada Raina untuk makan malam di kediaman orang tua gadis itu. Ia merasa tidak enak hati karena sering menolak Raina. "Silahkan masuk Nak Aby." kata Irma ,mamanya Raina.Aby mengangguk dan mengikuti langkah kaki Irma masuk kedalam rumah. Tak berapa lama Raina keluar bersama laki laki paruh baya.Aby mengulurkan tangannya menjabat tangan Prastyo, papanya Raina. "Apa kabar Om?" sapa Aby dengan ramah.Ia menatap sekilas pada Raina dan tersenyum.Raina membalas dengan senyum bahagia. "Baik By,terimakasih sudah meluangkan waktumu untuk memenuhi undangan kami. Om tahu kamu pasti sangat sibuk,perusahaanmu semakin berkembang." "Biasa saja Om..." "Kak Aby...kapan balik ke Amerika?" Raina yang dari tadi diam akhirnya buka suara. "Belum tahu Rain...mungkin aku akan menetap di Indonesia." Raina menekuk wajahnya, kalau Aby menetap di Indonesia ia akan sulit untuk bertemu Aby.Kuliahnya di Amerika belum selesai. "Makanan sudah siap Pa." kata Irma yang datang dari ruang tengah.Prastyo mengajak Aby menuju ruang makan.Rania mengambil duduk disamping Aby dan berinisiatif mengambilkan Aby makanan. "Kak Aby mau makan yang mana?" "Pakai sayur sama ikan goreng saja." mereka pun makan dengan tenang hanya suara dentingan sendok. "Memangnya kamu beneran mau menetap di Indonesia By?" Prastyo membuka percakapan selesai makan. "Sepertinya Om, lagi pula saya punya orang yang bisa saya percaya.Mungkin sesekali saya akan kesana." "Apa kamu sudah punya kekasih By." tanya Prastyo membuat jantung Raina berdebar sedangkan Aby tersenyum mendengar pertanyaan Prastyo. "Doakan Om." Prastyo terkekeh. "Pasti seseorang itu yang membuatmu betah disini." "Ha..ha.. Om tahu saja." Rania meremas jemarinya, dadanya bergemuruh menahan kekecewaan juga marah.' siapa sebenarnya wanita yang dicintai Kak Aby? aku harus cari tahu" batinya. Irma yang menyadari perubahan raut muka Rania mengelus punggung telapak tangan anak gadisnya. "Kak Aby mau salad?" "Boleh, tapi jangan banyak banyak." "Padahal tadinnya Tante mau minta tolong agar Raina bekerja di perusahaan Nak Aby sekalian belajar." "Silahkan Tante, saya bisa menyuruh asisten saya untuk dicarikan posisi yang sesuai untuk Raina." "Bagaimana Rain?" tanya Irma pada Raina. "Lihat nanti saja Ma." jawab Raina dengan malas. Obrolan berlangsung sampai jam 8 malam, Aby berpamitan pada orang tua Raina karena sudah janji dengan Sakhiy membantu mengerjakan PR. Ia benar benar mengutamakan urusan Sakhiy, karena tidak mau putra semata wayangnya merasa kurang diperhatikan olehnya. ******* Dikediaman Dhiya, Sakhiy tampak cemberut karena Ayahnya tak kunjung datang.Ia menolak dibantu siapapun untuk mengerjakan PRnya. Karena Sakhiy kekeh menunggu Aby, Dhiya memilih mencari udara segar di teras sambil memainkan ponselnya.Ketika baru saja diteras mobil Aby sampai didepan pagar dan membunyikan klaksonnya. Dhiya pun segera membuka pagar untuk Aby. "Malam Dhi" sapa Aby sambil menyunggingkan senyum manisnya. "Malam..langsung saja By.Sakhiy sudah menunggumu,ia tidak mau dibantu siapapun." "Oh ya...aku masuk kalau gitu." Dhiya mengangguk dan mengikuti langkah Aby. Sekitar setengah jam Sakhiy selesai mengerjakan PRnya dibantu Aby dan ditemani Dhiya.Karena sudah mengantuk,Sakhiy izin Aby untuk tidur lebih dulu. "Bagaimana acara makan malamnya?" "Biasa saja..kalau ada kamu pasti jadi luar biasa." jawab Aby sambil mengerlingkan sebelah matanya. "Mulai deh..." Aby terkekeh dan menatap lekat Dhiya. "Dhi...aku masih tetap mencintaimu bahkan rasa cinta ini semakin besar.Apa kamu mau menerimaku? Kita mulai lagi dari awal,aku tidak menjanjikan bahwa kamu akan selalu bahagia bersamaku tapi, aku akan berusaha ada untuk kalian.Saat ini aku hanya punya kalian berdua." "Tapi sebelum itu aku ingin menyampaikan sesuatu kepadamu." "Katakan Dhi." "Kamu tahu aku pernah menikah, hingga detik ini beliau tetap menempati ruang dihatiku dan tidak akan pernah terganti.Aku sangat menghormati Mas Alif,bukan lagi mencintainya.Dulu waktu aku dengan Mas Alif, aku benar benar sudah mematikan rasa cintaku untukmu, karena kamu masih hidup.Tapi sekarang keadaanya sudah berbeda...Mas Alif sudah tidak ada dan aku mengingatnya karena kebaikan beliau juga kasih sayangnya untuk Sakhiy." Dhiya menghentikan ucapannya dan menghapus air matanya yang mengalir. "Aku tahu Dhi...Pak Alif dan keluarganya berjasa besar pada kalian.Aku menghormati apapun keputusanmu,aku juga sangat berterimakasih karena selama beliau hidup anakku mendapatkan kasih sayang seorang ayah.Itu salah satu alasan aku mengurus berdirinya Yayasan Alif secara langsung dan lebih mengutamakan dari proyekku yang lain." "Jadi kamu tidak apa apa kalau aku masih menyimpan nama Mas Alif?" Aby tersenyum tulus dan menggelengkan kepalanya. "Aku nggak apa apa Dhi... apa ini berarti aku diterima?" "Mungkin." "Kok mungkin Dhi, yang pasti dong.Biar aku bisa tidur nyenyak malam ini." "Emang tidurmu tidak nyenyak apa?" "Jarang..wajahmu selalu mengusik tidurku." Dhiya memutar bola matanya jengah sedangkan Aby kembali terkekeh. "Aku akan secepatnya melamarmu Dhi,dan segera menghalalkanmu." "Keburu buru banget." "Nunggu apa lagi?Toh kita sudah cukup mengenal masing masing dan sama sama dewasa." "Terserah kamu, sudah larut kamu pulang sana." "Siap calon istri...mimpi yang indah ya." ******** Hati Aby begitu bahagia setelah Dhiya bersedia membuka hatinya lagi untuknya. Ia ingin segera meminta Dhiya pada orang tuanya. Ia ingin saat ke Amerika nanti, ia dan Dhiya sudah halal.Hari ini ia berencana mengajak Dhiya menemani Sakhiy membeli perlengkapan melukis. Aby dan Dhiya turun menghampiri Sakhiy yang sudah menunggu mereka di pos keamanan. Sakhiy agak heran karena melihat sang Ibu juga ikut menjemputnya. "Maaf ya...Ayah terlambat karena jemput Ibu dulu." "Apa Ibu akan ikut kita ?" Dhiya mengangguk dan mengacak acak rambut Sakhiy. "Iya.." jawab Dhiya singkat. Sakhiy tersenyum senang dan menarik tangan Dhiya berjalan menuju mobil. Aby berpamitan pada petugas keamanan sekolah dan bergegas menyusul dua orang yang sangat disayanginya. Tanpa Aby ketahui ada dua pasang mata yang melihatnya bersama Dhiya dan Sakhiy. "Siapa wanita dan anak kecil itu ? Apa itu pacarnya Kak Aby?" "Bisa jadi...apa kita ikuti saja mobilnya Aby?" "Iya Ma...aku penasaran ada hubungan apa Kak Aby sama wanita itu?"