
Aby keluar dari ruang persalinan dan langsung disambut oleh Maharani dan Hanif. "Bagaimana By?" tanya Maharani. "Semua sehat Bu, sebentar lagi akan dipindah ke ruang perawatan." "Syukurlah. Kamu kenapa By? Mukamu kelihatan kusut?" "Nggak papa Bu. Saya mau cari udara segar dulu Bu." jawab Aby. "Ya sudah. Biar Ibu yang menemani Dhiya." "Nif..temani saya." "Iya Bos." Tak berapa lama pintu ruangan terbuka , Dhiya duduk dikursi roda dengan menggendong bayinya. Salah satu suster mendorong kursi roda menuju ruang perawatan. Sampai di ruang perawatan, Maharani mengambil bayi dari gendongan Dhiya sementaranya ibunya dibantu suster istirahat di ranjang. Maharani mencium bayi yang masih merah itu. "Cucu Nenek cantik sekali." ucap Maharani kemudian mengusap pipi yang sangat lembut itu. "Aby mana Bu?" tanya Dhiya karena tidak melihat keberadaan Aby. "Katanya cari udara segar, marang kali dia syok menyaksikan wanita melahirkan. Tadi Ibu lihat badannya gemetar dan mukanya pucat." Dhiya beroh ria mendengar penjelasan Maharani. "Ibu sudah memberitahu Ayah dan Sakhiy?" "Sudah , mereka dalam perjalanan." TOK TOK CEKLEK "Ibu!" Sakhiy langsung menghampiri Ibunya dan memberikan banyak ciuman untuk Dhiya. "Eh..ada apa ni? Tumben Ibu dicium." ucap Dhiya . "Sakhiy senang Ibu nggak papa.Sakhiy nggak berhenti berdoa semoga Ibu dan adik sehat." Dhiya tersenyum kemudian memeluk putra sulungnya. "Terimakasih ya doanya, ibu dan adik sehat." "Sakhiy lihat adik ya." Dhiya mengangguk. "Selamat sayang, putrimu sehat tidak kurang apapun." ucap Irfan dengan mengecup pincak kepala Dhiya. "Terimakasih Yah.Terimakasih untuk semuanya , Dhiya belum bisa membalas semua yang Ayah dan ibu berikan untuk Dhiya." Dhiya menggenggam kedua tangan Irfan dan mengecupnya bergantian. "Hiss..Ayah tidak ingin balasan apa apa. Melihat anak anak juga cucu cucu ayah sehat, bahagia itu sudah cukup bagi Ayah dan Ibu." TOK TOK "Biar Sakhiy yang buka , itu pasti Opa Yoga." kata Sakhiy dengan yakin. CEKLEK "Halo cucu Opa." benar kata Sakhiy, yang datang ternyata Yoga dan Irene. "Masuk Opa , Oma." "Terimakasih sayang." jawab Irene dengan senyum mengembang. "Papa , Mama, kok tahu Dhiya di sini?" "Aby yang ngasih tahu , dan Papa langsung kesini. "Selamat Nak." Yoga memeluk Dhiya dan memberikan kecupan dikening Dhiya. "Selamat ya sayang." giliran Irene yang memeluk Dhiya dan mencium kedua pipi Dhiya. "Terimakasih Pa, Ma." "Kita lihat cucu kita Ma." kata Yoga . "Cantik sekali cucu Opa." Yoga mengambil cucunya dari bok bayi. "Iya Pa..mirip sekali sama Sakhiy." sahut Irene. "Abang Oma, Sakhiy maunya dipanggil abang." mendengar ucapan Sakhiy, semua yang ada di ruangan tertawa. CEKLEK Semua menoleh karah pintu , dan munculah dua remaja tampan memamerkan senyum terbaiknya. "Kalian ini nggak pakai ketuk pintu dulu." celetuk Irene. "Sorry Ma." jawab Tristan . Kedua remaja itu mengitari sekeliling ruangan kemudian saling melirik dan menyeringai. "Kak Dhiya." keduanya berhambur ketempat Dhiya dan memeluk Dhiya dari sisi kanan dan kiri . "Selamat ya Kak." kata Raihan. "Terimakasih adik adikku." kata Dhiya sembari mengusap kepala kedua adiknya. "Kak Aby mana Kak?" tanya Tristan. "Masih keluar.Kenapa memangnya?" "Huh..kalau ada suami posesif Kakak itu, mana berani kami memeluk Kak Dhiya seperti ini." jawab Tristan semakin mengeratkan pelukannya. "Jangan erat erat Tris, Kak Dhiya bisa engap." kata Raihan. "Nggak papa Rai, mumpung Kak Aby belum datang." Raihanpun mengikuti Tristan memeluk Kakak perempuannya. CUP CUP Keduanya mengecup pipi Dhiya bersamaan.Dan Dhiya pun hanya tersenyum dengan tingkah kedua adik laki lakinya. "Kami sayang Kak Dhiya." ucap mereka bersamaan. Tanpa mereka sadari , ada sepasang mata yang melihat kehangatan keluarga itu dari balik jendela. Kedua matanya mengembun, ia berusaha menahan isak tangisnya. "Maaf." gumannya lirih.