
Dhiya masuk rumah dengan gontai.Ia rebahkan tubuhnya di sofa. Ia pandangi langit langit rumahnya. Kejadian di mall tadi, membuka matanya bagaimana Aby yang sebenarnya. Laki laki yang menjadi kekasihnya sejak kelas 1 SMA sekaligus cinta pertamanya. Laki laki yang sudah menorehkan kekecewaan begitu besar dalam hidupnya.Dhiya menghela nafas panjang,ia beranjak dari sofa menuju dapur untuk menyiapkan makan malam.Selesai makan ,Dhiya memberanikan diri berbicara dengan orang tuanya. Dhiya sudah siap dengan resiko kalau ayahnya tahu keadaannya saat ini. "Yah,aku mau bicara sesuatu yang serius."Dhiya menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskan secara perlahan. Irfan nama ayah Dhiya,sosok ayah yang tegas tak segan memberi hukuman bila anak anaknya melakukan kesalahan.Ibunya berna ma Maharani, sosok yang lemah lembut juga penyabar "Aku hamil Yah."kata Dhiya tanpa berani menatap kedua orang tuanya.Maharani menutup mulutnya karena terkejut. PLAKK! Irfan menampar Dhiya,Maharani menghambur memeluk Dhiya untuk melindungi putrinya dari amarah suaminya.Dhiya menangis di pelukan ibunya. "Minggir Bu, Ayah akan memberi pelajaran pada Dhiya!"kata Irfan dengan mata yang memerah menahan marah.Maharani semakin erat memeluk Dhiya. "Hukuman macam apa yang Ayah maksud? Dengan memukul atau mengurung Dhiya? Kendalikan amarah Ayah, kita dengar penjelasan Dhiya dulu." Hiks Hiks "Maaf, Dhiya sudah mengecewakan kalian!" Maharani menghapus air mata putrinya.Ia tersenyum seakan memberikan kekuatan pada putrinya bahwa semua akan baik baik saja. "Katakan, siapa yang melakukannya?"tanya Irfan dengan sengit. "Biar Ibu yang bertanya, Ayah diam dulu!"kata Maharani dengan menatap tajam suaminya.Irfan memalingkan muka dengan kesal.Sadar ia tidak akan bisa menang kalau berdebat dengan istrinya. "Ceritakan ,jangan ada yang kamu tutupi."kata Maharani dengan lembut.Dhiya mengangguk dan mulai menceritakan awal mula saat Aby memberinya minuman keras dan membawanya ke hotel. Ketika sadar, Dhiya sudah kehilangan kesuciannya. Aby berjanji akan bertanggung jawab, tapi ternyata Aby mengingkari janjinya,ia akan bertunangan dengan wanita lain dan akan kuliah ke luar negeri.Juga ucapan ibunya Aby agar Dhiya menjahui Aby. BRAKK!! Irfan menggebrak meja dengan kuat.Mukanya sudah merah padam ,menatap tajam Dhiya. "Dimana rumahnya?Ayah akan memaksanya untuk bertanggung jawab!" Dhiya menggeleng dengan pelan.Ia sudah bertekad akan menjauh dari kehidupan Aby dan keluarganya.Ia akan menjaga dan merawat kandungannya sendiri. "Jangan Yah, tidak ada gunanya". "Lalu bagaimana dengan masa depan mu? Juga bayi yang ada dalam kandunganmu? Apa kamu sanggup menjalani kehamilan sendiri? Bagaimana kalau digugurkan saja"? "Ayah!" Maharani melotot kearah suaminya. "Nggak Yah, Dhiya akan merawat bayi ini"! "Kalau begitu pergilah ke Kalimantan, kesalah satu kerabat Ayah". "Ibu tidak setuju! Dhiya akan tetap disini, tidak boleh kemana mana"! "Ibu jangan keras kepala, Ayah tidak mau kejadian masa lalu terulang lagi". Irfan meniggalkan Maharani dan Dhiya. BRAKK. Irfan membanting pintu kamarnya dengan keras. Maharani mengelus dada melihat sikap suaminya. "Ayah hanya emosi, tidak perlu kamu ambil hati.Ibu yakin kita bisa melewati semua ini". Maharani tersenyum sambil menggenggam tangan putrinya. Dhiya mengangguk, ia tahu Ibunya pasti juga kecewa kepadanya. "Maafkan Dhiya Bu, Dhiya tidak bisa menjadi kebanggaan keluarga. Kehamilan ini akan membuat malu Ayah dan Ibu". "Semua sudah terjadi, mau tidak mau kita harus menghadapi apapun resikonya.Kamu istirahatlah, jaga calon cucu Ibu dengan baik". "Terimakasih Bu, Dhiya sayang Ibu". kata Dhiya sambil memeluk Ibunya dengan erat.