
Sekitar dua jam perjalanan udara dan darat akhirnya rombongan Dhiya sampai di rumah Ummi Salma.Mereka disambut dengan suka cita oleh Abah Zahid dan anggota keluarga lain, tak ketinggalan Gilang juga Hanifah yang sengaja ambil libur kerja demi bertemu Dhiya juga orangtua mereka. Ummi dan Dhiya saling berpelukan dan tak kuasa menahan tangis, cukup lama dua wanita beda usia itu berpelukan melepas rindu.Dhiya duduk bersimpuh dibawah Ummi Salma, ingatannya kembali pada suami yang sudah tiada.Semua yang ada diruangan ikut terenyuh melihat Dhiya menangis dengan pilu.Ummi Salma cukup faham apa yang Dhiya rasakan, ia menepuk nepuk pelan bahu Dhiya memberinya kekuatan bahwa semua akan baik baik saja. "Sudah lega?" ucap Ummi Salma dengan lembut, Dhiya mengangguk dan menghapur air mata yang masih menetes.Aby memberikan sapu tangannya dan Dhiya pun menerima sapu tangan pemberian Aby untuk menghapus air matanya. "Maaf Abah juga Ummi..saya baru bisa datang sekarang." "Nggak apa apa..kami tahu kesibukanmu ditambah lagi sekarang kamu juga mengurusi yayasan.Dimana Sakhiy?" Abah Zahid mengitari ruangan tapi tidak menemukan yang dicari. "Ikut Kak Gilang ke kamar, mau lihat Zein ganti popok." jawab Aby dan semua yang ada diruangan terkekeh. "Ummi saja belum sempat dipeluk sudah kalah duluan sama Zein." celetuk Ummi Salma. "Dia yang paling heboh saat tahu mau ke Palembang, katanya pengen gendong Zein." ucap Irfan. "Wah! Ini sepertinya tanda tanda Dhi?" goda Ummi Salma. "Tanda tanda apa Mi?" tanya Dhiya tidak faham maksud Ummi Salma. "Tanda tanda kalau Sakhiy pengen punya adik." tambah Abah Zahid. UHUK UHUK Dhiya tersedak air liurnya sendiri mendengar ucapan Abah Zahid, mukanya menjadi merah karena malu.Semua yang diruangan menahan senyumnya melihat Dhiya yang salah tingkah. "Hem..hem.. Abah, Ummi kedatangan kami kesini pertama untuk silaturahmi, kedua kami ingin ziarah ke makam Pak Alif dan ketiga saya mohon restu ingin meminang Dhiya." kata Aby dengan tenang juga sungguh sungguh. Abah dan Ummi Salma saling berpandangan dan melempar senyum . "Kenapa baru sekarang By? Ummi kira waktu kamu datang beberapa waktu lalu kamu langsung ekskusi?" kata Ummi giliran menggoda Aby. Aby nyengir sambil mengusap tengkuknya, sedangkan Dhiya mengernyitkan alisnya bingung dengan ucapan Ummi Salma.Irfan juga Maharani hanya senyum senyum karena mereka sudah diberitahu oleh Ummi Salma. "Waktu itu gunung esnya masih beku, belum cair Mi." seloroh Aby sambil melirik Dhiya. "Kalian sedang bicara apa sih? Dan sepertinya Ummi dan Abah sudah kenal Aby.Aku kok merasa aneh ya." Dhiya bergantian menatap kearah semua yang ada diruangan. "Jadi beberapa bulan lalu Aby datang kesini ziarah ke makam Alif, kemudian memperkenalkan dirinya dan menceritakan mengenai hubungan kalian dimasa lalu.Sejak itu dia sering menghubungi Abah juga Ummi dan setiap bulan selalu rutin datang kesini." jelas Abah. "Apa Ayah dan Ibu juga tahu?" tanya Dhiya pada orang tuanya, dan Irfan juga Maharani sama mengangkat bahunya. Dhiya menatap Aby minta pemjelasan, tapi laki laki memberikan respon yang sama . "Ayah...Ibu..!" suara Sakhiy mengalihkan perhatian semua orang, nampak anak laki laki Aby tengah berjalan dari dalam sambil meng gendong bayi berusia gembul berusia sekitar lima bulan dengan senyum yang merekah. Dhiya nampak kaget. "Astagfirullah Sakhiy...siapa yang ngasih kamu gendong Zein?" Dhiya sangat kawatir Zein akan terjatuh dari gendongan Sakhiy, karena bayi gembul itu terus mengayun ayunkan kakinya juga tertawa kelihatan senang digendong Sakhiy. Gilang dan Zaina berjalan dibelakang Sakhiy. "Sakhiy sudah bisa gendong Dhi...kamu nggak usah kawatir." kata Gilang. "Aku takut Zein jatuh.." Dhiya menatap Aby dan Aby pun faham maksud Dhiya, ia berjalan menghampiri Sakhiy. "Sini Zein sama Ayah dulu...Sakhiy belum salim sama Abah juga Ummi kan?Dari tadi Ummi nunggu mau peluk Sakhiy." Aby memilih kata agar Sakhiy mau memberikan Zein...karena ia tahu kalau langsung diminta Sakhiy akan kecewa, dan ia tidak mau sampai Sakhiy sedih. "Oh iya...Sakhiy sampai lupa sama Abah dan Ummi...gara gara gembul sih ..muach muach." dengan gemas Sakhiy memberikan ciuman di pipi Zein. "Sekarang giliran Kak Sakhiy digendong Abah...kan adik Zein udah tiap hari digendonh Abah." tambahnya. "Kak Zein, adik Sakhiy." celetuk Zaina. "Aku kan lebih besar dari Zein ,Zaina.Masa aku dipanggil adik sama Zein." Sakhiy mengerucutkan bibirnya, membuat Aby gemas dan me narik sedikit bibir Sakhiy. "Sudah sana, ditunggu Ummi." Aby segera mengambil Zein dari gendongan Sakhiy."Zein sama Om ya..aduh gembulnya jadi gemas" Aby pun juga memberikan ciuman untuk Zein, dan bayi laki laki itu tertawa kegelian .Sakhiy segera berhambur kearah Abah Zahid. Laki laki beda generasi itu pun berpelukan erat. "Abah kangen nggak sama Sakhiy?" "Tentu saja, Abah sangat sangat kangen sama Sakhiy.Tapi sekarang Sakhiy sudah besar jadi Abah sudah tidak kuat gendong Sakhiy." "He..he...lagian Sakhiy juga nggak mau digendong Abah." "Kenapa?" tanya Abah Zahid. "Takut nanti pinggangnya Abah encok seperti Kakek.Iya kan Kek." Sakhiy menoleh kearah kakeknya dan diangguki oleh Irfan. "Sudah pintar ya kamu." Abah Zahid mengacak acak rambut Sakhiy. "Sini dong giliran Umminya dipeluk. Ummi juga sudah kangen tahu." Ummi Salma merentangkan tangannya dan Sakhiy pun memeluk wanita paruh baya yang masih terlihat cantik itu. "Ummi tiap hari main sama Zaina dan Zein?" tanya Sakhiy setelah melepaskan pelukannya. "Iya..kan Bibi Hanifah bantu Paman Gilang kerja." "Ummi, Sakhiy kalau liburan mau diajak Ayah ke Amerika." "Wah..asyik dong.Ummi boleh ikut?" goda Ummi Salma. Sakhiy mengitari pandangannya mencari sosok Ayahnya. "Bu...Ummi boleh ikut?" Dhiya tersenyum gemas dengan anak laki lakinya. "Tanya Ayah.Zaina..sini sayang Tante belum peluk lo." Zaina mendekat pada Dhiya dan memeluknya."Em..cantik sekali sih ponakan Tante ini." "Siapa dulu Ibunya." celetuk Hanifah yang muncul dari dalam. "Hiss..nggak baik ngomong gitu." ujar Abah Zahid. "Canda Bah." jawab Hanifah sambil nyengir kuda."Makanan sudah siap Mi." "Oh ya..kalau gitu ayo kita makan.Mertua dan suamimu serta Aby di luar, kamu panggil dulu." "Iya Mi..Dhi ajak Sakhiy makan." "Ya Kak."