KEMBALINYA CINTA PERTAMA

KEMBALINYA CINTA PERTAMA
BAB 48 MERASAKAN JADI KAKAK


__ADS_3

Setelah dinyatakan positif hamil, Aby membatasi ruang gerak Dhiya. Dalam satu minggu hanya diperbolehkan dua kali ke restoran, itu pun harus ditemani Aby. Dhiya hanya bisa pasrah dengan aturan yang dibuat suaminya itu. Hari ini jadwal Aby tidak padat, jadi ia akan menemani Dhiya ke restoran untuk mengecek hasil kerja karyawannya. Aby membukakan pintu mobil untuk Dhiya setiba di area parkir restoran yang memang dibuat khusus untuk pemilik restoran. Ia mengulurkan tangannya guna membantu Dhiya turun dari mobil. Sebenarnya Dhiya sedikit risih diperlakukan secara berlebihan oleh Aby, karena sudah terbiasa mandiri. "Aku bisa sendiri bee." "Menurut saja, aku ingin menjaga kalian dengan baik. Dulu saat kamu mengandung Sakhiy, aku tidak pernah ada untuk kalian. Dan membuatku selalu merasa bersalah sampai sekarang." selalu itu jawaban Aby kalau Dhiya protes. "Ini laporan minggu ini Bu." Dhiya memeriksa hasil laporan yang diberikan managernya, kemudian membubuhkan tanda tangan. "Terimakasih ya." "Sama sama Bu, saya permisi." "Apa semua baik baik saja?" tanya Aby. "Iya , alhamdulillah restoran semakin ramai.Aku mau lihat dapur dulu bee." "Aku temani ya?" "Kamu di sini saja. Aku cuma sebentar." Selesai mengecek persediaan bahan dapur, Dhiya menuju ruangannya ingin mengajak Aby pulang. "Kita pulang sekarang bee." "Nggak pengen jalan jalan kemana gitu?" "Nggak, aku pengen pulang dan rebahan saja.Tapi..." Dhiya menghentikan ucapannya. "Tapi apa?" "Tapi ditemani kamu." Dhiya memasang wajah melas agar Aby mau menemaninya seharian ini. Ini juga heran dengan dirinya, semenjak hamil ia ingin selalu dekat dengan Aby. Mendengar permintaan istrinya, Aby tersenyum penuh arti. "Tidak usah berpikiran macam macam, aku hanya ingin ditemani tidur nggak lebih." "Aku tidak macam macam, hanya ingin satu macam saja." Aby meraih tubuh Dhiya dan mendudukkan dipangkuannya,ia mengusap perut yang masih rata itu. "Kira kira ia nanti laki laki apa perempuan ?" Dhiya mengendikkan bahunya karena ia sendiri juga tidak tahu. "Bee, kondisikan tanganmu." tangan Aby yang semula diperut bergerak naik sampai di dua squisi yang ukurannya bertambah semenjak pemilik miliknya hamil. "Dia agak besar sekarang, aku suka." "Bee, ayo pulang." Aby terkekeh dan menghentikan tangannya. "Iya sayang, kita lanjutkan di rumah saja ya." "Nggak ada!" Dhiya yang sedikit kesal, akhirnya keluar lebih dulu. "Kak Dhiya." "Raihan, kamu di sini?" ketika Dhiya hendak keluar restoran, ia bertemu dengan Raihan dan menghampirinya. "Hampir tiap hari aku ke sini, tapi baru kali ini bertemu Kak Dhiya." "Mulai sekarang aku akan jarang ke restoran Rai, tidak boleh sama suami." "Memang kenapa Kak?" "Istriku sedang hamil, jadi ia tidak boleh lelah." tiba tiba Aby datang dan duduk disamping Dhiya. "Wah, selamat ya Kak. Sudah berapa bulan?" "Baru lima minggu. Kamu pesan saja, kami mau pulang." "Ya..padahal aku ingin sekali bisa ngobrol lebih lama dengan Kakak. Temani aku makan ya Kak." Aby menatap tajam ke arah Raihan. Raihan yang mendapat tatapan mematikan dari Aby hanya bisa pasrah, semoga Dhiya mau menemaninya makan. Entah mengapa,ia selalu ingin melihat Dhiya,ia begitu merindukan wanita didepannya saat ini. Bukan perasaan cinta terhadap lawan jenis, tapi seperti rasa sayang sebagai saudara. "Iya baiklah, kami akan menemanimu makan." "Hon!" Aby ingin protes tapi tidak jadi begitu mendengar kata kata Dhiya. "Yang tadi mau dilanjut apa tidak?" "Tentu saja." Aby tersenyum penuh kebahagiaan,ia tidak sabar ingin segera pulang. Raihan yang tidak faham dengan pembicaraan kedua orang dewasa itu, memilih untuk menikmati makanannya. "Kamu kuliah ambil jurusan apa Rai?" tanya Dhiya ingin tahu. "Dokter anak." jawab Raihan dengan singkat. "Berarti kamu suka anak anak?" Aby ikut menimpali pembicaraan dua orang yang menurutnya punya kemiripan ketika tersenyum. "Dipaksa Mama, jadi aku pilih dokter anak saja." "Andai tidak dipaksa Mamamu, kamu akan ambil jurusan apa?" "Aku pengen jadi chef, seperti Kak Dhiya." "His..aku bukan chef Rai." "Sama saja, sama sama pandai masak.Tadinya aku pengen belajar masak sama Kak Dhiya." "Tidak bisa, istriku tidak boleh capek." Aby langsung melayangkan protes. "Iya..iya, aku juga tahu Kak. Aku tunggu sampai Kak Dhiya lahiran." "Tetap tidak bisa, habis lahiran istriku akan sibuk ngurus bayi kami." "HUh..dasar suami posesif. Kak Dhiya saja tidak bilang apa apa." Raihan memanyunkan bibirnya. "Kamu kalau seperti itu sangat mirip dengan Sakhiy Rai." ucap Dhiya karena ingat bibir Sakhiy kalau lagi manyun. "Sakhiy siapa Kak?" "Anak pertama kami." "Masa sih? Aku penasaran, jadi pengen ketemu." "Main saja ke rumah, kalau nggak sibuk." "Memang suami Kak Dhiya menngizinkan aku mai ke rumah?" Raihan melirik Aby yang membuang mukanya dengan kesal. Dhiya tersenyum, dan mengelus lengan Aby. "Boleh kan bee?" Dhiya tersenyum semanis mungkin agar Aby membolehkan Raihan mai ke rumahnya. Entah mengapa, ia merasakan ada perasaan aneh, seperti ikatan batin dengan Raihan. Padahal, ia selama ini ia selalu menjaga jarak dengan laki laki. "Baiklah, tapi boleh main ke rumah kalau ada ayah atau aku di rumah." Raihan bersorak dalam hati. "Yei...teimakasih Kak. Kak Dhiya, maukah Kakak menganggapku adik?" "Bukannya kamu sudah punya kakak perempuan?" Raihan menghela nafas, wajahnya berubah muram. "Punya, tapi ia tak pernah menganggapku adik. Aku seperti orang asing saja, apalagi semenjak ia kuliah di luar negeri. Mama juga, ia hanya memperhatikan dan mendengarkan Raina. Mama tak pernah mau tahu apa yang aku inginkan, semua harus sesuai keinginannya." Aby menepuk pundaak Raihan, ia faham apa yang dirasakan remaja disampingnya. "Anggap saja istriku ini kakak perempuanmu, tapi ingat satu hal." "Apa?" "Tidak ada sentuhan fisik, karena bagaimanapun juga kalian bukan mahram." "Iya, aku juga tahu." Raihan tersenyum senang, karena ia sangat merindukan mempunyai saudari yang menganggapnya ada. Dhiya pun juga tersenyum , dalam hati ia sangat bersyukur, karena selama hidupnya ia tidak pernah kekurangan kasih sayang dari orang orang terdekat. Mempunyai kakak laki laki, tidak membuat Dhiya kekurangan kasih sayang seorang kakak. Gilang sangat menyayangi juga perhatian kepadanya.


__ADS_2